HIS Domestic Holiday - Blogger Competition

Jumat, 18 September 2015

Top of Rinjani, Taklukkan keegoisanmu disini

Independence day trip
Unforgettable moment, unforgettable trip, unforgettable friends
none can be forgotten

Savana Pos 2
Setelah cek sekali lagi barang-barang yang ada di dalam keril, kami bersantai di gazebo pinggir jalan sambil menunggu pick up yang akan membawa kami ke Sembalun. Pos perijinan pendakian Gunung Rinjani. Dari sini puncak Rinjani sudah terlihat sangat jelas. Sejelas awan pagi itu, sejelas birunya langit diatas Desa Senaru. Desa terakhir tempat Dimas menyewa rumah penduduk sebagai homestay untuk kami bersembilan.

Pos Perijinan Pintu Sembalun



Arlojiku menunjukkan pukul sembilan lebih sedikit saat kami sampai di Sembalun. Sambil menunggu Dimas yang mengurus administrasi pendakian, kami bisa membeli aneka minuman manis dan air mineral yang dijual murah di dekat pintu masuk TNGR. Lumayan rame, walaupun tidak seramai TNBTS. Turis asing banyak terlihat disini. Beberapa sudah berjalan masuk ke arah perkebunan penduduk yang merupakan jalan masuk TNGR, bersama dengan guide dan porternya.

Tepat pukul 09.30 Dimas mengajak kami semua berdoa. Semoga trip Rinjani 3 hari 2 malam ini diberi kelancaran. Semoga puncak Rinjani yang terlihat makin jelas dari tempat kami berdiri sekarang dapat segera kami ciumi. Amin



Pintu masuk, perkebunan penduduk

Setelah kira-kira lima belas menit berjalan menyusuri perkebunan penduduk, selamat datang di Savana super luas yang menyambut para pendaki gunung Rinjani. Kembali ke tempat seperti ini rasanya... seperti kembali ke rumah *Halah *lebay
Tapi bener, melihat semua hal yang ada di depan mataku saat ini. Savana, hutan hijau, langit biru, rumah-rumah penduduk yang samar terlihat dibawah sana, dan puncak Rinjani yang berdiri kokoh didepan mataku... Siapa yang tidak jatuh cinta? Ini benar-benar kombinasi yang khas. Lalu perasaan bahagia yang entah bagaimana aku melukiskannya. Kupandangi wajah temanku satu-satu.
Aku baru sadar, cinta itu sederhana. Jatuh cinta itu sangat sederhana




Padang Savana yang menyambut para pendaki
















Puncak Dewi Anjani terlihat jelas dari Savana
Tapi walaupun begitu. Setiap tempat punya sisi indah dan 'siksa' nya masing-masing. Rinjani sungguh berbeda dengan Semeru. Satu jam berjalan, kami sudah ngos-ngosan. Kami seperti dijemur ditengah Savana. Udara disini nggak dingin, angin di Savana ini nggak bertiup kencang seperti Oro-oro Ombo. Aku malah merasa badanku berkeringat, matahari dengan pongahnya seperti tertawa pada kami yang mulai sibuk mengatur nafas, mengelap keringat dan melihat ke belakang untuk sekedar memastikan seberapa jauh kami berjalan. Track Pos Perijinan ke Pos I memang minim tanjakan, tapi percayalah, jalanan landai di tengah panasnya Pulau Lombok juga cukup menyiksa. Apalagi kami harus berhemat air, karena disini sumber air nggak dilewatin seperti di Semeru *ah lagi-lagi ngebandinginnya ama Semeru :(
Sumber air disini harus didatengin, mungkin sekitar 30 menit - 1 jam dari track. Lumayan jauh.

"Dimas, kira-kira nyampe Pelawangan jam berapa ya?" Tanya Mbak Meli yang udah mulai menyeret langkah kaki ketika kami sampai di Pos I. 
"Kira-kira maghrib, Mbak."

Wow, jadi masih kira-kira 6 jam lagi. Batinku sambil melirik jam tangan. Tengah hari, pukul 12 siang.

"Tenang aja, nanti kita istirahat agak lama di Pos II. Setelah itu jalanannya ngga panas kok. Masuk hutan."

