Semeru punya Ranu Kumbolo,
Maka Rinjani punya Segara Anak.
"Gila-gilaan banget ya anginnya." Mas Mukhlis masih belum rela mengalihkan pandangan dari arah Puncak Dewi Anjani. Dari sini, kami dapat melihat debu-debu berterbangan seiring dengan tiupan angin yang juga kerasa cukup kuat menggoyangkan pepohonan di Pelawangan Sembalun. Badai angin bulan Agustus yang membuat kita gagal muncak dan memilih untuk menikmati Segara Anak.
Meski begitu, nggak tampak raut sedih di muka kami. Segara Anak dan Gunung Barujari yang emang keliatan jelas dari track summit tadi memang worth it untuk harus segera dibikin guling-guling. Udah kebayang pas buka tenda, dan di depan kami ada danau super keren, super jernih dan super-super yang lain, lengkap dengan pemandangan sebuah gunung berapi kecil di tengah danau, dan barisan Gunung Rombongan mengitarinya.
Ah, apa ini surga?
"Udah selesai packing?" Kata Dimas memastikan persiapan kami. Memang agak molor dari waktu yang dijanjikan. Seharusnya kami sudah turun ke Segara Anak sebelum pukul 10 pagi, tapi pada kenyataannya, ada beberapa kejadian menggemaskan yang mengharuskan kami turun di jam 2 siang ini. "Sepertinya maghrib kita baru bisa sampe danau." Dimas melanjutkan.
Ah, maghrib kan jam enem sore. Jalan kaki empat jam mah ngga ada apa-apanya ketimbang penyiksaan savana dan hutan-hutan nggemesin kemarin harinya. Apalagi track summit super landai-landai kurang ajar yang barusan kami injek, iya landai, tapi panjang parah sampe ngga keliatan ujung jalannya. Nah, track yang sekarang udah jalanan menurun, cuman empat jam lagi. Ahh engga banget deh kalo sampe ngeluh. Biarin songong-songong dikit, emang udah waktunya songong kok. Kan penyiksaannya udah kemarinnya-APA?!
Sembalun Ini jalur pendakian bener ini?? Dimas ngga lagi bercanda kan?!
"Dimas, ngga lagi ngerjain kita kan?!"
Aarrgghh...
Kayak berasa lagi turun candi yak.
Ya iya sih turunan. Bener turunan. tapi ini jalanan ala-ala jaman batu gitu siapa yang bikin jalur sih?! ditambah lagi elevasi yang hampir 90 derajat gini, bikin pengen balik ke Pelawangan dan bobo manis disana.
"Kalo empat jam jalanannya begini, kayaknya aku mesti bongkar pasang kaki nanti di danau." Aku mulai nyinyir mengutuk jalan.
Nggak ada yang perlu diceritain lagi bagaimana rasanya berada disini. Sebel ngeliat jalanan yang isinya batu-batuan mulu. Udara panas yang jadi berasa panas banget karena ngga ada satupun pepohonan rimbun. Iya banget lho, ini gunung tapi kok panas. Masak iya geografis tanah Lombok yang emang bersuhu panas itu berlaku juga disini? Helloo.. ini gunung lho. Tinggi-tinggi sekali...
Vanash!!
Air yang menipis. Carrier ngga begitu berat yang jadi berasa ngeberat-beratin banget. Udah ini adalah kombinasi pas yang bikin pengen teriak kenceng-kenceng, "Ibuukk... pengen pulaaaaangg!!"
Aku sudah ngga ngitung lagi berapa kali plorotan di batu-batuan begini. Udah mulai berasa jadi manusia batu sampai akhirnya kami ketemu hutan perdu. Dengan jalanan yang terbuat dari tanah dan bukan batu, turunan landai dan pemandangan senja yang aduhai bikin mabok cinta. Langsung nggak kepengen pulang lagi. Ah, aku memang labil.
Pukul setengah enam sore WITA.
Aku bersama Mbak Meli, Mbak Arfi dan Mas Lolok terpisah dengan rombongan lain yang lebih dulu bareng porter. Sedang di belakangku, Dimas dan tiga orang lainnya masih belum keliatan.
Dengan alasan nungguin Dimas, jadilan kami berempat santai-santai dulu tidur-tiduran di rumput sambil ngeliatin pemandangan mahal, Senja di Gunung.
Sesuatu yang kami sebut sebagai, senja yang berkualitas.
"Segara Anak berapa lama lagi, Mas?" Tanya kami pada seorang pendaki yang berjalan berlawanan arah dengan kami.
"Ngga sampe sejam, Mas. Udah deket ini, jalanannya juga landai gini aja bisa dipake lari kok." Jawabnya ramah.
Membayangkan bisa segera cuci muka, cuci kaki dan cuci-cuci yang lain, kami bertiga urung nungguin Dimas dan langsung lari-larian di track. Aku sudah jijay ngeliatin tanganku yang udah ngga keliatan kulit, tanah kering dimana2. Di kaki apalagi. Kulitku udah mirip badak saking itemnya, dan mirip buaya saking tebelnya.
Tapi satu yang kami lupakan adalah,
Kami percaya dengan mulut manusia gunung!
