HIS Domestic Holiday - Blogger Competition

Senin, 07 Maret 2016

Hai, Segara Anak (Mt. Rinjani 17 Agustus 2015)

Semeru punya Ranu Kumbolo,
Maka Rinjani punya Segara Anak.



Segara Anak

"Gila-gilaan banget ya anginnya." Mas Mukhlis masih belum rela mengalihkan pandangan dari arah Puncak Dewi Anjani. Dari sini, kami dapat melihat debu-debu berterbangan seiring dengan tiupan angin yang juga kerasa cukup kuat menggoyangkan pepohonan di Pelawangan Sembalun. Badai angin bulan Agustus yang membuat kita gagal muncak dan memilih untuk menikmati Segara Anak.

Meski begitu, nggak tampak raut sedih di muka kami. Segara Anak dan Gunung Barujari yang emang keliatan jelas dari track summit tadi memang worth it untuk harus segera dibikin guling-guling. Udah kebayang pas buka tenda, dan di depan kami ada danau super keren, super jernih dan super-super yang lain, lengkap dengan pemandangan sebuah gunung berapi kecil di tengah danau, dan barisan Gunung Rombongan mengitarinya.

Ah, apa ini surga?

"Udah selesai packing?" Kata Dimas memastikan persiapan kami. Memang agak molor dari waktu yang dijanjikan. Seharusnya kami sudah turun ke Segara Anak sebelum pukul 10 pagi, tapi pada kenyataannya, ada beberapa kejadian menggemaskan yang mengharuskan kami turun di jam 2 siang ini. "Sepertinya maghrib kita baru bisa sampe danau." Dimas melanjutkan.

Ah, maghrib kan jam enem sore. Jalan kaki empat jam mah ngga ada apa-apanya ketimbang penyiksaan savana dan hutan-hutan nggemesin kemarin harinya. Apalagi track summit super landai-landai kurang ajar yang barusan kami injek, iya landai, tapi panjang parah sampe ngga keliatan ujung jalannya. Nah, track yang sekarang udah jalanan menurun, cuman empat jam lagi. Ahh engga banget deh kalo sampe ngeluh. Biarin songong-songong dikit, emang udah waktunya songong kok. Kan penyiksaannya udah kemarinnya-APA?!


Track ke Segara Anak via Pelawangan
Sembalun Ini jalur pendakian bener ini?? Dimas ngga lagi bercanda kan?!

"Dimas, ngga lagi ngerjain kita kan?!"

Aarrgghh...

Kayak berasa lagi turun candi yak.

Ya iya sih turunan. Bener turunan. tapi ini jalanan ala-ala jaman batu gitu siapa yang bikin jalur sih?! ditambah lagi elevasi yang hampir 90 derajat gini, bikin pengen balik ke Pelawangan dan bobo manis disana.

"Kalo empat jam jalanannya begini, kayaknya aku mesti bongkar pasang kaki nanti di danau." Aku mulai nyinyir mengutuk jalan.


Panasnya track batu-batu
Nggak ada yang perlu diceritain lagi bagaimana rasanya berada disini. Sebel ngeliat jalanan yang isinya batu-batuan mulu. Udara panas yang jadi berasa panas banget karena ngga ada satupun pepohonan rimbun. Iya banget lho, ini gunung tapi kok panas. Masak iya geografis tanah Lombok yang emang bersuhu panas itu berlaku juga disini? Helloo.. ini gunung lho. Tinggi-tinggi sekali...

Vanash!!

Air yang menipis. Carrier ngga begitu berat yang jadi berasa ngeberat-beratin banget. Udah ini adalah kombinasi pas yang bikin pengen teriak kenceng-kenceng, "Ibuukk... pengen pulaaaaangg!!"

Aku sudah ngga ngitung lagi berapa kali plorotan di batu-batuan begini. Udah mulai berasa jadi manusia batu sampai akhirnya kami ketemu hutan perdu. Dengan jalanan yang terbuat dari tanah dan bukan batu, turunan landai dan pemandangan senja yang aduhai bikin mabok cinta. Langsung nggak kepengen pulang lagi. Ah, aku memang labil.

Senja di jalur Pelawangan Sembalun - Segara Anak

Pukul setengah enam sore WITA.

Aku bersama Mbak Meli, Mbak Arfi dan Mas Lolok terpisah dengan rombongan lain yang lebih dulu bareng porter. Sedang di belakangku, Dimas dan tiga orang lainnya masih belum keliatan.
Dengan alasan nungguin Dimas, jadilan kami berempat santai-santai dulu tidur-tiduran di rumput sambil ngeliatin pemandangan mahal, Senja di Gunung.

