Unforgettable moment, unforgettable trip, unforgettable friends
none can be forgotten
| Savana Pos 2 |
| Pos Perijinan Pintu Sembalun |
Tepat pukul 09.30 Dimas mengajak kami semua berdoa. Semoga trip Rinjani 3 hari 2 malam ini diberi kelancaran. Semoga puncak Rinjani yang terlihat makin jelas dari tempat kami berdiri sekarang dapat segera kami ciumi. Amin
| Pintu masuk, perkebunan penduduk |
Setelah kira-kira lima belas menit berjalan menyusuri perkebunan penduduk, selamat datang di Savana super luas yang menyambut para pendaki gunung Rinjani. Kembali ke tempat seperti ini rasanya... seperti kembali ke rumah *Halah *lebay
Tapi bener, melihat semua hal yang ada di depan mataku saat ini. Savana, hutan hijau, langit biru, rumah-rumah penduduk yang samar terlihat dibawah sana, dan puncak Rinjani yang berdiri kokoh didepan mataku... Siapa yang tidak jatuh cinta? Ini benar-benar kombinasi yang khas. Lalu perasaan bahagia yang entah bagaimana aku melukiskannya. Kupandangi wajah temanku satu-satu.
Aku baru sadar, cinta itu sederhana. Jatuh cinta itu sangat sederhana
| Padang Savana yang menyambut para pendaki |
| Puncak Dewi Anjani terlihat jelas dari Savana |
Sumber air disini harus didatengin, mungkin sekitar 30 menit - 1 jam dari track. Lumayan jauh.
"Dimas, kira-kira nyampe Pelawangan jam berapa ya?" Tanya Mbak Meli yang udah mulai menyeret langkah kaki ketika kami sampai di Pos I.
"Kira-kira maghrib, Mbak."
Wow, jadi masih kira-kira 6 jam lagi. Batinku sambil melirik jam tangan. Tengah hari, pukul 12 siang.
"Tenang aja, nanti kita istirahat agak lama di Pos II. Setelah itu jalanannya ngga panas kok. Masuk hutan."
Denger kata "hutan" berasa denger kata "puncak". Setidaknya itu yang aku rasakan. Panasnya savana yang ngga berujung ini bikin kepala tiba-tiba pusing, khas orang kepanasan. Jujur aku mulai bosan dengan jalanan ini. Tapi seperti motto yang sukses membawaku ke Puncak Mahameru, setiap perjalanan akan indah jika kita menikmatinya.
Aku mulai mengedarkan pandangan ke sekeliling jalan. Aku sudah nggak peduli pantangan yang ku buat sendiri tentang "Kalau jalanan nanjak, jangan lihat keatas tanjakannya, makin capek, berasa kejar-kejaran dengan jalan". Akupun sadar, dibalik semua siksaan yang Rinjani buat untukku dan teman-temanku, view yang menemani perjalanan kami memang sungguh menakjubkan. Bukit-bukit hijau terbentang memanjang searah jalur pendakian. Awan putih seolah makin dekat walaupun seperti enggan memayungi perjalanan kami. Langit biru indah membuatku merasa bersalah sempat merindukan mendung di tengah cerah cerianya hari ini. Dan yang membuat perjalanan ini berbeda adalah, puncak Rinjani terlihat jelas. Seolah memanggil-manggil dan ikut menyemangati langkah kaki kami yang mulai berat. Ini bedanya. Mahameru tersembunyi dibalik pepohonan. Tapi Puncak Dewi Anjani terbentang megah seolah ada tulisan besar terbentang dipuncaknya "Ini tujuanmu."
| Pemandangan di Pos 2, Puncak Dewi Anjani |
| Tanjakan indah selepas Pos 2 |
Dimas benar, sekitar satu jam berjalan, jalanan mulai teduh. Kami memasuki hutan rimbun dan udara segar dapat kami hirup. Agak lega rasanya. Pelawangan sudah terlihat di depan sana. Jalanan makin nanjak dan berdebu tebal khas jalan tanah pada musim kemarau.Tanjakan ini benar-benar menyiksa fisik, kemiringannya hampir 45 derajat. Pelawangan memang sudah menanti diatas sana, dekat di mata tapi jauh di kaki.