"Ini udah hampir jam tujuh malem, gila apa ya sejam-sejam. Kalo ketemu lagi ama itu orang, udah aku sambit pake keril." Aku mulai nyinyir.
kami kompak jalan terus sambil manyun.
"Eh tunggu." Mbak Meli menghentikan langkah kami, "Aku denger suara air."
Segara Anak, team!
Tapi hari sudah terlalu malam untuk menikmati pemandangan danau. Cuman keliatan bayangan gelap gunung Barujari dan Gunung Rombongan yang mengitari danau. Tak lupa melihat ke atas langit, sebuah bulan menerangi camp area Segara Anak. Langit belum cukup gelap untuk memunculkan jelas ribuan bintang. Aku tau, bintangnya tetep ada di langit itu, mereka hanya butuh gelap untuk bersinar *elaa kek lagu ya.
Rinjani memang penuh kejutan.
"Nggak berendem air panas nih?" Aku bertanya pada the girls, dan spontan dijawab dengan gelengan kepala.
"Siapa tau di dalem air panasnya ada uler gede, namanya juga hutan sehutan-hutan ini. Lagian buat kesana mesti jalan dulu 30 menit, mau?" Kata Mbak Arfi.
Sumpah, bukan ular yang bikin aku langsung menyusup dibalik sleeping bag. Tapi denger kata 'jalan 30 menit' membuat nafsuku untuk mandi-mandi chantique di air panas hilang seketika. Berendam di air panasnya bisa minggu depan aja di Cangar. Naik motor, ndak pake jalan kaki.
"Bobo ajah." Jawabku mantap. Sangat mantap.
***
"Pagi, Rinjani!!!" Ucapku manis-manis sangat manis sambil kepalaku menyeruak keluar tenda. Udara segar khas subuh di gunung langsung tercium hidungku yang mancung. Meski mataku iritasi maksimal karena ulah debu-debuan di summit track kemarin, dia masih cukup hebat untuk membuatku seketika diam, terpaku dan terpana, menangkap sebuah pemandangan mahal di depan sana.
Langit subuh dan sisa bulan semalam, biru dan jernihnya Segara Anak, gagahnya jajaran Gunung Rombongan dan eksotisnya Gunung Barujari lengkap dengan sedikit kepulan asap di atasnya yang membuatnya makin menawan. Komposisi lengkap yang membuat aku langsung linglung dan lupa bahwa ini hanyalah dunia fana.
Kalo boleh bilang, sebenernya aku masih kepengen semalem lagi nginep disini. Masih belum keturutan ngerasain senja di tempat ini karena dateng kemaleman. Masih belum keturutan nungguin bintang-bintang lagi fashion show karena semalem terlalu capek. Tapi pada akhirnya, ngga semua keinginan sesuai dengan kenyataannya. Tour yang memang akan berakhir hari ini, dan tiket Lion Air yang udah kebeli, mana bisa di refund dari tempat kedap sinyal begini *tear* *sumpah, aku masih bisa itung-itungan untung rugi.
"Kalo kemarin kesininya turunan 90 derajat pake perosotan batu-batuan, baliknya gimana, Mas?" tanyaku pada Dimas yang masih menghabisan mie instan, sarapan kami pagi itu.
Dimas menjawab santai, "Ya dibalik aja, Mbak. Berarti tanjakan 90 derajat dan manjatin batu-batuan."
Oke, Dimas. Aku tau kamu emang kepingin jujur dan nggak PHP in seperi kebanyakan lelaki di luar sana. Tapi kamu mengucapkannya ringan seperti mengucapkan perkalian satu dikali satu samadengan satu. Percayalah, Dim. Aku udah kepengen nyebur di danau dan jadi ikan duyung saat itu juga.
"Mas dan Mbak nya udah mau balik nih?" Tiba-tiba seorang polisi hutan berseragam lengkap menghampiri kami.
"Iya, Pak. Kenapa?" Dimas langsung berdiri dan menjawab.
"Oh yaudah kalo gitu, Mas. Soalnya tempatnya mau dipake upacara tujuhbelasan." Jawab Bapak-bapak berkumis timis dengan senyumnya.
Aku langsung melirik jam tanganku. Iya, bener. Ini 17 Agustus. Kenapa bisa kelupaan ya? Wah, kenapa bisa gagal fokus gini ya? Wah, kayaknya Rinjani emang berpotensi bikin orang lupa diri dan lupa waktu.
Bapak berkumis timis berkata lagi, "Ayo kalau ngga keburu bisa ikut upacara ya."
Kamipun langsung koor. MAU!
Kami segera packing biar pas selesai upacara kami bisa langsung cabut. Nanana.. upacara bendera? Aku udah ngga pernah upacara lagi sejak lulus SMA. ah parahnya, semoga aku ngga lupa gimana caranya hormat sama bendera merah putih. Wekekek...
"Ditancepin disini aja, Pak." Aku memberi saran pada Bapak-bapak yang bingung mau nancepin tiang bendera dimana. "Kalo disitu cakep Pak di foto benderanya. Soalnya dapet background Gunung Barujari, dan ngga backlight pula."
Bapak kumis tipis langsung mengangguk. "Setuju. Mbak, kamu jadi dirigent-nya ya."
WAH! guweh? seumur-umur ngga pernah jadi dirigent. bisa apa ya aku? Tengsin juga kalo mau bilang nggabisa. Ah kepalang tanggung, kapan lagi.