Sesuatu yang kami sebut sebagai, senja yang berkualitas.

"Segara Anak berapa lama lagi, Mas?" Tanya kami pada seorang pendaki yang berjalan berlawanan arah dengan kami.

"Ngga sampe sejam, Mas. Udah deket ini, jalanannya juga landai gini aja bisa dipake lari kok." Jawabnya ramah.

Membayangkan bisa segera cuci muka, cuci kaki dan cuci-cuci yang lain, kami bertiga urung nungguin Dimas dan langsung lari-larian di track. Aku sudah jijay ngeliatin tanganku yang udah ngga keliatan kulit, tanah kering dimana2. Di kaki apalagi. Kulitku udah mirip badak saking itemnya, dan mirip buaya saking tebelnya.

Tapi satu yang kami lupakan adalah,

Kami percaya dengan mulut manusia gunung!


"Ini udah hampir jam tujuh malem, gila apa ya sejam-sejam. Kalo ketemu lagi ama itu orang, udah aku sambit pake keril." Aku mulai nyinyir.

kami kompak jalan terus sambil manyun.

"Eh tunggu." Mbak Meli menghentikan langkah kami, "Aku denger suara air."

Segara Anak, team!

Tapi hari sudah terlalu malam untuk menikmati pemandangan danau. Cuman keliatan bayangan gelap gunung Barujari dan Gunung Rombongan yang mengitari danau. Tak lupa melihat ke atas langit, sebuah bulan menerangi camp area Segara Anak. Langit belum cukup gelap untuk memunculkan jelas ribuan bintang. Aku tau, bintangnya tetep ada di langit itu, mereka hanya butuh gelap untuk bersinar *elaa kek lagu ya.

Rinjani memang penuh kejutan.

"Nggak berendem air panas nih?" Aku bertanya pada the girls, dan spontan dijawab dengan gelengan kepala.

"Siapa tau di dalem air panasnya ada uler gede, namanya juga hutan sehutan-hutan ini. Lagian buat kesana mesti jalan dulu 30 menit, mau?" Kata Mbak Arfi.

Sumpah, bukan ular yang bikin aku langsung menyusup dibalik sleeping bag. Tapi denger kata 'jalan 30 menit' membuat nafsuku untuk mandi-mandi chantique di air panas hilang seketika. Berendam di air panasnya bisa minggu depan aja di Cangar. Naik motor, ndak pake jalan kaki.

"Bobo ajah." Jawabku mantap. Sangat mantap.

***

Pagi di Segara Anak

"Pagi, Rinjani!!!" Ucapku manis-manis sangat manis sambil kepalaku menyeruak keluar tenda. Udara segar khas subuh di gunung langsung tercium hidungku yang mancung. Meski mataku iritasi maksimal karena ulah debu-debuan di summit track kemarin, dia masih cukup hebat untuk membuatku seketika diam, terpaku dan terpana, menangkap sebuah pemandangan mahal di depan sana.

Langit subuh dan sisa bulan semalam, biru dan jernihnya Segara Anak, gagahnya jajaran Gunung Rombongan dan eksotisnya Gunung Barujari lengkap dengan sedikit kepulan asap di atasnya yang membuatnya makin menawan. Komposisi lengkap yang membuat aku langsung linglung dan lupa bahwa ini hanyalah dunia fana.

Kalo boleh bilang, sebenernya aku masih kepengen semalem lagi nginep disini. Masih belum keturutan ngerasain senja di tempat ini karena dateng kemaleman. Masih belum keturutan nungguin bintang-bintang lagi fashion show karena semalem terlalu capek. Tapi pada akhirnya, ngga semua keinginan sesuai dengan kenyataannya. Tour yang memang akan berakhir hari ini, dan tiket Lion Air yang udah kebeli, mana bisa di refund dari tempat kedap sinyal begini *tear* *sumpah, aku masih bisa itung-itungan untung rugi.

"Kalo kemarin kesininya turunan 90 derajat pake perosotan batu-batuan, baliknya gimana, Mas?" tanyaku pada Dimas yang masih menghabisan mie instan, sarapan kami pagi itu.

Dimas menjawab santai, "Ya dibalik aja, Mbak. Berarti tanjakan 90 derajat dan manjatin batu-batuan."

Oke, Dimas. Aku tau kamu emang kepingin jujur dan nggak PHP in seperi kebanyakan lelaki di luar sana. Tapi kamu mengucapkannya ringan seperti mengucapkan perkalian satu dikali satu samadengan satu. Percayalah, Dim. Aku udah kepengen nyebur di danau dan jadi ikan duyung saat itu juga.