Denger kata "hutan" berasa denger kata "puncak". Setidaknya itu yang aku rasakan. Panasnya savana yang ngga berujung ini bikin kepala tiba-tiba pusing, khas orang kepanasan. Jujur aku mulai bosan dengan jalanan ini. Tapi seperti motto yang sukses membawaku ke Puncak Mahameru, setiap perjalanan akan indah jika kita menikmatinya.

Aku mulai mengedarkan pandangan ke sekeliling jalan. Aku sudah nggak peduli pantangan yang ku buat sendiri tentang "Kalau jalanan nanjak, jangan lihat keatas tanjakannya, makin capek, berasa kejar-kejaran dengan jalan". Akupun sadar, dibalik semua siksaan yang Rinjani buat untukku dan teman-temanku, view yang menemani perjalanan kami memang sungguh menakjubkan. Bukit-bukit hijau terbentang memanjang searah jalur pendakian. Awan putih seolah makin dekat walaupun seperti enggan memayungi perjalanan kami. Langit biru indah membuatku merasa bersalah sempat merindukan mendung di tengah cerah cerianya hari ini. Dan yang membuat perjalanan ini berbeda adalah, puncak Rinjani terlihat jelas. Seolah memanggil-manggil dan ikut menyemangati langkah kaki kami yang mulai berat. Ini bedanya. Mahameru tersembunyi dibalik pepohonan. Tapi Puncak Dewi Anjani terbentang megah seolah ada tulisan besar terbentang dipuncaknya "Ini tujuanmu."


Pemandangan di Pos 2, Puncak Dewi Anjani
Pukul dua siang lebih sedikit kami sampai di Pos II. Untuk mempersingkat waktu, kami hanya memasak energen untuk menambah tenaga. Perjalanan akan dilanjutkan pukul 3, jadi kami ada cukup waktu untuk sekedar menjamak ta'dhim sholat atau tidur sejenak. Savana luas, terbentang luas di hadapanku. Walaupun sungguh indah, tapi bukit-bukit gersang yang mengkilat diterpa sinar matahari membuatku tiba-tiba malas berjalan dan memanggang kepalaku sendiri ditengah terik. 

 
Tanjakan indah selepas Pos 2
Tapi pada akhirnya, komitmen haruslah tetap menjadi komitmen. Tepat ketika jarum arlojiku menunjukkan pukul 15.00, Dimas meminta kami segera prepare dan melanjutkan perjalanan. Dengan malas aku membenahi letak kerilku dan mulai menggendongnya. Mulai mencamkan baik-baik di kepalaku yang mulai panas, bahwa dalam tiga hari dalam hidupku ini akan lebih banyak kuhabiskan waktu untuk berjalan dan dipeluk keril berjam-jam. Tanjakan indah sudah menanti, tak ada pilihan lain, mari lewati.

Dimas benar, sekitar satu jam berjalan, jalanan mulai teduh. Kami memasuki hutan rimbun dan udara segar dapat kami hirup. Agak lega rasanya. Pelawangan sudah terlihat di depan sana. Jalanan makin nanjak dan berdebu tebal khas jalan tanah pada musim kemarau.Tanjakan ini benar-benar menyiksa fisik, kemiringannya hampir 45 derajat. Pelawangan memang sudah menanti diatas sana, dekat di mata tapi jauh di kaki.

"Ma, coba tengok belakang." Mbak Arfi yang berada kira-kira satu meter dibelakangku tiba-tiba memanggil.

Spontan aku, Mas Muchlis dan Dian berbalik badan. Keindahan sebuah senja di ketinggian serta merta menyihir kami berempat. Dari sini, kami dapat melihat langit mulai menyala jingga, lengkap dengan kapas putih terhampar luas.

"Kita udah diatas awan," Pekikku tertahan.

Hal itu juga yang membuat kami terdiam, dan tanpa sepatah kata kami sepakat untuk duduk, menikmati semilir angin senja dan view yang nggak tau kapan lagi dapat kami nikmati setelah ini. Tak ada percakapan apapun, hanya diam dan bermain dengan pikiran masing-masing. Tak ada komentar apapun, kami sama-sama tahu. Tak ada diskusi apapun, kami sama-sama sepakat. Hanya satu kata melukiskannya. Indah. 

Angin berarak membuat sekawanan awan itu bergeser sedikit. Bak kapas putih tersibak angin, ada sesuatu dibawah sana. Mata kami memicing. Memastikan apa yang kami lihat bukanlah negeri lain. Bukan negeri dongeng yang menjelma nyata karena imajinasi kami.

