Kata untuk melukiskannya, belum aku temukan
Malam itu pukul delapan malam ketika aku sudah mulai bersiap menyusup dibalik bed cover biru tebal milikku. Udara malam itu lumayan dingin kurasakan di tubuhku yang memang agak meriang sejak tadi sore. Ditambah suara yang sudah setengah hilang dari pita suara, menambah kuat niat untuk segera tidur cepat malam ini.
Sampai pada akhirnya, handphone ku berbunyi. Telepon dari CC.
Walaupun sebenernya aku agak susah buat ngomong dengan suaraku yang begitu serak, toh akhirnya aku tetep angkat telepon itu, entah kenapa.
Isma: "hai, ada apa?"
CC: "ke Banyuwangi yuk, Ma"
Isma: "kapan?"
CC: "malam ini."
Tanpa mikir panjang
Isma: "Yuk, aku packing sekarang."
Entah apa yang terpikir di benak kami waktu itu. Sedang kami juga ngga sedang jadi buronan kota hingga harus runaway sampe ke Banyuwangi. Apalagi jarak versi google maps Malang-Banyuwangi tak kurang dari 270 KM. Hal apa yang mendorong kami buat malam-malam mendadak berangkat ke Banyuwangi belum bisa kujelaskan dengan masuk akal.
Setengah 10 malam, mobil CC sudah terparkir di halaman rumah bersama si Xenia merah maroonnya. Di dalamnya sudah menunggu Mbak Wiwil dan Mas Impron yang siap bergantian menyetir dalam land trip kali ini.
Setelah berbelanja snack untuk persiapan melek sepagian, mobil kami mulai melaju di jalanan berkelok-kelok diujung timur kota Malang menuju Lumajang. Meninggalkan sejenak rutinitas kota yang menjemukan. Entah kenapa aku merasa badanku seketika sehat, mungkin aku memang sedang benar-benar butuh liburan.
Yang jelas, aku sudah ngga menghitung lagi berapa kali aku melek-bangun dalam perjalanan ini. Malam bergulir lambat, seolah menetes. Karena kondisiku yang memang ngga begitu fit, tim memperbolehkanku untuk tidak menyetir malam itu, malah dibolehin beberapa kali tidur. Walaupun begitu, rasanya aku sudah eneg, karena saat aku melek yang aku lihat hanya aspal hitam tanpa ujung. Beberapa kali melirik handphone CC yang difungsikan sebagai GPS, sekedar mencari tahu berapa KM Left mendekati tujuan kita.
Tujuan?
Memang kita mau kemana ya
Itu juga sebenernya kami belum bener-bener tahu. Berdasarkan rekomendasi dan stalking galeri foto facebook temen, goal land trip kali ini adalah Tabuhan Island. Sebuah pantai kecil tak berpenghuni di Selat Bali. Lalu darimana dan dengan apa kami menuju kesana? Kamipun nggak tahu. Yang penting nyampe dulu di tempat yang paling dekat dengan Selat Bali, selanjutnya mari bertanya pada local society.
Tepat pukul 04.30, hutan Pantura lepas kami lewati. Sadar akan waktu Subuh, maklum kami kan golongan anak sholeh, kami segera mencari masjid untuk sholat. Tapi celakanya, di jam itu aku sedang lelap-lelapnya tidur dan setan sudah bener-bener berhasil menggelayuti kelopak mataku dengan begitu kuatnya. Akupun absen sholat subuh di jam itu, toh biasanya aku sholat subuh setengah enam pagi, pikirku waktu itu. Nanti sajalah di masjid berikutnya.
Aku baru benar-benar bisa melek ketika tim mulai membuat kegaduhan bahwa mereka melihat air laut di kiri jalan. Lalu mulai bertanya-tanya bagaimana teknis untuk sampai ke Tabugan. Nggak tahu mesti mencari local society kemana, aku menelepon Shodiqin, temenku yang asli Banyuwangi dan sudah pernah mbolang ke Tabuhan.
Bisa dari Pantai Bangsring atau Watudodol, Ujarnya waktu itu.
Oke, Mas Impron langsung mengarahkan kemudi menuju pantai Watudodol. Menuju? Mungkin kata yang lebih pas adalah mencari pantai Watudodol.
Disini semua adalah pantai, karena ketika kami membuka jendela mobil dan menoleh ke arah kiri, kami sudah bisa merasakan bau khas air laut dibawa angin. Tapi untungnya, pantai Watudodol bukan tanpa tanda apa-apa, kami langsung bersorak ketika melihat patung ini
Setelah memarkir kendaraan, kami segera masuk ke deretan warung-warung pinggir jalan yang sekaligus menghiasi bibir patai Watudodol. CC, Mbak Wiwil dan Mas Impron langsung memesan soto ayam, sedang aku? Masih celingukan mencari musholla. Saat itu pukul 05.05 pagi, tapi langit sudah menyala teang pertanda sang surya sudah akan mengintip sedikit demi sedikit dari dalam horison bumi. Tak menunggu lama, aku sambar kunci mobil itu dan aku pergi mencari masjid terdekat.