"Mas dan Mbak nya udah mau balik nih?" Tiba-tiba seorang polisi hutan berseragam lengkap menghampiri kami.

"Iya, Pak. Kenapa?" Dimas langsung berdiri dan menjawab.

"Oh yaudah kalo gitu, Mas. Soalnya tempatnya mau dipake upacara tujuhbelasan." Jawab Bapak-bapak berkumis timis dengan senyumnya.

Aku langsung melirik jam tanganku. Iya, bener. Ini 17 Agustus. Kenapa bisa kelupaan ya? Wah, kenapa bisa gagal fokus gini ya? Wah, kayaknya Rinjani emang berpotensi bikin orang lupa diri dan lupa waktu.

Bapak berkumis timis berkata lagi, "Ayo kalau ngga keburu bisa ikut upacara ya."

Kamipun langsung koor. MAU!

Kami segera packing biar pas selesai upacara kami bisa langsung cabut. Nanana.. upacara bendera? Aku udah ngga pernah upacara lagi sejak lulus SMA. ah parahnya, semoga aku ngga lupa gimana caranya hormat sama bendera merah putih. Wekekek...

"Ditancepin disini aja, Pak." Aku memberi saran pada Bapak-bapak yang bingung mau nancepin tiang bendera dimana. "Kalo disitu cakep Pak di foto benderanya. Soalnya dapet background Gunung Barujari, dan ngga backlight pula."

Bapak kumis tipis langsung mengangguk. "Setuju. Mbak, kamu jadi dirigent-nya ya."

WAH! guweh? seumur-umur ngga pernah jadi dirigent. bisa apa ya aku? Tengsin juga kalo mau bilang nggabisa. Ah kepalang tanggung, kapan lagi.

Aku nyengir kuda dan mengangguk.

Merah Putih di Segara Anak

"Yuk, udah kesiangan. Udah molor banget nih." Dimas segera meminta kami mulai jalan karena hari ini kami akan langsung turun ke Desa Senaru. Kemungkinan nyampe sana antara jam 8-9 malem, bikin aku sentimen duluan. Nah ini jam 8, jadi 12 jam jalan dong. Ya Allah ya tuhan, kuatkan hambamu menghadapi cobaan ini.

*eh
Segara Anak dan Gunung BaruJari

The TEAM!





"Wow!!! Kenapa ngga dari tadi kamu bawa kita kesini, Dim?" Mbak Meli teriak-teriak ke Dimas demi melihat danau dari sisi ini.

Memang ini top of view nya Segara Anak. Kalau dari tempat yang tadi aja udah mengundang ribuan decak kagum, maka dari sisi ini Segara Anak bisa mengundang perasaan kagum overdosis yang bisa berakibat pingsan di tempat. Jadi ati-ati untuk mengarahkan mata. Sebuah keindahan yang nggak pernah aku bayangin sebelumnya. Sebuah pemandangan yang membuat bumi ini indah tanpa perlu surga.

Pemandangan seperti ini nggak bisa diabadikan. Lensa mata ciptaan Tuhan nggak bisa disamain pake lensa buatan Nikon atau Canon. Hanya perlu dilihat, dinikmati, ucapkan Subhanallah, bersyukur atas nikmat yang Allah beri. Punya mata yang bisa menangkap semua keindahan ini dengan tanpa cela. Punya memori otak yang bertera-tera banyaknya untuk mengabadikan momen seindah ini.

***

Track Segara Anak - Pelawangan Senaru
Dimas benar, pada akhirnya kamipun mesti manjat-manjatin batuan berkemiringan 90 derajat ini untuk sampai di Pelawangan Senaru. Dan parahnya lagi, Pelawangan Senaru belum sama sekali terlihat dari sini. Cuman batu-batuan, dan hutan berkemiringan yang nggak jauh beda. Aku sudah malas bertanya masih sejauh apa, cuman perlu jalan, dan nikmati saja.












Tapi kami tidak malas. Ada sebuah surga di balik punggung kami. Yang membuat kami selalu ingin menoleh ke belakang dan bisa dipastikan berbulan-bulan menggalau karena gagal move on dari tempat ini.

Surga?

Pemandangan itulah yang membuat kami jadi sering menoleh ke belakang dalam tiap kali ngos-ngosan dan butuh atur nafas dulu. Speechless... Aku bener-bener nggak nyangka ada danau seelok ini. Sejenak aku mikir apa aku sudah menembus ruang tiga dimensi dan terbawa ke dunia dongeng?

*Plak* aku menampar pipiku sendiri.  S a k i t.