Aku nyengir kuda dan mengangguk.
"Yuk, udah kesiangan. Udah molor banget nih." Dimas segera meminta kami mulai jalan karena hari ini kami akan langsung turun ke Desa Senaru. Kemungkinan nyampe sana antara jam 8-9 malem, bikin aku sentimen duluan. Nah ini jam 8, jadi 12 jam jalan dong. Ya Allah ya tuhan, kuatkan hambamu menghadapi cobaan ini.
*eh
"Wow!!! Kenapa ngga dari tadi kamu bawa kita kesini, Dim?" Mbak Meli teriak-teriak ke Dimas demi melihat danau dari sisi ini.
Memang ini top of view nya Segara Anak. Kalau dari tempat yang tadi aja udah mengundang ribuan decak kagum, maka dari sisi ini Segara Anak bisa mengundang perasaan kagum overdosis yang bisa berakibat pingsan di tempat. Jadi ati-ati untuk mengarahkan mata. Sebuah keindahan yang nggak pernah aku bayangin sebelumnya. Sebuah pemandangan yang membuat bumi ini indah tanpa perlu surga.
Pemandangan seperti ini nggak bisa diabadikan. Lensa mata ciptaan Tuhan nggak bisa disamain pake lensa buatan Nikon atau Canon. Hanya perlu dilihat, dinikmati, ucapkan Subhanallah, bersyukur atas nikmat yang Allah beri. Punya mata yang bisa menangkap semua keindahan ini dengan tanpa cela. Punya memori otak yang bertera-tera banyaknya untuk mengabadikan momen seindah ini.
***
Dimas benar, pada akhirnya kamipun mesti manjat-manjatin batuan berkemiringan 90 derajat ini untuk sampai di Pelawangan Senaru. Dan parahnya lagi, Pelawangan Senaru belum sama sekali terlihat dari sini. Cuman batu-batuan, dan hutan berkemiringan yang nggak jauh beda. Aku sudah malas bertanya masih sejauh apa, cuman perlu jalan, dan nikmati saja.
Tapi kami tidak malas. Ada sebuah surga di balik punggung kami. Yang membuat kami selalu ingin menoleh ke belakang dan bisa dipastikan berbulan-bulan menggalau karena gagal move on dari tempat ini.
Pemandangan itulah yang membuat kami jadi sering menoleh ke belakang dalam tiap kali ngos-ngosan dan butuh atur nafas dulu. Speechless... Aku bener-bener nggak nyangka ada danau seelok ini. Sejenak aku mikir apa aku sudah menembus ruang tiga dimensi dan terbawa ke dunia dongeng?
*Plak* aku menampar pipiku sendiri. S a k i t.
Danau Segara Anak berwarna tosca terlihat dari sini. Gradasi airnya terlihat berbatas tegas. Gunung Barujari yang masih sedikit demi sedikit memuntahkan awan menambah lengkap warna warni pemandangan di bawah sana. Tumbuhan hijau yang tumbuh di tepi danau membuat tempat ini benar-benar seperti di surga.
Mau di foto pake kamera DSLR, kamera sonep, kamera blekberi, samsul atau ipin, hasilnya tetep persis sama kayak jepretan fotografer top. Danau ini emang fotogenic. Pake standar apapun, tempat ini emang bisa dibilang surga. Secuil surga yang jatuh ke dunia.
Tempat ini emang persis kayak senyuman manis mantan diujung jalan sana. Bikin susah move on. Ah!
Tepat di jam 1 siang, setelah melewati tanjakan terakhir yang bikin kita mesti gelantungan di batu kayak kelelawar, kami sampai di Pelawangan Senaru. Nggak nyangka, dari sini, secuil surga dibawah sana masih terlihat jelas.
Kami nggak bisa lama istirahat. Tempat ini gundul tanpa pohon. Dan cuaca di Rinjani yang jauh dari kata dingin memaksa kami untuk segera turun sebelum gosong nganggur.
Bah! Untung aja ini turunan. Kalo ini tanjakan, udah bisa dipastikan aku akan ngecamp aja di Pos 3. Nggausah pake ke Rinjani-Rinjanian segala. Heran ya, kalo udah ngeliatin jalan bawaannya sentimen mulu. Mulut rasanya nggak bisa berenti nyinyir. Bibir rasanya nggak bisa berenti manyun. Aku nggak ngebayangin orang-orang yang berangkat lewat Senaru bakal menanjaki bukit-bukit batu yang gundul plonthos se-panas neraka ini.
Dan satu hal yang ngga bisa aku lupainpun terjadi.
"Ayo, Mbak. Kita udah ketinggalan jauh dari yang lain. Agak lari jalannya." Ujarku menyemangati Mbak Meli yang masih ada beberapa meter dibelakangku. Yang lain sudah aku minta duluan karena mesti ngejar porter buat ambil minum.
Tapi aku gagal jadi motivator. Mendengarku begitu, Mbak Meli yang emang agak kurang sehat tiba-tiba muntah. Phanique. Akupun mendadak labil dan meralat ucapanku, "Yaudah nggausah lari, pelan-pelan aja asal jangan keseringan berenti."