Sekedar cerita dibuang sayang. Aku ketemu masjid satu kilo meter melewati Pantai Watudodol. Masjid ini berada tepat diseberang Selat Bali. Masih pukul 05.15, tapi langit makin cerah layaknya tertawa padaku yang berlarian mengambil wudlu dengan cepat, memakai mukena dengan cepat, dan aku memulai sholatku. Samar kudengar seseorang sedang menyapu, menandakan saat itu hari sudah pantas disebut 'siang'.
Beberapa menit berada di toilet, aku hendak kembali ke Watudodol. Dan ketika aku akan membuka pintu mobil, mataku menangkap sesuatu yang mistis di seberang sana. Air laut dihadapanku menyala merah, matahari seolah muncul sangat perlahan dari kedalaman laut. Sungguh indah. Tak ku dokumentasikan momen itu karena percuma, secanggihnya kamera ngga akan bisa menjelaskan keindahan sebenarnya yang tertangkap mata saat itu. Seketika aku merasa sangat iri dengan penduduk sekitar Pantai Watudodol, 'Jadi tiap hari mereka bisa melihat sunrise seperti ini hanya dengan membukan pintu rumah?"
Oh!
Tapi dibalik itu semua, alam menyadarkanku satu hal. Sholat subuhku selama ini hampir bebarengan dengan matahari terbit. Allah, maaf, aku nggak akan pernah sholat Subuh jam setengah enem lagi! Nggak akan!
Sesampainya di Watudodol, nelayan setempat menawari kapal untuk menyeberang ke Tabuhan dengan harga Rp. 650.000 per kapal. Hmm.. kata si Shodiqin sih seharusnya bisa lebih murah dari itu, apalagi kalau kita nawar pake bahasa madura atau osing. Tapi sayangnya, keempat dari kami semua jawa tulen.
Malas menawar, akhirnya kami putar haluan untuk mencari pantai Bangsring, pilihan kedua setelah Watudodol. Singkat cerita, karena kesalahan lokasi dari GPS ujungnya kita terdampar di sebuah pantai di tengah pemukiman warga. Bukan pantai Bangsring, tapi pantai Bengkak #LOL
Pantai ini benar-benar ada di tengah pemukiman warga. Karena ketika warga Bengkak membuka pintu belakang rumahnya, mereka bisa melihat Selat Bali dan beberapa kapal yang beraktifitas di atas air lautnya. Seperti punya pekarangan yang luas lengkap dengan kolam air yang super besar.
![]() |
| Pemandangan di halaman belakang penduduk Bengkak |
Ngga nyangka, ternyata kapal disini murahhh. Bahkan saking murahnya kita jadi bingung mau nawar berapa. Akhirnya, setelah semua perlengkapan sudah kami kantongi, kami siap membunuh rasa penasaran kami, rasa haus kami akan bau pasir pantai, kami berangkat menuju sebuah pulau kecil bernama Tabuhan.
Dan tahukah? Pemandangan seperti apa yang menemani di perjalanan?
![]() |
| Foto dari Panoramio.com |
Aku nggak pernah menyangka, di sebuah pagi, aku bisa sarapan air laut, ombak, angin semilir khas pantai, langit membiru lebay dan pemandangan seindah ini. Siapa yang tidak jatuh cinta? Pagi yang begitu menyenangkan. Aku nggak bosan memandang ke belakang kapal untuk menikmati perpaduan warna air laut dan hijaunya Merapi Banyuwangi. Dan berapa kalipun aku menoleh, sepertinya aku memang nggak akan bosan. Kami belum sampai di pantainya, kami masih di jalan, tapi rasanya... aku sudah terpuaskan. Capek dan lelah akibat perjalanan semalam sudah terlempar jauh dari atas kapal, dan karam di dasar lautan.
*Aku sempet motret sendiri, cuman karena goyang-goyang dan kebetulan fitur kamera ku memang pas-pas an, jadinya nggak bisa benar-benar mewakili lensa mataku saat itu. Foto dari Panoramio itu yang paling bisa mewakili.*
Tiga puluh menit berada diatas kapal nelayan diterpa ombak kanan kiri, pemandangan menakjubkan kini hadir di depan mata kami. Tempatnya memang tidak terlihat besar, tapi gradasi warnanya sungguh menakjubkan. Pasir putihnya mengapung indah ditengah laut biru, sebuah mercusuar di tengah pepohonan seolah mengucapkan selamat datang pada kapal kami yang semakin mendekat. Ahh, Banyuwangi. Lagi-lagi, aku dikejutkan oleh sebuah surga kecil di ujung Jawa itu.