Danau Segara Anak berwarna tosca terlihat dari sini. Gradasi airnya terlihat berbatas tegas. Gunung Barujari yang masih sedikit demi sedikit memuntahkan awan menambah lengkap warna warni pemandangan di bawah sana. Tumbuhan hijau yang tumbuh di tepi danau membuat tempat ini benar-benar seperti di surga.

Mau di foto pake kamera DSLR, kamera sonep, kamera blekberi, samsul atau ipin, hasilnya tetep persis sama kayak jepretan fotografer top. Danau ini emang fotogenic. Pake standar apapun, tempat ini emang bisa dibilang surga. Secuil surga yang jatuh ke dunia.

Tempat ini emang persis kayak senyuman manis mantan diujung jalan sana. Bikin susah move on. Ah!

Segara Anak, dari Pelawangan Senaru

Tepat di jam 1 siang, setelah melewati tanjakan terakhir yang bikin kita mesti gelantungan di batu kayak kelelawar, kami sampai di Pelawangan Senaru. Nggak nyangka, dari sini, secuil surga dibawah sana masih terlihat jelas.

Kami nggak bisa lama istirahat. Tempat ini gundul tanpa pohon. Dan cuaca di Rinjani yang jauh dari kata dingin memaksa kami untuk segera turun sebelum gosong nganggur.

Bah! Untung aja ini turunan. Kalo ini tanjakan, udah bisa dipastikan aku akan ngecamp aja di Pos 3. Nggausah pake ke Rinjani-Rinjanian segala. Heran ya, kalo udah ngeliatin jalan bawaannya sentimen mulu. Mulut rasanya nggak bisa berenti nyinyir. Bibir rasanya nggak bisa berenti manyun. Aku nggak ngebayangin orang-orang yang berangkat lewat Senaru bakal menanjaki bukit-bukit batu yang gundul plonthos se-panas neraka ini.

Dan satu hal yang ngga bisa aku lupainpun terjadi.

"Ayo, Mbak. Kita udah ketinggalan jauh dari yang lain. Agak lari jalannya." Ujarku menyemangati Mbak Meli yang masih ada beberapa meter dibelakangku. Yang lain sudah aku minta duluan karena mesti ngejar porter buat ambil minum.

Tapi aku gagal jadi motivator. Mendengarku begitu, Mbak Meli yang emang agak kurang sehat tiba-tiba muntah. Phanique. Akupun mendadak labil dan meralat ucapanku, "Yaudah nggausah lari, pelan-pelan aja asal jangan keseringan berenti."

Di tempat segunung ini, ngga ada siapa-siapa, tanpa makanan, cuman air secukupnya dan coklat, apa yang bisa kulakukan kalo tiba-tiba Mbak Meli lemes dan pingsan. 'Oh Tuhan, jadikan aku manusia super'. Kira-kira begitulah yang ada dipikiranku.

Dasar udah rejeki anak sholihah, tiba-tiba ada rombongan pendaki yang menyapaku. Sepertinya mereka emang sengaja nungguin aku dan langsung nyapa."Kayaknya temennya sakit ya? Ini lho saya ada air anget, jahe sama madu."

"Wah, kebetulan sekali Mas. Boleh minta? Buat temen saya aja. " Kataku dengan riang gembiranya, berasa nemu Honda Jazz gratisan. "Temen-temen saya yang lain nungguin di Pos 3."

"Iya, emang sengaja saya tunggu untuk temennya kok." Jawabnya ramah. "Pos 3 masih sekitar 1 jam dari sini."

"Mbaakk!!! ini ada air anget sama jahe." Yang nggak lama setelah itu berhasil menyusul dan duduk di deketku, menyeruput jahe angetnya.

"Makasih banyak ya, Mas." Ucap kami berdua pada mereka yang akan segera pergi. Sambil nitip salam ke Dimas."Dia pake jaket ungu. Minta dia tunggu ya, Mas. Saya pelan-pelan." Pesanku.

Tapi ternyata Mbak Meli bukan cuman sakit. Tapi stress karena kondisi jalan yang belum keliatan ujungnya ini, membuatnya memuntahkan 'Honda Jazz' yang kita dapet dari Mas-mas baik tadi.

"Capek ya, Mbak? Istirahat dulu yuk." Aku mulai was-was ngeliatnya lemes gitu. "Sampean stress, coba tenang. Biar ngga mual lagi. Kalo udah kayak gini minum obatpun percuma, nanti kalo dimuntahi terus jadi lemes." Aku mulai mencoba ngember jadi motivator lagi. Yaudahlah, nggak penting mau nyampe Senaru jam berapa, yang penting jalan pelan-pelan. Sambil terus berharap ada laba-laba yang nggigit aku dan aku berubah jadi Spiderman.