Di tempat segunung ini, ngga ada siapa-siapa, tanpa makanan, cuman air secukupnya dan coklat, apa yang bisa kulakukan kalo tiba-tiba Mbak Meli lemes dan pingsan. 'Oh Tuhan, jadikan aku manusia super'. Kira-kira begitulah yang ada dipikiranku.
Dasar udah rejeki anak sholihah, tiba-tiba ada rombongan pendaki yang menyapaku. Sepertinya mereka emang sengaja nungguin aku dan langsung nyapa."Kayaknya temennya sakit ya? Ini lho saya ada air anget, jahe sama madu."
"Wah, kebetulan sekali Mas. Boleh minta? Buat temen saya aja. " Kataku dengan riang gembiranya, berasa nemu Honda Jazz gratisan. "Temen-temen saya yang lain nungguin di Pos 3."
"Iya, emang sengaja saya tunggu untuk temennya kok." Jawabnya ramah. "Pos 3 masih sekitar 1 jam dari sini."
"Mbaakk!!! ini ada air anget sama jahe." Yang nggak lama setelah itu berhasil menyusul dan duduk di deketku, menyeruput jahe angetnya.
"Makasih banyak ya, Mas." Ucap kami berdua pada mereka yang akan segera pergi. Sambil nitip salam ke Dimas."Dia pake jaket ungu. Minta dia tunggu ya, Mas. Saya pelan-pelan." Pesanku.
Tapi ternyata Mbak Meli bukan cuman sakit. Tapi stress karena kondisi jalan yang belum keliatan ujungnya ini, membuatnya memuntahkan 'Honda Jazz' yang kita dapet dari Mas-mas baik tadi.
"Capek ya, Mbak? Istirahat dulu yuk." Aku mulai was-was ngeliatnya lemes gitu. "Sampean stress, coba tenang. Biar ngga mual lagi. Kalo udah kayak gini minum obatpun percuma, nanti kalo dimuntahi terus jadi lemes." Aku mulai mencoba ngember jadi motivator lagi. Yaudahlah, nggak penting mau nyampe Senaru jam berapa, yang penting jalan pelan-pelan. Sambil terus berharap ada laba-laba yang nggigit aku dan aku berubah jadi Spiderman.
Mbak Meli masih ngos-ngosan maksimal. Memaksaku mulai berpikiran tentang cardiac arrest yang bisa dan sangat mungkin menyerang orang yang kelelahan maksimal kayak begitu. Mana Oxycan ada di tas Dimas. Aku cepet-cepet membuang jauh kemungkinan itu. Bisa-bisa aku yang stress kalo mikirin cardiac arrest.
"Minum obat anti muntah ya." Kataku dan dengan nurutnya Mbak Meli meminum sebutir metochlopramid yang untungnya aku bawa di tasku. "Nanti kalo obatnya dimuntahin kudu di injeksi. Aku bawa Ranitidin inject." Kataku sambil was-was juga, udah lama nggak beginiin orang, masih bisa ngga ya meramal posisi pembuluh vena.
Berdalih ngilangin stress, aku lalu mendongeng demi menenangkannya dan menenangkan diriku sendiri. Dongeng apa? tentu saja dongeng si Kancil.
Eh, nggak kusangka, dongeng itu membuatnya ketawa-ketawa dan lantas ngajak jalan lagi.
"Pelan-pelan aja, Mbak." Kataku masih kuatir.
Dan What?!
Ternyata Pos 3 cuman sepuluh menit lamanya dari tempatku ndongeng. Temen-temenku berkumpul lengkap disini kecuali Mas Lilik, Mas Bajuri dan Mas Reynold yang udah duluan jalan. Emang sih mereka jalannya cepet-cepet banget kek setan.
Disambut sepiring nasi hangat plus sarden, dan teh anget yang langsung bikin aku inget bahwa sepuluh menit yang lalu aku sempet berdoa pengen digigit laba-laba. Dan ternyata sekarang, aku begitu bersyukurnya bukan karena aku udah jadi Spiderman, bukan. Aku bersyukur karena bisa ketemu muka-muka lusuh teman-temanku lagi.
Ah!! sekarang aku tau. Nggak perlu jadi manusia super untuk membuat manusia bisa menaklukkan ketinggian, dia cuma perlu teman-teman yang solid, yang asik, dan yang mampu membuat kita semangat hanya dengan melihat wajahnya.
***
"Mau lanjut Senaru, Mas?" Tanya seorang Mas-mas kepada kami dalam perjalanan dari Pos 3.
"Iya. Masnya?" Dian bertanya balik.
"Saya mau ngecamp Pos 2 dulu, Mas. Besok pagi baru turun." Jawab Mas-mas itu.
Kami langsung berpikir, 'Ngapain ngecamp Pos 2? Nganggur banget. Mending juga langsung turun ke Senaru. Bisa bobo bersih di rumah.' Kamipun nyengir dan terus berjalan.
Belakangan kami menemukan jawabannya bahwa yang NGANGGUR BANGET itu adalah kami! Pos 2 ke Senaru itu, masih gile bangeeett jauhnya. Masih ngelewatin Pos bayangan antara Pos 2 dan Pos 1 yang terkenal ada begitu-begitunya. Mana kita udah menjelang tengah malem lagi pas nyampe sini.