"Itu air laut bukan?" Tanyaku entah kepada siapa. Ketiga temanku mengangguk.

Dibawah kapas putih itu, terbentang sebuah pemandangan biru. Samar terlihat perumahan penduduk lengkap dengan bibir pantai Lombok yang terkenal elok. Pasir putih nya terhampar indah walaupun tak seputih awan. Savana penuh siksaan dan bukit-bukit gundul yang mengundang sumpah serapah tadi, terlihat innocent seperti tak pernah berbuat salah. Ini surga. Lagi-lagi, tak sanggup kudokumentasikan momen ini karena kamera buatan manusia nggak akan bisa mewakili lensa yang diciptakan Tuhan, dan di insert ke dalam mata kita.

Tak akan puas memandanginya. Tapi kami masih ada misi lain. Kamipun berdiri, dan dengan berat langkah berbalik dan melanjutkan perjalanan. Pelawangan Sembalun semakin terlihat jelas dari ketinggian ini.  


Tanjakan POS - Sembalun
Hari sudah mulai gelap saat aku bertemu dengan tanjakan terakhir. Pepohonan mulai banyak tumbuh, akar-akarnya cukup membantu pijakan kami yang sudah mulai sering terpelorot karena licinnya debu. Kemiringan seperti ini membuat kami agak susah menjaga keseimbangan. Suara angin di sela pepohonan sempat bikin merinding. Kami yang tadinya berkeringat kepanasan mendadak menggigil kedinginan. Kami baru sadar, angin sedang bertiup dengan sangat ributnya, terbukti dari suara-suara decitan pohon dan gemerisik gesekan daun yang begitu kerasnya. Segera kupakai jaket dan sarung tangan. Masing-masing dari kami sudah terpasang headlamp, hari sudah benar-benar gelap. Masalah lama kuhadapi kembali. Nafasku makin sesak, seperti benar-benar sedang berebut oksigen dengan teman-teman batang pohon di kanan kiriku.


Credit to : Trekkingrinjani.blogspot.com, Subuh di Pelawangan Sembalun
Tepat pada pukul delapan malam, ku jejakkan kakiku di tempat bernama Pelawangan Sembalun. Lampu-lampu tenda menyala warna warni mengikuti warna tendanya. Menciptakan kelap kelip tersendiri. Beberapa pendaki nampak berkeliling dan bergerombol mendekati api unggun besar yang nampak susah payah mempertahankan nyala apinya ditengah terpaan angin ribut yang seolah tanpa henti. Tempat ini gundul, tanpa pepohonan. Berbentuk seperti jalan setapak di puncak gunung yang hanya bisa ditempati satu tenda di tiap barisannya. Angin kencang segera menerpa tubuhku yang mulai kedinginan karena tanpa kaos kaki, tapi tak membuatku ingin cepat-cepat masuk tenda karena langit malam terlalu indah untuk segera ditinggalkan. Satu hal yang selalu membuatku galau di gunung. Langit malamnya bagus, bintangnya keren, semua kelihatan jelas dari yang paling kecil hingga yang paling besar. Tapi dinginnya udara mengharuskanku segera masuk tenda. Aku sepenuhnya sadar, Hipotermi itu sangat berbahaya. Seandainya bisa punya tenda transparan *berimajinasiitubolehkok

Satu jam kemudian, rombongan yang sempat terpisah sudah kembali berlumpul untuk menikmati makan malam di depan tenda. Karena teramat lelah, kami sepakat untuk memulai summit attack pada pukul 4 pagi, toh kami nggak dikejar waktu untuk sampai di puncak. Ngga ada gas beracun yang siap menerkam kami seperti Mahamaeru. Mungkin emang ngga bakal dapet sunrise di puncak, never mind. Kondisi tubuh juga perlu dijaga. Nggak ada klinik apalagi rumah sakit disini, kesehatanmu, harus kamu jaga sendiri. Lepas pukul sepuluh malam, kami sudah meringkuk dibalik sleepingbag. Tenda kami tak henti diterpa angin, desisnya pun belum bisa hilang dari pendengaranku. Angin benar-benar sangat ribut diluar sana.