Mbak Meli masih ngos-ngosan maksimal. Memaksaku mulai berpikiran tentang cardiac arrest yang bisa dan sangat mungkin menyerang orang yang kelelahan maksimal kayak begitu. Mana Oxycan ada di tas Dimas. Aku cepet-cepet membuang jauh kemungkinan itu. Bisa-bisa aku yang stress kalo mikirin cardiac arrest.

"Minum obat anti muntah ya." Kataku dan dengan nurutnya Mbak Meli meminum sebutir metochlopramid yang untungnya aku bawa di tasku. "Nanti kalo obatnya dimuntahin kudu di injeksi. Aku bawa Ranitidin inject." Kataku sambil was-was juga, udah lama nggak beginiin orang, masih bisa ngga ya meramal posisi pembuluh vena.

Berdalih ngilangin stress, aku lalu mendongeng demi menenangkannya dan menenangkan diriku sendiri. Dongeng apa? tentu saja dongeng si Kancil.

Eh, nggak kusangka, dongeng itu membuatnya ketawa-ketawa dan lantas ngajak jalan lagi.

"Pelan-pelan aja, Mbak." Kataku masih kuatir.

Dan What?!

Ternyata Pos 3 cuman sepuluh menit lamanya dari tempatku ndongeng. Temen-temenku berkumpul lengkap disini kecuali Mas Lilik, Mas Bajuri dan Mas Reynold yang udah duluan jalan. Emang sih mereka jalannya cepet-cepet banget kek setan.

Disambut sepiring nasi hangat plus sarden, dan teh anget yang langsung bikin aku inget bahwa sepuluh menit yang lalu aku sempet berdoa pengen digigit laba-laba. Dan ternyata sekarang, aku begitu bersyukurnya bukan karena aku udah jadi Spiderman, bukan. Aku bersyukur karena bisa ketemu muka-muka lusuh teman-temanku lagi.

Ah!! sekarang aku tau. Nggak perlu jadi manusia super untuk membuat manusia bisa menaklukkan ketinggian, dia cuma perlu teman-teman yang solid, yang asik, dan yang mampu membuat kita semangat hanya dengan melihat wajahnya.

***

"Mau lanjut Senaru, Mas?" Tanya seorang Mas-mas kepada kami dalam perjalanan dari Pos 3.

"Iya. Masnya?" Dian bertanya balik.

"Saya mau ngecamp Pos 2 dulu, Mas. Besok pagi baru turun." Jawab Mas-mas itu.

Kami langsung berpikir, 'Ngapain ngecamp Pos 2? Nganggur banget. Mending juga langsung turun ke Senaru. Bisa bobo bersih di rumah.' Kamipun nyengir dan terus berjalan.

Belakangan kami menemukan jawabannya bahwa yang NGANGGUR BANGET itu adalah kami! Pos 2 ke Senaru itu, masih gile bangeeett jauhnya. Masih ngelewatin Pos bayangan antara Pos 2 dan Pos 1 yang terkenal ada begitu-begitunya. Mana kita udah menjelang tengah malem lagi pas nyampe sini.

Dan belakangan aku tau, kalo ternyata Mbak Meli dan Dian sempat mencium bau-bauan wangi yang tidak biasa di tengah hutan pandan. Dan suara-suara yang, ah... Sudahlah.

"Hei, ada warung."

Pintu Gerbang Senaru

Mission accomplished. We reach Senaru at 10.04 PM.

"Abis ini kira-kira setengah jam jalan ya sampe ke desa, mobil kita nungguin disana." Dimas sudah berdiri siap berjalan lagi.

WHAT??!! DIMAAAAAASSSSS!!!!

Selasa, 16 Februari 2016

Sunrise Kelas Dunia di Pantai Papuma

Jember, sebuah kota yang selama ini mungkin kurang dikenal orang sebagai kota wisata. Tapi kali ini, aku membuktian sendiri kalau kota kecil ini nggak kalah love-able nya sama Malang.

"Jadi nih nanti malem berangkat?" Tanyaku sore itu ke cc yang kayaknya masih adem ayem aja, belum packing, belum siapin mobil, belum ngapa-ngapain deh pokoknya.


"Lho, jadi dong." Jawabnya mantap. 


Berawal dari cc yang kepingin banget tau gimana rasanya camping, kita jadi kepikiran untuk camping-camping chantique gitu di pantai. Pokoknya di tempat yang medannya supermild, nggak pake jalan kaki, nggak pake manjat tebing dan nggak pake pipis di semak-semak.