Dan belakangan aku tau, kalo ternyata Mbak Meli dan Dian sempat mencium bau-bauan wangi yang tidak biasa di tengah hutan pandan. Dan suara-suara yang, ah... Sudahlah.
Maka Rinjani punya Segara Anak.
| Segara Anak |
"Gila-gilaan banget ya anginnya." Mas Mukhlis masih belum rela mengalihkan pandangan dari arah Puncak Dewi Anjani. Dari sini, kami dapat melihat debu-debu berterbangan seiring dengan tiupan angin yang juga kerasa cukup kuat menggoyangkan pepohonan di Pelawangan Sembalun. Badai angin bulan Agustus yang membuat kita gagal muncak dan memilih untuk menikmati Segara Anak.
Meski begitu, nggak tampak raut sedih di muka kami. Segara Anak dan Gunung Barujari yang emang keliatan jelas dari track summit tadi memang worth it untuk harus segera dibikin guling-guling. Udah kebayang pas buka tenda, dan di depan kami ada danau super keren, super jernih dan super-super yang lain, lengkap dengan pemandangan sebuah gunung berapi kecil di tengah danau, dan barisan Gunung Rombongan mengitarinya.
Ah, apa ini surga?
"Udah selesai packing?" Kata Dimas memastikan persiapan kami. Memang agak molor dari waktu yang dijanjikan. Seharusnya kami sudah turun ke Segara Anak sebelum pukul 10 pagi, tapi pada kenyataannya, ada beberapa kejadian menggemaskan yang mengharuskan kami turun di jam 2 siang ini. "Sepertinya maghrib kita baru bisa sampe danau." Dimas melanjutkan.
Ah, maghrib kan jam enem sore. Jalan kaki empat jam mah ngga ada apa-apanya ketimbang penyiksaan savana dan hutan-hutan nggemesin kemarin harinya. Apalagi track summit super landai-landai kurang ajar yang barusan kami injek, iya landai, tapi panjang parah sampe ngga keliatan ujung jalannya. Nah, track yang sekarang udah jalanan menurun, cuman empat jam lagi. Ahh engga banget deh kalo sampe ngeluh. Biarin songong-songong dikit, emang udah waktunya songong kok. Kan penyiksaannya udah kemarinnya-APA?!
| Track ke Segara Anak via Pelawangan |
"Dimas, ngga lagi ngerjain kita kan?!"
Aarrgghh...
Kayak berasa lagi turun candi yak.
Ya iya sih turunan. Bener turunan. tapi ini jalanan ala-ala jaman batu gitu siapa yang bikin jalur sih?! ditambah lagi elevasi yang hampir 90 derajat gini, bikin pengen balik ke Pelawangan dan bobo manis disana.
"Kalo empat jam jalanannya begini, kayaknya aku mesti bongkar pasang kaki nanti di danau." Aku mulai nyinyir mengutuk jalan.
| Panasnya track batu-batu |
Vanash!!
Air yang menipis. Carrier ngga begitu berat yang jadi berasa ngeberat-beratin banget. Udah ini adalah kombinasi pas yang bikin pengen teriak kenceng-kenceng, "Ibuukk... pengen pulaaaaangg!!"
Aku sudah ngga ngitung lagi berapa kali plorotan di batu-batuan begini. Udah mulai berasa jadi manusia batu sampai akhirnya kami ketemu hutan perdu. Dengan jalanan yang terbuat dari tanah dan bukan batu, turunan landai dan pemandangan senja yang aduhai bikin mabok cinta. Langsung nggak kepengen pulang lagi. Ah, aku memang labil.
| Senja di jalur Pelawangan Sembalun - Segara Anak |
Pukul setengah enam sore WITA.
Aku bersama Mbak Meli, Mbak Arfi dan Mas Lolok terpisah dengan rombongan lain yang lebih dulu bareng porter. Sedang di belakangku, Dimas dan tiga orang lainnya masih belum keliatan.
Dengan alasan nungguin Dimas, jadilan kami berempat santai-santai dulu tidur-tiduran di rumput sambil ngeliatin pemandangan mahal, Senja di Gunung.
Sesuatu yang kami sebut sebagai, senja yang berkualitas.
"Segara Anak berapa lama lagi, Mas?" Tanya kami pada seorang pendaki yang berjalan berlawanan arah dengan kami.
"Ngga sampe sejam, Mas. Udah deket ini, jalanannya juga landai gini aja bisa dipake lari kok." Jawabnya ramah.
Membayangkan bisa segera cuci muka, cuci kaki dan cuci-cuci yang lain, kami bertiga urung nungguin Dimas dan langsung lari-larian di track. Aku sudah jijay ngeliatin tanganku yang udah ngga keliatan kulit, tanah kering dimana2. Di kaki apalagi. Kulitku udah mirip badak saking itemnya, dan mirip buaya saking tebelnya.
Tapi satu yang kami lupakan adalah,
Kami percaya dengan mulut manusia gunung!
"Ini udah hampir jam tujuh malem, gila apa ya sejam-sejam. Kalo ketemu lagi ama itu orang, udah aku sambit pake keril." Aku mulai nyinyir.
kami kompak jalan terus sambil manyun.
"Eh tunggu." Mbak Meli menghentikan langkah kami, "Aku denger suara air."