"Ma, coba tengok belakang." Mbak Arfi yang berada kira-kira satu meter dibelakangku tiba-tiba memanggil.
Spontan aku, Mas Muchlis dan Dian berbalik badan. Keindahan sebuah senja di ketinggian serta merta menyihir kami berempat. Dari sini, kami dapat melihat langit mulai menyala jingga, lengkap dengan kapas putih terhampar luas.
"Kita udah diatas awan," Pekikku tertahan.
Angin berarak membuat sekawanan awan itu bergeser sedikit. Bak kapas putih tersibak angin, ada sesuatu dibawah sana. Mata kami memicing. Memastikan apa yang kami lihat bukanlah negeri lain. Bukan negeri dongeng yang menjelma nyata karena imajinasi kami.
"Itu air laut bukan?" Tanyaku entah kepada siapa. Ketiga temanku mengangguk.
Dibawah kapas putih itu, terbentang sebuah pemandangan biru. Samar terlihat perumahan penduduk lengkap dengan bibir pantai Lombok yang terkenal elok. Pasir putih nya terhampar indah walaupun tak seputih awan. Savana penuh siksaan dan bukit-bukit gundul yang mengundang sumpah serapah tadi, terlihat innocent seperti tak pernah berbuat salah. Ini surga. Lagi-lagi, tak sanggup kudokumentasikan momen ini karena kamera buatan manusia nggak akan bisa mewakili lensa yang diciptakan Tuhan, dan di insert ke dalam mata kita.
Tak akan puas memandanginya. Tapi kami masih ada misi lain. Kamipun berdiri, dan dengan berat langkah berbalik dan melanjutkan perjalanan. Pelawangan Sembalun semakin terlihat jelas dari ketinggian ini.
![]() |
| Tanjakan POS - Sembalun |
![]() |
| Credit to : Trekkingrinjani.blogspot.com, Subuh di Pelawangan Sembalun |
Satu jam kemudian, rombongan yang sempat terpisah sudah kembali berlumpul untuk menikmati makan malam di depan tenda. Karena teramat lelah, kami sepakat untuk memulai summit attack pada pukul 4 pagi, toh kami nggak dikejar waktu untuk sampai di puncak. Ngga ada gas beracun yang siap menerkam kami seperti Mahamaeru. Mungkin emang ngga bakal dapet sunrise di puncak, never mind. Kondisi tubuh juga perlu dijaga. Nggak ada klinik apalagi rumah sakit disini, kesehatanmu, harus kamu jaga sendiri. Lepas pukul sepuluh malam, kami sudah meringkuk dibalik sleepingbag. Tenda kami tak henti diterpa angin, desisnya pun belum bisa hilang dari pendengaranku. Angin benar-benar sangat ribut diluar sana.
Pukul 04.00 pagi tepat. Kami bersepuluh sudah berpakaian lengkap dengan sepatu. masker, dan tracking pole. Dimas memimpin berdoa sambil berpesan bahwa kami nggak boleh berpencar-pencar lagi seperti perjalanan ke Sembalun. Angin ribut seperti semalam masih kuat menerpa badan kami yang dibalut jaket tebal. Aku masih merasakan sesak itu, aku bernafas pendek-pendek dan sangat cepat walaupun jalanan pembuka summit attack itu berupa turunan. Hal sama persis yang aku rasakan di perjalanan Kalimati-Arcopodo. Kuatur nafasku dengan ritme pelan, dan tetap tenang. Jalanan mulai menanjak, tapi tak kurasakan lelah di kakiku. Hanya nafas yang terus memburu membuatku harus beberapa kali berhenti dan mengatur nafas sebentar sambil melihat ke atas langit untuk mencari semangat dari Venus yang terlihat menawan di kala fajar.