Oke, Pantai Papuma. Sesuai request ndoro ayu cc.


"Mana? packing aja belom. Aku males ah siapin tenda. Paling ujung-ujungnya camping di halaman rumah." aku emang semacam ragu ngeliat persiapan cc yang kayaknya nggak banget. 


"Tenang aja. Aku masih mau meluncurkan sebuah rencana culas. Kamu terima beres." Jawabnya lagi.


Di injury time sepulang kerja, land trip yang semula akan menjadi kisah romantis dua cewek kesepian yang berencana menghabiskan malam berdua di pantai, tiba-tiba terusik dengan akan bertambahnya jumlah rombongan. Sepasang suami istri yang sepertinya dengan terpaksa ikut karena nggak tahan ama bujuk rayuan maut ala cc. Aha ternyata cc berhasil meluncurkan rencana culas untuk biar bisa dipinjemin mobil dan ada temen yang gantian nyupir #tawaiblis.


Bersama sebuah Ertiga bulu kera hasil malak itu, tepat pukul 21.00 kami berempat berangkat dari Malang dan akan numpang tidur di basecamp kantor yang terletak di Kecamatan Jombang, Jawa Timur. 


Pilihan buat ke Jember lewat jalur selatan tiba-tiba jadi mimpi buruk pas kita tau ada pohon super gede yang tumbang ngalangin jalan. Udah tau musim ujan malah lewat daerah gunung-gunung gini. Salah peritungan itu bikin nyesek dan bikin pengen guling-guling gimana gitu. Macet total tengah malam ditambahin hujan rintik-rintik itu berasa jadi pengen makan temen sendiri *eh.


Perjalanan Malang - basecamp yang mestinya cuman 3 jam aja, jadi molor 4,5 jam. Jam 01.30 pagi kami baru bisa rebahan di kasur dan langsung bobo chantique sampe subuh, dan lanjut lagi sampe siang tentunya. Cerita untuk berangkat mantai pagi-pagi butapun lagi-lagi cuman tinggal jadi cita-cita.


***


"Ini bener jalannya nih?" Mas Impron udah mulai sentimen ngeliatin jalan kecil, beraspal rusak, berlubang gede-gede, dan cuman ada mobil kita doang yang lewat. Kanan kiri cuman hamparan sawah seluas-luasnya sawah deh. Ngga ada rumah, gubuk, warung, apalagi mall. Ke-sentimenan Mas Impron makin-makin parah karena tiap papasan ama motor, selalu mereka ngeliatin ke arah mobil kita sambil matanya menyiratkan sebuah pertanyaan besar "kok ono mobil lewat kene?"


Aku cek sekali lagi GPS di handphone cc, "Kalo menurut google yang ini jalannya, Mas."


"Aku pernah ke Papuma, jalannya itu bagus. Aspal mulus, lebar lagi jalannya. Ini kayak jalan mau ke sawah." Mas Impron keukeuh.


"Aku juga pernah ke Papuma sih, Mas. Bagus juga jalannya nggak kek gini." Aku jadi ikutan sentimentil. Ditambah orang-orang yang papasan ama kami, selalu bertema 'kostum sawah'. Memperkuat dugaan kalo ini emang jalanan orang mau ke sawah.


"Nah lo. Makadam." cc ketawa.

Bukit kecil yang menemani perjalanan ke Papuma

"Yaudalah Mas, lanjut aja. Tar juga ketemu jalan bagusan." Kataku sambil ikutan ketawa dan tidur-tiduran manja di jok belakang. Nggak peduli muka manyunnya Mas Impron.


Dan benar, sekitar setengah jam setelah ini, kami ketemu sama jalan aspal kecil. Udah mulai banyak kehidupan disini. Hamparan luas sawah masih ada di kanan kiri jalan. Ada beberapa bukit kecil yang disebut gumuk. Yap, Jember emang dikenal dengan kota seribu gumuk. Tapi, karena kebutuhan tanah yang semakin tinggi, beberapa gumuk sering dipangkas habis untuk dijadikan perumahan. Temenku pernah cerita kalau muda-mudi Jember yang masih peduli lingkungan pun akhirnya bikin gerakan SAVE GUMUK untuk menghentikan ambisi developer property menghangusratakan gumuk.


Dan, ini. Apa ini adalah salah satu bagiannya? 



Gumuk yang entah diapain aja sama orang-orang dibawahnya
Entahlah.