Segara Anak, team!
Tapi hari sudah terlalu malam untuk menikmati pemandangan danau. Cuman keliatan bayangan gelap gunung Barujari dan Gunung Rombongan yang mengitari danau. Tak lupa melihat ke atas langit, sebuah bulan menerangi camp area Segara Anak. Langit belum cukup gelap untuk memunculkan jelas ribuan bintang. Aku tau, bintangnya tetep ada di langit itu, mereka hanya butuh gelap untuk bersinar *elaa kek lagu ya.
Rinjani memang penuh kejutan.
"Nggak berendem air panas nih?" Aku bertanya pada the girls, dan spontan dijawab dengan gelengan kepala.
"Siapa tau di dalem air panasnya ada uler gede, namanya juga hutan sehutan-hutan ini. Lagian buat kesana mesti jalan dulu 30 menit, mau?" Kata Mbak Arfi.
Sumpah, bukan ular yang bikin aku langsung menyusup dibalik sleeping bag. Tapi denger kata 'jalan 30 menit' membuat nafsuku untuk mandi-mandi chantique di air panas hilang seketika. Berendam di air panasnya bisa minggu depan aja di Cangar. Naik motor, ndak pake jalan kaki.
"Bobo ajah." Jawabku mantap. Sangat mantap.
***
| Pagi di Segara Anak |
"Pagi, Rinjani!!!" Ucapku manis-manis sangat manis sambil kepalaku menyeruak keluar tenda. Udara segar khas subuh di gunung langsung tercium hidungku yang mancung. Meski mataku iritasi maksimal karena ulah debu-debuan di summit track kemarin, dia masih cukup hebat untuk membuatku seketika diam, terpaku dan terpana, menangkap sebuah pemandangan mahal di depan sana.
Langit subuh dan sisa bulan semalam, biru dan jernihnya Segara Anak, gagahnya jajaran Gunung Rombongan dan eksotisnya Gunung Barujari lengkap dengan sedikit kepulan asap di atasnya yang membuatnya makin menawan. Komposisi lengkap yang membuat aku langsung linglung dan lupa bahwa ini hanyalah dunia fana.
Kalo boleh bilang, sebenernya aku masih kepengen semalem lagi nginep disini. Masih belum keturutan ngerasain senja di tempat ini karena dateng kemaleman. Masih belum keturutan nungguin bintang-bintang lagi fashion show karena semalem terlalu capek. Tapi pada akhirnya, ngga semua keinginan sesuai dengan kenyataannya. Tour yang memang akan berakhir hari ini, dan tiket Lion Air yang udah kebeli, mana bisa di refund dari tempat kedap sinyal begini *tear* *sumpah, aku masih bisa itung-itungan untung rugi.
"Kalo kemarin kesininya turunan 90 derajat pake perosotan batu-batuan, baliknya gimana, Mas?" tanyaku pada Dimas yang masih menghabisan mie instan, sarapan kami pagi itu.
Dimas menjawab santai, "Ya dibalik aja, Mbak. Berarti tanjakan 90 derajat dan manjatin batu-batuan."
Oke, Dimas. Aku tau kamu emang kepingin jujur dan nggak PHP in seperi kebanyakan lelaki di luar sana. Tapi kamu mengucapkannya ringan seperti mengucapkan perkalian satu dikali satu samadengan satu. Percayalah, Dim. Aku udah kepengen nyebur di danau dan jadi ikan duyung saat itu juga.
"Mas dan Mbak nya udah mau balik nih?" Tiba-tiba seorang polisi hutan berseragam lengkap menghampiri kami.
"Iya, Pak. Kenapa?" Dimas langsung berdiri dan menjawab.
"Oh yaudah kalo gitu, Mas. Soalnya tempatnya mau dipake upacara tujuhbelasan." Jawab Bapak-bapak berkumis timis dengan senyumnya.
Aku langsung melirik jam tanganku. Iya, bener. Ini 17 Agustus. Kenapa bisa kelupaan ya? Wah, kenapa bisa gagal fokus gini ya? Wah, kayaknya Rinjani emang berpotensi bikin orang lupa diri dan lupa waktu.
Bapak berkumis timis berkata lagi, "Ayo kalau ngga keburu bisa ikut upacara ya."
Kamipun langsung koor. MAU!
Kami segera packing biar pas selesai upacara kami bisa langsung cabut. Nanana.. upacara bendera? Aku udah ngga pernah upacara lagi sejak lulus SMA. ah parahnya, semoga aku ngga lupa gimana caranya hormat sama bendera merah putih. Wekekek...
"Ditancepin disini aja, Pak." Aku memberi saran pada Bapak-bapak yang bingung mau nancepin tiang bendera dimana. "Kalo disitu cakep Pak di foto benderanya. Soalnya dapet background Gunung Barujari, dan ngga backlight pula."
Bapak kumis tipis langsung mengangguk. "Setuju. Mbak, kamu jadi dirigent-nya ya."
WAH! guweh? seumur-umur ngga pernah jadi dirigent. bisa apa ya aku? Tengsin juga kalo mau bilang nggabisa. Ah kepalang tanggung, kapan lagi.