Pukul 04.00 pagi tepat. Kami bersepuluh sudah berpakaian lengkap dengan sepatu. masker, dan tracking pole. Dimas memimpin berdoa sambil berpesan bahwa kami nggak boleh berpencar-pencar lagi seperti perjalanan ke Sembalun. Angin ribut seperti semalam masih kuat menerpa badan kami yang dibalut jaket tebal. Aku masih merasakan sesak itu, aku bernafas pendek-pendek dan sangat cepat walaupun jalanan pembuka summit attack itu berupa turunan. Hal sama persis yang aku rasakan di perjalanan Kalimati-Arcopodo. Kuatur nafasku dengan ritme pelan, dan tetap tenang. Jalanan mulai menanjak, tapi tak kurasakan lelah di kakiku. Hanya nafas yang terus memburu membuatku harus beberapa kali berhenti dan mengatur nafas sebentar sambil melihat ke atas langit untuk mencari semangat dari Venus yang terlihat menawan di kala fajar.

Jalanan menanjak kini sudah berubah menjadi jalanan pasir khas puncak gunung berapi. Tandus, pasir gembur dan membuat kaki melesak ke dalam tanah. Jalan ini sempit diantara tebing muat hanya dua sampai tiga orang saja sehingga kami harus bergantian melewatinya. Angin ribut tidak begitu kami rasakan disini karena kami berada ditengah tebing. Berjalan enam langkah, merosot dua langkah, nyungsep, merangkak, sudah menjadi style kami. Di depan sana, jalanan landai sudah terlihat. Tapi sama dengan sebelumnya, dekat di mata namun jauh di kaki. 


Awan dari track summit attack
Sudah fajar rupanya ketika kami sampai di jalan landai ini. Disini kami bisa merasakan angin ribut kembali menggoyang-goyangkan tubuh kami. Dari sini, kami sudah bisa melihat awan pagi. Langit timur menyala merah siap memunculkan sesuatu yang kami nanti-nantikan sebagai penghilang rasa dingin. Sebagai esensi penting tumbuhan untuk berfotosintesis sehingga aku tak perlu berebut oksigen dengan mereka yang sedang berfotorespirasi. Decak kagum tak hentinya terlontar dari mulut kami. Pukul 05.15 WITA. sudah masuk waktu Subuh.

Lagi-lagi, bisa dibayangkan indah dan syahdunya sholat di tempat seperti ini? Ketika kau bangun dari sujud, yang kau lihat adalah pasir berkilauan dan angin sejuk menerpa wajahmu. Ketika kau menolehkan salam ke kanan, kau lihat awan putih berarak seolah siap di peluk, dan ketika kau menoleh ke arah kiri, bayang-bayang gugusan Gunung Rombongan menghiasi langit utara yang masih gelap.


Ah, tempat seperti ini memang selalu penuh decak kagum.

Setengah jam kami beristirahat melepas lelah di tempat ini. Langit pagi ini memang terlalu sayang untuk dilewatkan. Sengaja kami menunggu sunrise disini karena toh kami tidak terburu waktu untuk sampai di puncak. Tak kami hiraukan angin dengan kecepatan tinggi yang membuat kami susah menjaga keseimbangan saat berdiri. Kami sama sekali tak ingin kehilangan moment ini.

Dan taraa... yang ditunggupun datang

Sunrise di Rinjani
Matahari menyembul dibalik kapas-kapas putih yang berarak teratur dipagi itu. Lagi-lagi, kami seperti dibius keindahan. 
Subhanallah... Maha Suci Allah yang menciptakan alam seisinya dengan segala keindahan. Matahari pagi itu, 16 Agustus 2015. Merah menyala tapi tak menyengat kulit sedikitpun. Cahayanya teduh seteduh hari itu #lebaaayy




Track landai summit attack
Kamipun melanjutkan langkah. Setengah jam berjalan, hari mulai terang dan kami dapat melihat sekeliling. Dan wow! tengok ke kanan, segara anak sudah membiru indah dibawah sana. Rinjani benar-benar penuh kejutan. Jalanan summit attack juga tidak separah Semeru. Puncak agung Dewi Anjani sudah terlihat jelas dari track ini.

"Aku tunggu disini ya." Ujar Dimas yang berjalan paling depan. "Track nya jelas. itu puncaknya juga sudah kelihatan. Silahkan langsung lanjut."
"Nyampe puncak jam berapa aja gapapa kan?!" Tanyaku waktu itu.
"Nggak ada batasan. Tapi angin ribut ini arahnya melawan jalur pendakian, berat kalau mau lanjut. Boleh aja dicoba, tapi kalau jam 8 kalian belum nyampe puncak, mending turun aja. Kita ada agenda lain ke Segara anak. Kalau dibawa terlalu nyantai, kita ngga bisa nyampe Segara anak sesuai rencana."
"Oke!" Jawabku mantap.