Akhirnya, kaki kami menapaki pasir putih nan lembut itu. Tidak ada satupun manusia kecuali kami berempat, dan dua awak kapal. Tak cukup banyak kata yang dapat mewakili perasaanku waktu itu. Mungkin perlu mencari kosa kata baru untuk mengungkapkannya, perlu mencari bahasa baru untuk melukiskan keindahannya. Perlu mencari cara yang tidak biasa untuk mensyukurin nikmat alam yang udah Allah ciptakan.
Setelah sedikit pemanasan, kami mulai memasang rompi dan perlengkapan snorkeling yang kami sewa dari Pantai Bengkak.Memang haru sedikit ke tengah untuk mendapat point view yang benar-benar 'nendang'. Tak peduli berapa kali kebawa ombak, kami terus mencoba. Tak peduli berapa kali disengat ubur-ubur, toh kami tetap suka berenang diantaranya. Dan tak peduli berapa kali kacamata kami bocor dan mata perih kena air laut, toh kami tetap terus menyelam untuk memuaskan rasa haus kami akan kehidupan bawah laut.
Aku nggak menghitung berapa jam sudah kami bermain air, rasanya wajah sudah mulai panas. Kaki mulai agak-agak kaku kram. Kuambil jam tangan yang sengaja aku tinggal di tas dibawah sebuah pohon. Pukul 11 siang. Lalu kami beristirahat sejenak sebelum memulai tracking mengelilingi pulau.
Sepuluh duapuluh langkah, kami akhirnya bertemu dengan sisi laut yang menghadap ke pulau Menjangan dan pulau Bali, berdiri dengan kokoh layaknya benteng perang. Sepuluh dua puluh langkah lagi ke arah timut pantai, masalah klasik di alam Indonesia mulai kami temui. Bukan satu, bukan dua, tapi ratusan bahkan ribuan sampah berserakan sepanjang garis pantai. Ahh, kenapa di Pulau seindah ini masih ada kata sampah? Siapa yang tega?
Ah, kita.
Sekembalinya di pantai tempat kapal kami merapat, beberapa kapal mulai terlihat berdatangan. Sekitar 4 kapal waktu itu. Sudah lumayan puas, dan sudah mulai males karena mereka yang berdatangan, berteriak-beramai ramai dan berlarian di pantai itu. Positifku waktu itu mungkin mereka saking senangnya melihat pantai seindah ini, tapi kalo berteriak, rasanya... that's not cool man.
"Saya bawa ke tengah ya, di tengah karangnya lebih bagus"
Bapak-bapak navigator kapal berkata demikian pada kami menuruti permintaan cc yang ingin snorkeling agak ke tengah laut.
Karena air di tengah laut cukup deras, kami harus selalu berpegangan pada tali yang terlilit di badan kapal. Tenggelam sih engga, tapi kebawa sampe ke Pulau Bali, mungkin aja. Hehe
Satu satu dari kami, kecuali Mbak Wiwil yang mabuk laut, segera keluar dari kapal dan mulai masuk ke air. Setelah kulilitkan tali di kaki, kupasang kacamataku yang tanpa snorkel karena memang dari awal aku nggak begitu suka pakai snorkel sewaan. Segera ku tenggelamkan separo wajahku ke balik permukaan laut. Dan WOW!!!
Warna warni karang di tempat ini sangat menakjubkan. Aku seperti sedang berada di dunia lain. Bukan di bumi. Bisa kulihat beberapa ikan berenang teratur melewati sebagian kakiku. Rumput laut bergoyang-goyang karena beberapa ikan kecil berkejaran didalam rimbunannya. Dan banyak bulu babi dari ukuran kecil sampai besar terlihat sedang bersembunyi dibawah karang
Apa yang membuatku bisa melupakan tempat ini? Bermain di jernihnya air laut, terumbu karang yang berwarna-warni, langit membiru indah diatas sana, Merapi Banyuwangi yang berdiri dengan angkuhnya, dan pantai yang mengapung indah dibelakangku.
Dan yang lebih seru, di lepas pantai itu, tidak ada manusia lain selain kita. Dan setiap jengkal keindahan yang tertangkap mata saat itu, rasanya hanya jadi milik kita.
Tabuhan Island
kata untuk melukiskan keindahannya, belum aku temukan








Tidak ada komentar:
Posting Komentar