Aku nyengir kuda dan mengangguk.
| Merah Putih di Segara Anak |
"Yuk, udah kesiangan. Udah molor banget nih." Dimas segera meminta kami mulai jalan karena hari ini kami akan langsung turun ke Desa Senaru. Kemungkinan nyampe sana antara jam 8-9 malem, bikin aku sentimen duluan. Nah ini jam 8, jadi 12 jam jalan dong. Ya Allah ya tuhan, kuatkan hambamu menghadapi cobaan ini.
*eh
| Segara Anak dan Gunung BaruJari |
| The TEAM! |
"Wow!!! Kenapa ngga dari tadi kamu bawa kita kesini, Dim?" Mbak Meli teriak-teriak ke Dimas demi melihat danau dari sisi ini.
Memang ini top of view nya Segara Anak. Kalau dari tempat yang tadi aja udah mengundang ribuan decak kagum, maka dari sisi ini Segara Anak bisa mengundang perasaan kagum overdosis yang bisa berakibat pingsan di tempat. Jadi ati-ati untuk mengarahkan mata. Sebuah keindahan yang nggak pernah aku bayangin sebelumnya. Sebuah pemandangan yang membuat bumi ini indah tanpa perlu surga.
Pemandangan seperti ini nggak bisa diabadikan. Lensa mata ciptaan Tuhan nggak bisa disamain pake lensa buatan Nikon atau Canon. Hanya perlu dilihat, dinikmati, ucapkan Subhanallah, bersyukur atas nikmat yang Allah beri. Punya mata yang bisa menangkap semua keindahan ini dengan tanpa cela. Punya memori otak yang bertera-tera banyaknya untuk mengabadikan momen seindah ini.
***
| Track Segara Anak - Pelawangan Senaru |
Tapi kami tidak malas. Ada sebuah surga di balik punggung kami. Yang membuat kami selalu ingin menoleh ke belakang dan bisa dipastikan berbulan-bulan menggalau karena gagal move on dari tempat ini.
| Surga? |
Pemandangan itulah yang membuat kami jadi sering menoleh ke belakang dalam tiap kali ngos-ngosan dan butuh atur nafas dulu. Speechless... Aku bener-bener nggak nyangka ada danau seelok ini. Sejenak aku mikir apa aku sudah menembus ruang tiga dimensi dan terbawa ke dunia dongeng?
*Plak* aku menampar pipiku sendiri. S a k i t.
Danau Segara Anak berwarna tosca terlihat dari sini. Gradasi airnya terlihat berbatas tegas. Gunung Barujari yang masih sedikit demi sedikit memuntahkan awan menambah lengkap warna warni pemandangan di bawah sana. Tumbuhan hijau yang tumbuh di tepi danau membuat tempat ini benar-benar seperti di surga.
Mau di foto pake kamera DSLR, kamera sonep, kamera blekberi, samsul atau ipin, hasilnya tetep persis sama kayak jepretan fotografer top. Danau ini emang fotogenic. Pake standar apapun, tempat ini emang bisa dibilang surga. Secuil surga yang jatuh ke dunia.
Tempat ini emang persis kayak senyuman manis mantan diujung jalan sana. Bikin susah move on. Ah!
| Segara Anak, dari Pelawangan Senaru |
Tepat di jam 1 siang, setelah melewati tanjakan terakhir yang bikin kita mesti gelantungan di batu kayak kelelawar, kami sampai di Pelawangan Senaru. Nggak nyangka, dari sini, secuil surga dibawah sana masih terlihat jelas.
Kami nggak bisa lama istirahat. Tempat ini gundul tanpa pohon. Dan cuaca di Rinjani yang jauh dari kata dingin memaksa kami untuk segera turun sebelum gosong nganggur.
Bah! Untung aja ini turunan. Kalo ini tanjakan, udah bisa dipastikan aku akan ngecamp aja di Pos 3. Nggausah pake ke Rinjani-Rinjanian segala. Heran ya, kalo udah ngeliatin jalan bawaannya sentimen mulu. Mulut rasanya nggak bisa berenti nyinyir. Bibir rasanya nggak bisa berenti manyun. Aku nggak ngebayangin orang-orang yang berangkat lewat Senaru bakal menanjaki bukit-bukit batu yang gundul plonthos se-panas neraka ini.
Dan satu hal yang ngga bisa aku lupainpun terjadi.
"Ayo, Mbak. Kita udah ketinggalan jauh dari yang lain. Agak lari jalannya." Ujarku menyemangati Mbak Meli yang masih ada beberapa meter dibelakangku. Yang lain sudah aku minta duluan karena mesti ngejar porter buat ambil minum.
Tapi aku gagal jadi motivator. Mendengarku begitu, Mbak Meli yang emang agak kurang sehat tiba-tiba muntah. Phanique. Akupun mendadak labil dan meralat ucapanku, "Yaudah nggausah lari, pelan-pelan aja asal jangan keseringan berenti."
Di tempat segunung ini, ngga ada siapa-siapa, tanpa makanan, cuman air secukupnya dan coklat, apa yang bisa kulakukan kalo tiba-tiba Mbak Meli lemes dan pingsan. 'Oh Tuhan, jadikan aku manusia super'. Kira-kira begitulah yang ada dipikiranku.