Puncak Dewi Anjani terlihat jelas dari track
Dari keenam orang, cuman aku dan satu orang lagi yang lanjut naik. Yang lain sepakat akan menunggu disini bersama Dimas. Track seperti ini bukan tanpa tantangan. Jalanan ini memang landai, tapi puncak keliatan masih jauh disana. Ditambah angin bertiup sangat kencang seolah membuatku berasa limbung. Arahnya memang berlawanan dengan track pendakian. Jadi bikin kita makin capek karena mesti ekstra tenaga untuk berjalan. Capeknya pun jadi ngga jauh beda dengan jalanan menanjak curam tapi jarak tak terlalu jauh. Aku melirik jam tanganku, sudah hampir jam 07.00 pagi. Artinya aku punya satu jam lagi untuk sampai di puncak.

Oke, semangat. Aku juga nggak ngerasa capek yang kayak gimana banget kok. Nafasku yang tadi memburu sekarang juga sudah mulai teratur. Aku memang merasa sedikit mengantuk, tapi sama sekali nggak menyurutkan niatku untuk lagi-lagi melesak-lesak ke dalam tanah, nyungsep dan jumpalitan di track ini. Kuayunkan tracking pole ku seirama dengan kaki-kakiku yang mulai bergerak naik. Sambil menimmati pemandangan Rinjani yang selalu mengundang decak kagum ini.

Huff, Aku sudah sampai di 'puncak kecil' Rinjani. Gunung Barujari yang berada dj tengan Segara Anak makin terlihat jauh. Angin bertiup makin kencang disini, menerbangkan debu yang dihasilkan dari langkah berlarian turun para pendaki. Disini aku mulai merasa pemikiranku salah. Jalanan setelah ini berupa turunan, lalu dilanjutkan dengan tanjakan curam. Berjalan dijalanan landai dengan kondisi angin seperti ini aja rasanya setengah mati, gimana kalo di tanjakan 45 derajat seperti itu. Dari sini terlihat para pendaki banyak yang mulai mendaki tanjakan terakhir. Aku melirik arlojiku, pukul setengah delapan pagi.

"Mau lanjut naik, Mas?" Tanyaku pada Mas Lolok.
"Terserah, tapi pasti nggak jam delapan, mungkin lebih. Kalau lihat medan dan cuacanya, mungkin dua jam lagi sampai puncak." Jawabnya setengaj tak yakin.


Pemandangan puncak kecil tempatku berdiri saat itu
Ingin rasanya menjawab, 'Yuk, lanjut jalan.' Semangatku sama sekali nggak berkurang.
Tapi seketika itu kuingat pesan Dimas, 'jam delapan belum sampai puncak, kalian turun ya.'

Kita berangkat bareng-bareng dengan tujuan sama. Memang, ketiga teman kami sudah duluan jalan. Kami terpisah sejak di tanjakan pertama di tengah tebing. Mereka hebat, mereka kuat, tapi entah kenapa, aku tidak ingin seperti mereka. Keputusan keempat temanku untuk tidak melanjutkan ke puncak bukanlah tanpa alasan. Angin memang bertiup dengan sangat kencangnya. Butuh tenaga ekstra dan semangat berlipat ganda untuk melanjutkan ke puncak dengan kondisi seperti ini. Beberapa porter yang kami temui mengatakan, ini bukan hanya sekedar angin ribut, tapi badai.

Gambling juga rasanya. Ngeliat tanjakan terakhir untuk sampai puncak emang keliatan berat, tapi aku yakin aku masih bisa. Apalagi ngga ada batas waktu untuk sampai disana. Tapi aku nggak mau mengecewakan Dimas kalau sampai aku masih memaksa naik, karena itu akan membuat semua agenda tripnya berantakan. Kami berangkat rame-rame, dengan tujuan puncak dan Segara Anak. Kalau puncak nggak bisa mereka dapet, mana bisa aku membiarkan mereka nggak dapet Segara Anak hanya karena keegoisanku menaklukkan puncak sendirian?

Kulihat beberapa pendaki yang mulai melangkah turun.