Perjalanan ke Papuma ini bikin aku menarik kesimpulan bahwa saat kita menggunakan jasa google maps untuk direction ke suatu tempat, maka google maps dengan sangat baiknya akan mencarikan jalan tercepat, jalur terpendek untuk sampai di tujuan kita. Nggak peduli jalannya kayak apa, gimana modelnya, aspal atau makadam, naik bukit atau lewat dalem goa, pokoknya yang tercepat deh. 


Terbukti dengan perjalanan kami saat ini yang akhirnya ketemu juga ama jalan sebenernya buat sampe di Papuma. Emang sih jalan tadi itu potong kompas, cuman jalannya aduhai amazing banget. Kalo nggak saking dapet bonus pemandangan bukit-bukitan, kayaknya aku berenti aja jadi pelanggan google maps dan memilih untuk nanya sama local society.


"Kita ke Payangan dulu. Sore-sorean aja ke Papuma." Aku berlagak bikin itinerary. Padahal masih males aja siang-siang panas bikin tenda dan masak-masakan di pinggir Papuma. Kayak berasa lost in the middle of nowhere. Warung makan masih bejibun banyaknya.


"Asal bagus aja pantainya, kita manut." Kata cc yang udah bawa-bawa kamera dan mau motret sunrise di Papuma besok pagi.


Nggak lengkap kalau ke Papuma nggak pake ke Payangan. Lokasi keduanya deketan banget. Cuman tinggal lurus dikit sebelum belokan ke tugu "Selamat Datang di Pantai Tanjung Papuma". Cuman sekitar lima menit dari situ udah sampe di parkiran Pantai Payangan.


Tiket masuknya?


Gratis.


Yes, This is Payangan Beach
















Ada sebuah bukit kecil di Payangan yang bisa dipanjat sampe puncak. Di puncaknya, kita bisa melihat hamparan luas laut dari ketinggian. Tempat ini cocok untuk menikmati senja, cocok banget. Tahun 2009 waktu main kesini, bukitnya masih bersih. Sepi. Jadi momen untuk menikmati senja pun bisa kena banget.


Sayangnya, bukit ini udah penuh vandalisme. Batu-batu bersih yang dulunya dipake pijakan, rasanya ngga seperti sekarang. Udah penuh sama tulisan-tulisan yang seharusnya bisa ditulis pake cara lain. Keindahan alam Payangan pun sekarang sudah dinikmati banyak orang, Alhamdulillah, setidaknya itu menjadi mata pencaharian juga untuk penduduk sekitar. Hanya saja, semoga Payangan nggak akan pernah berubah wajah. Pantai cantik dan bersih itu, semoga masih tetep terjaga.

Ah, sudahlah.


Ombak Payangan, captured by @chrisarwork
"Dapet momennya?" Tanyaku pada cc yang sibuk motret ombak kanan kiri, depan belakang, atas bawah. Dari atas karang yang ini, dari puncak batu yang ono. Pokoknya muter-muter mulu nyari angle yang pas buat motoin ombak.

"Aku dapet foto-foto yang sip banget." Katanya sambil mamerin foto-foto hasil jepretannya. "Coba bawa tripod, aku bisa bikin slowshutter disini."




Puas main ombak, main karang, main poto-potoan, main ati, mainan anak orang #eh, kami pun putar setir dan lanjut ke Papuma.


"Kok bayarnya murah. Eh, tadi lupa bilang ya kalo kita mau ngecamp?" Tanyaku ama Mas Impron yang bagian bayar-bayar tiket masuk.


"Lho, emangnya mesti bilang? Orangnya juga ngga nanya." Jawabnya polos. 


"Harusnya bilang, bayar 75 rebu. Etapi disini ada ATM kan?!" Kami mulai sadar kalau belom ambil duit. Cek kantong dan dompet masing-masing, jumlahnya cuman cukup buat beli ikan bakar buat makan siang. "Prasaan kita bukan mahasiswa lagi, kok irit amat yak dompetnya."


Hingga pada akhirnya, keculasan kami berlanjut di tanah Papuma ini. Dari kami yang lupa nggak bilang kalo mau ngecamp, petugas yang nggak nanya, ngga ada yang keliling dari tenda ke tenda untuk meriksa, kamipun akhirnya juga nggak berbesar ati untuk balik ke loket dan bilang kalo mau ngecamp. Ujung-ujungnya pasti mesti keluar lagi ke peradaban untuk cari ATM yang ngga ngerti seberapa jauhnya dari sini. 


Hingga pada akhirnya, dengan murahannya kami membongkar tenda dan mendirikannya megah tanpa ijin. #uh.