Dasar udah rejeki anak sholihah, tiba-tiba ada rombongan pendaki yang menyapaku. Sepertinya mereka emang sengaja nungguin aku dan langsung nyapa."Kayaknya temennya sakit ya? Ini lho saya ada air anget, jahe sama madu."
"Wah, kebetulan sekali Mas. Boleh minta? Buat temen saya aja. " Kataku dengan riang gembiranya, berasa nemu Honda Jazz gratisan. "Temen-temen saya yang lain nungguin di Pos 3."
"Iya, emang sengaja saya tunggu untuk temennya kok." Jawabnya ramah. "Pos 3 masih sekitar 1 jam dari sini."
"Mbaakk!!! ini ada air anget sama jahe." Yang nggak lama setelah itu berhasil menyusul dan duduk di deketku, menyeruput jahe angetnya.
"Makasih banyak ya, Mas." Ucap kami berdua pada mereka yang akan segera pergi. Sambil nitip salam ke Dimas."Dia pake jaket ungu. Minta dia tunggu ya, Mas. Saya pelan-pelan." Pesanku.
Tapi ternyata Mbak Meli bukan cuman sakit. Tapi stress karena kondisi jalan yang belum keliatan ujungnya ini, membuatnya memuntahkan 'Honda Jazz' yang kita dapet dari Mas-mas baik tadi.
"Capek ya, Mbak? Istirahat dulu yuk." Aku mulai was-was ngeliatnya lemes gitu. "Sampean stress, coba tenang. Biar ngga mual lagi. Kalo udah kayak gini minum obatpun percuma, nanti kalo dimuntahi terus jadi lemes." Aku mulai mencoba ngember jadi motivator lagi. Yaudahlah, nggak penting mau nyampe Senaru jam berapa, yang penting jalan pelan-pelan. Sambil terus berharap ada laba-laba yang nggigit aku dan aku berubah jadi Spiderman.
Mbak Meli masih ngos-ngosan maksimal. Memaksaku mulai berpikiran tentang cardiac arrest yang bisa dan sangat mungkin menyerang orang yang kelelahan maksimal kayak begitu. Mana Oxycan ada di tas Dimas. Aku cepet-cepet membuang jauh kemungkinan itu. Bisa-bisa aku yang stress kalo mikirin cardiac arrest.
"Minum obat anti muntah ya." Kataku dan dengan nurutnya Mbak Meli meminum sebutir metochlopramid yang untungnya aku bawa di tasku. "Nanti kalo obatnya dimuntahin kudu di injeksi. Aku bawa Ranitidin inject." Kataku sambil was-was juga, udah lama nggak beginiin orang, masih bisa ngga ya meramal posisi pembuluh vena.
Berdalih ngilangin stress, aku lalu mendongeng demi menenangkannya dan menenangkan diriku sendiri. Dongeng apa? tentu saja dongeng si Kancil.
Eh, nggak kusangka, dongeng itu membuatnya ketawa-ketawa dan lantas ngajak jalan lagi.
"Pelan-pelan aja, Mbak." Kataku masih kuatir.
Dan What?!
Ternyata Pos 3 cuman sepuluh menit lamanya dari tempatku ndongeng. Temen-temenku berkumpul lengkap disini kecuali Mas Lilik, Mas Bajuri dan Mas Reynold yang udah duluan jalan. Emang sih mereka jalannya cepet-cepet banget kek setan.
Disambut sepiring nasi hangat plus sarden, dan teh anget yang langsung bikin aku inget bahwa sepuluh menit yang lalu aku sempet berdoa pengen digigit laba-laba. Dan ternyata sekarang, aku begitu bersyukurnya bukan karena aku udah jadi Spiderman, bukan. Aku bersyukur karena bisa ketemu muka-muka lusuh teman-temanku lagi.
Ah!! sekarang aku tau. Nggak perlu jadi manusia super untuk membuat manusia bisa menaklukkan ketinggian, dia cuma perlu teman-teman yang solid, yang asik, dan yang mampu membuat kita semangat hanya dengan melihat wajahnya.
***
"Mau lanjut Senaru, Mas?" Tanya seorang Mas-mas kepada kami dalam perjalanan dari Pos 3.
"Iya. Masnya?" Dian bertanya balik.
"Saya mau ngecamp Pos 2 dulu, Mas. Besok pagi baru turun." Jawab Mas-mas itu.
Kami langsung berpikir, 'Ngapain ngecamp Pos 2? Nganggur banget. Mending juga langsung turun ke Senaru. Bisa bobo bersih di rumah.' Kamipun nyengir dan terus berjalan.
Belakangan kami menemukan jawabannya bahwa yang NGANGGUR BANGET itu adalah kami! Pos 2 ke Senaru itu, masih gile bangeeett jauhnya. Masih ngelewatin Pos bayangan antara Pos 2 dan Pos 1 yang terkenal ada begitu-begitunya. Mana kita udah menjelang tengah malem lagi pas nyampe sini.
"Hei, ada warung."
| Pintu Gerbang Senaru |
Mission accomplished. We reach Senaru at 10.04 PM.
"Abis ini kira-kira setengah jam jalan ya sampe ke desa, mobil kita nungguin disana." Dimas sudah berdiri siap berjalan lagi.
WHAT??!! DIMAAAAAASSSSS!!!!
