"Udah nyampe puncak, Mas?" Tanya Mas Lolok.
"Baru naik dikit, Mas. Anginnya makin banter yang disono. Kami cuman naik dikit, ah udah mau turun aja, mau lanjut ke Segara Anak." Jawabnya ramah khas penduduk gunung.

Hatiku seperti diketok palu. Aku menarik nafas panjang. "Yaudah, Mas. Kita turun aja. Cuaca sepertinya nggak memungkinkan kita bisa jalan cepet. Kasian yang lain nungguin kita. Nanti kapan-kapan, pasti bisa kesini lagi." Ucapku sok dewasa.

Mas Lolok mengiyakan. Ada raut muka kecewa di wajahnya yang kotor karena debu jalan. Kita berfoto sebentar ditempat ini untuk sekedar mengobati kecewa. Sambil menikmati view Segara Anak dari ketinggian. Ahh, dari sinipun, Segara Anak sudah terlihat sangat menawan. Dengan pemandangan Gunung Barujari yang begitu angkuh ditengah airnya yang terlihat berwarna tosca menyala dari sini.

Seketika aku tersenyum. "Yuk turun. Kita akan kesana setelah ini." 


Foto berlatar Segara Anak dan gunung Barujari







Tak sampai setengah jam, aku sudah bisa melihat Mbak Meli sedang sibuk berfoto selfie dengan barisan edelweis di sepanjang jalur pendakian. Walaupun masih terbersit perasaan kecewa di benakku, semuanya menghilang ketika akhirnya aku bertemu wajah teman-teman yang menunggu di tempat ini. Bagaimana jadinya kalau mereka kelamaan menunggu. 

Senyumku kembali mengembang. Aku mulai membatin, 'Aku membuat keputusan yang tepat. Kekecewaan, kita sendiri yang bisa manage. Puncak bukanlah satu-satunya tujuan. Apa jadinya merayakan kebahagiaan sendirian?'

See you Rinjani, kalau Allah masih memberi kesempatan, suatu saat akan kuciumi Puncak itu.












Sabtu, 12 September 2015

Rinjani, Sebuah Cerita Lain

Independence day trip
Unforgettable moment, unforgettable trip, unforgettable friends
none can be forgotten

Yep, sesuai judul tulisannya. Independence day trip. Maklumlah, orang-orang seperti kami, karyawan yang ngga bisa kapan aja ada waktu untuk mbolang. Mesti atur cuti secantik mungkin agar acara mbolang dapat berlangsung dengan penuh seksama dan tidak dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

14 Agustus 2015 - 18 Agustus2015
Aku sengaja ga ambil cuti lebaran demi untuk bisa ambil cuti di tanggal itu. Keren kan perjuanganku #halah

Lima hari. Yah, lumayanlah untuk mulai memikirkan, tempat-tempat apa yang pernah kepengen didatengin tapi ngga ada biaya karena dulu masih kuliah. Tempat-tempat yang mana yang dulu kepengen didatengin tapi nggak bisa karena kerjaan nggak semudah itu bisa ditinggal-tinggal.

Oke, pilihan kali ini, jatuh pada TNGR. Taman Nasional Gunung Rinjani, Lombok, NTB.

Aku mengamini acara bermain kali ini dengan ketiga temanku. Mbak Meli, Mbak Arfi dan Mas Lolok.

Pengen cari simple, liburan kali ini agak-agak eksklusif dari biasanya. Kami ikut Open Tripnya Dimas, seoarang mapala UNESA. Mahasiswa semester 8 jurusan manajemen yang telat lulus karena kebanyakan mbolang. Hihihi
Lagian, salah satu dari kita juga belum ada yang pernah ke Rinjani. Jarak bandara Lombok ke desa terakhir juga masih jauh, sekitar 4 jam dan kami nggak tahu apakah ada angkot untuk sampai disana. Jadilah kami berasa  jadi anak manja yang ngikut Dimas untuk diajak main naik gunung ke Rinjani. Akakakak

Yang biasanya cuman naik motor keujanan kepanasan, atau setir mobil sendiri sampe tengkuk kaku, kali ini kami sengaja beli tiket singa untuk sejam aja menelan kami dalam perutnya dan menurunkan kami di Bandara Lombok Praya, Mataram. Selain pertimbangan panjangnya perjalanan darat sehingga memangkas banyak hari cuti, kami juga harus atur stamina untuk bekal pendakian ke gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia itu.