Jalanan menanjak kini sudah berubah menjadi jalanan pasir khas puncak gunung berapi. Tandus, pasir gembur dan membuat kaki melesak ke dalam tanah. Jalan ini sempit diantara tebing muat hanya dua sampai tiga orang saja sehingga kami harus bergantian melewatinya. Angin ribut tidak begitu kami rasakan disini karena kami berada ditengah tebing. Berjalan enam langkah, merosot dua langkah, nyungsep, merangkak, sudah menjadi style kami. Di depan sana, jalanan landai sudah terlihat. Tapi sama dengan sebelumnya, dekat di mata namun jauh di kaki.
| Awan dari track summit attack |
Lagi-lagi, bisa dibayangkan indah dan syahdunya sholat di tempat seperti ini? Ketika kau bangun dari sujud, yang kau lihat adalah pasir berkilauan dan angin sejuk menerpa wajahmu. Ketika kau menolehkan salam ke kanan, kau lihat awan putih berarak seolah siap di peluk, dan ketika kau menoleh ke arah kiri, bayang-bayang gugusan Gunung Rombongan menghiasi langit utara yang masih gelap.
Ah, tempat seperti ini memang selalu penuh decak kagum.
Setengah
jam kami beristirahat melepas lelah di tempat ini. Langit pagi ini
memang terlalu sayang untuk dilewatkan. Sengaja kami menunggu sunrise
disini karena toh kami tidak terburu waktu untuk sampai di puncak. Tak kami hiraukan angin dengan kecepatan tinggi yang membuat kami susah menjaga keseimbangan saat berdiri. Kami sama sekali tak ingin kehilangan moment ini.
Dan taraa... yang ditunggupun datang
| Sunrise di Rinjani |
Subhanallah... Maha Suci Allah yang menciptakan alam seisinya dengan segala keindahan. Matahari pagi itu, 16 Agustus 2015. Merah menyala tapi tak menyengat kulit sedikitpun. Cahayanya teduh seteduh hari itu #lebaaayy
| Track landai summit attack |
"Aku tunggu disini ya." Ujar Dimas yang berjalan paling depan. "Track nya jelas. itu puncaknya juga sudah kelihatan. Silahkan langsung lanjut."
"Nyampe puncak jam berapa aja gapapa kan?!" Tanyaku waktu itu.
"Nggak ada batasan. Tapi angin ribut ini arahnya melawan jalur pendakian, berat kalau mau lanjut. Boleh aja dicoba, tapi kalau jam 8 kalian belum nyampe puncak, mending turun aja. Kita ada agenda lain ke Segara anak. Kalau dibawa terlalu nyantai, kita ngga bisa nyampe Segara anak sesuai rencana."
"Oke!" Jawabku mantap.
| Puncak Dewi Anjani terlihat jelas dari track |
Oke, semangat. Aku juga nggak ngerasa capek yang kayak gimana banget kok. Nafasku yang tadi memburu sekarang juga sudah mulai teratur. Aku memang merasa sedikit mengantuk, tapi sama sekali nggak menyurutkan niatku untuk lagi-lagi melesak-lesak ke dalam tanah, nyungsep dan jumpalitan di track ini. Kuayunkan tracking pole ku seirama dengan kaki-kakiku yang mulai bergerak naik. Sambil menimmati pemandangan Rinjani yang selalu mengundang decak kagum ini.
Huff, Aku sudah sampai di 'puncak kecil' Rinjani. Gunung Barujari yang berada dj tengan Segara Anak makin terlihat jauh. Angin bertiup makin kencang disini, menerbangkan debu yang dihasilkan dari langkah berlarian turun para pendaki. Disini aku mulai merasa pemikiranku salah. Jalanan setelah ini berupa turunan, lalu dilanjutkan dengan tanjakan curam. Berjalan dijalanan landai dengan kondisi angin seperti ini aja rasanya setengah mati, gimana kalo di tanjakan 45 derajat seperti itu. Dari sini terlihat para pendaki banyak yang mulai mendaki tanjakan terakhir. Aku melirik arlojiku, pukul setengah delapan pagi.