Pukul 09.00 berangkat dari Malang, kami sampai Juanda pukul 11.15. Kami bertemu dengan Dian, anggota trip yang kebetulan flight nya sama. Layaknya teman lama, kami sudah cekikan kanan kiri waktu ketemu Dian. Bahkan kami sudah bisa berbagi Roti O seiris bersama manusia asing yang baru kami kenal kurang dari sejam itu. Pernah denger pepatah? "Kalo dia bisa berbagi makanan denganmu, tandanya kalian akan berteman baik."

Dimas sudah meneleponku bahwa dia sudah menunggu di bandara Lombok bersama dua orang dari Solo yang datang pagi-pagi di terminal Mataram. Flight kami masih pukul 13.00. Dan delay pula 20 menit karena cuaca buruk di atas pulau Bali. 

Pukul 16.00 WITA, kami sudah ketemu Dimas. Berjabat dan bertatap muka untuk pertama kalinya setelah selama ini hanya berhubungan via BBM di grup yang dia buat untuk mempertemukan kami bersembilan, kesembilan anggota trip yang akan jadi saudara selama lima hari empat malam ini. Sembilan orang berstatus 'dewasa' yang akan ada dalam pengawasan Dimas dan dua porternya.

Meskipun akan ada porter yang membawakan tenda dan makanan selama di gunung, kami tetep diharuskan membawa carrier dan barang-barang pribadi yang lainnya seperti sleeping bag, baju, cemilan, dan air untuk jalan. Akupun ngga percaya, ketika semua list wajib itu masuk carrier, dan aku timbang, beratnya udah 8 kilo aja. Sama dong sama kayak mau ke Semeru. Ahh...

"Nunggu 2 orang lagi ya. Mereka landing pukul 18.00." Kata Dimas waktu itu.

Kami pun mengangguk tanda setuju. Lagian mau ke kota juga jauh dari bandara. Nunggu 2 jam sambil tiduran dalam elf bersih dan nyaman yang udah di sewa Dimas, nggak masalah.

"Sambil nunggu, kenalan dulu yuk sama Mas Bajuri dan Mas Lilik. Biar nggak kaget, dua temen kita ini unik dan special." Ujar Dimas membuat kami berpandangan, bertanya-tanya apa maksudnya. "Dua temen kita ini tuna rungu dan tuna wicara."

Sempet terpikir dalam benakku, lalu bagaimana kita akan berkomunikasi? Gimana kalo mereka nggak ngerti kita ngomong apa? Gimana kalo nanti mereka jadi kayak nggak punya temen?

Sadar akan kebingungan kami, Dimas membagikan sticker tata cara berbicara pakai jari. Kami berlimapun antusias menyambut. Tepat ketika kami mulai mempaktekkannya, sang guru pun datang. Mas Bajuri dan Mas Lilik yang asli Solo memperkenalkan diri. Orangnya sungguh jauh dari perkiraanku. Orang yang kupikir pendiam, nggak begitu kenyataannya. Dengan gerak lincah tangannya, mereka mulai mengajari kami. Mengejakan nama kami. Membenarkan letak jari jemari kami. Seolah mereka tau kami bermaksud ngomong apa, walopun jari kami masih belepotan membentuk huruf-huruf isyarat. 

Dengan asyiknya mereka bercerita pengalaman selama mendaki gunung-gunung di Jawa. Gunung-gunung di Jawa? Yes, mereka sudah menaklukkan hampir semua di Gunung di Jawa. Seketika aku merasa terkagum-kagum. Orang dengan keterbatasan komunikasi seperti mereka, bagaimana cara meyakinkan masyarakat untuk menunjukkan jalan? bagaimana cara mereka meminta bantuan jika membutuhkan?

Ahh.. Seleksi alam berlaku untuk orang-orang yang gigih dan bertekad kuat. Nggak peduli dengan atau tanpa keterbatasan.
 

Tepat pukul 18.30, kami sudah berkumpul dengan kesembilan rombongan. Mas Muchlis dan Reynold sudah mulai nimbrung bersama kami di dalam elf dan mulai bercerita kesana kemari. Membunuh waktu empat jam ke depan menuju desa Senaru, tempat kami melepas lelah malam ini. Mengumpulkan tenaga sebagai bekal pendakian esok hari, 15 Agustus 2015.

Mau lanjut baca ceritanya? Klik dong