"Mau lanjut naik, Mas?" Tanyaku pada Mas Lolok.
"Terserah, tapi pasti nggak jam delapan, mungkin lebih. Kalau lihat medan dan cuacanya, mungkin dua jam lagi sampai puncak." Jawabnya setengaj tak yakin.
| Pemandangan puncak kecil tempatku berdiri saat itu |
Tapi seketika itu kuingat pesan Dimas, 'jam delapan belum sampai puncak, kalian turun ya.'
Kita berangkat bareng-bareng dengan tujuan sama. Memang, ketiga teman kami sudah duluan jalan. Kami terpisah sejak di tanjakan pertama di tengah tebing. Mereka hebat, mereka kuat, tapi entah kenapa, aku tidak ingin seperti mereka. Keputusan keempat temanku untuk tidak melanjutkan ke puncak bukanlah tanpa alasan. Angin memang bertiup dengan sangat kencangnya. Butuh tenaga ekstra dan semangat berlipat ganda untuk melanjutkan ke puncak dengan kondisi seperti ini. Beberapa porter yang kami temui mengatakan, ini bukan hanya sekedar angin ribut, tapi badai.
Gambling juga rasanya. Ngeliat tanjakan terakhir untuk sampai puncak emang keliatan berat, tapi aku yakin aku masih bisa. Apalagi ngga ada batas waktu untuk sampai disana. Tapi aku nggak mau mengecewakan Dimas kalau sampai aku masih memaksa naik, karena itu akan membuat semua agenda tripnya berantakan. Kami berangkat rame-rame, dengan tujuan puncak dan Segara Anak. Kalau puncak nggak bisa mereka dapet, mana bisa aku membiarkan mereka nggak dapet Segara Anak hanya karena keegoisanku menaklukkan puncak sendirian?
Kulihat beberapa pendaki yang mulai melangkah turun.
"Udah nyampe puncak, Mas?" Tanya Mas Lolok.
"Baru naik dikit, Mas. Anginnya makin banter yang disono. Kami cuman naik dikit, ah udah mau turun aja, mau lanjut ke Segara Anak." Jawabnya ramah khas penduduk gunung.
Hatiku seperti diketok palu. Aku menarik nafas panjang. "Yaudah, Mas. Kita turun aja. Cuaca sepertinya nggak memungkinkan kita bisa jalan cepet. Kasian yang lain nungguin kita. Nanti kapan-kapan, pasti bisa kesini lagi." Ucapku sok dewasa.
Mas Lolok mengiyakan. Ada raut muka kecewa di wajahnya yang kotor karena debu jalan. Kita berfoto sebentar ditempat ini untuk sekedar mengobati kecewa. Sambil menikmati view Segara Anak dari ketinggian. Ahh, dari sinipun, Segara Anak sudah terlihat sangat menawan. Dengan pemandangan Gunung Barujari yang begitu angkuh ditengah airnya yang terlihat berwarna tosca menyala dari sini.
Seketika aku tersenyum. "Yuk turun. Kita akan kesana setelah ini."
| Foto berlatar Segara Anak dan gunung Barujari |
Tak sampai setengah jam, aku sudah bisa melihat Mbak Meli sedang sibuk berfoto selfie dengan barisan edelweis di sepanjang jalur pendakian. Walaupun masih terbersit perasaan kecewa di benakku, semuanya menghilang ketika akhirnya aku bertemu wajah teman-teman yang menunggu di tempat ini. Bagaimana jadinya kalau mereka kelamaan menunggu.
Senyumku kembali mengembang. Aku mulai membatin, 'Aku membuat keputusan yang tepat. Kekecewaan, kita sendiri yang bisa manage. Puncak bukanlah satu-satunya tujuan. Apa jadinya merayakan kebahagiaan sendirian?'
See you Rinjani, kalau Allah masih memberi kesempatan, suatu saat akan kuciumi Puncak itu.