"Yang penting siapin mental buat di deportasi. Aku udah siapin muka super culun buat pura-pura nggak tau mesti pake ijin dulu kalo mau ngecamp." Kataku sambil mulai mengeluarkan perbekalan masak memasak. Dan sadar bahwa ini adalah sebuah pertaruhan harga diri yang ngga mudah, masak iya aku nggak tau kalo mau nginep di tanah orang mesti permisi dulu, mesti assalamualaikum dulu.


Sumpah, jangan sampe ada yang niru.



Senja di Pantai Papuma (no filter, no edit)















Senja!!!

Menikmati senja di tempat seperti ini. 


Bertemankan segelas kopi susu panas dan kicauan temen-temen yang ngga kalah serunya dari suara ombak. Meski cuman beralas matras tipis, dan gelas kopi panas yang dibuat dari botol bekas air mineral, akan ada beribu macam perasaan bahagia yang entah darimana datangnya.


"Icik-icik chantique di air yuk." 


"Yuk."


Lalu dengan telenovela-nya kami main-main air, ciprat-cipratan, lari-larian, ketawa ketiwi, maju mundur chantique dan terus tenggelem kebawa ombak.


skip.


Semangkok mie instan pun mengawali malam.


Aku dan cc udah nggak sadar bawa-bawa matras menjauhi tenda yang sengaja dibangun di bawah pohon, demi melihat ribuan bintang bak kunang-kunang di atas sana. Hari makin malam, polusi cahaya dari lampu-lampu bumi sudah berkurang jauh. Bintang-bintang dari yang superbesar sampe superkecil terlihat jelas sejelas-jelasnya dari sini. Bikin aku dan cc ngga tahan untuk ngerem di tenda, dan memutuskan untuk tidur di pinggir pantai. Ditemani lagu alam paling merdu bernama ombak, dan beratapkan plafon paling keren seluruh dunia akhirat bernama langit malam.


"Coba lensa tele ku nggak aku jual." cc merutuki keputusannya untuk menjual lensa yang katanya bisa buat motret bintang dan bikin star trail.


Namun pada akhirnya, nggak dibutuhkan kamera, lensa tele ataupun star trail untuk bisa mengabadikan momen ini. Nikmati dengan hati, niscaya semua akan terekam di memori kita sampi mati.


"Ini namanya hotel bintang sejuta."


Kami sepakat menamai tempat ini.


***


Pagi ini kami bangun lebih pagi dari biasanya. Setelah sholat Subuh dengan syahdunya karena masih ditemani lagu alam paling merdu, kami sudah siap-siap di pinggir pantai untuk apa?


Sunrise!


Captured by @chrisartwork - Pagi di Papuma

Captured by @chrisartwork - Sunrise 



























Subhanallah, Maha Suci Allah yang  menciptakan alam dan seisinya dengan penuh keindahan.

Mau diliat pake mata kanan, mata kiri, sebelah matapun, langit pagi ini begitu magis menyihir setiap mata yang melihat. Lagi-lagi ngga dibutuhkan kamera model ABC, lensa type XYZ dan angle sini sana untuk mengabadikan momen ini. Cukup dengan hati, maka semua akan terekam sampai mati. 

Kalau ada yang bilang foto sunrise itu keren, maka yang tertangkap mata pastilah jauh lebih keren dari itu semua. Yang bilang sunrise Papuma adalah sunrise kelas dunia, sumpah dia ngga lebay!

Setelah matahari meninggi, kamipun sepakat untuk mencoba naik bukit Tanjung Papuma. Katanya, dari atas sana kami bisa melihat icon Pantai Papuma yang mirip sama Pulau Merah, Banyuwangi. Cuman bedanya, yang di Pulau Merah adalah bukit, yang disini karang. 

Dari puncak bukit ini, kami bisa melihat sebuah karang menjulang tinggi, bersama dengan karang kecil-kecil di bawahnya, lengkap juga dengan ombak super gede-gede yang menghantam-hantam bukit karang dan menghasilkan suatu pemandangan yang bisa bikin orang pingsan saking terpukaunya, dan -

WOW.

Pemandangan dari puncak bukit Papuma














Sisi laut sebelah sono nya bukit Papuma














Pantai Papuma, lengkap dengan kapal-kapal nelayannya














Sudah. Aku nggak bisa nggombal lebih banyak lagi tentang tempat ini.

End.

Kamis, 11 Februari 2016

Hi, Arjuno ( Top Ogal Agil 3339 masl)

Peta Pendakian Arjuno (diambil dari Infopendaki.com)

Mengejar Panah Arjuna



Wow, judul yang kesannya baper abis. Maklumlah, yang punya hajat juga kumpulan artis sirkus yang kebetulan masih belum punya pasangan resmi. Pasangan nggak resmi sih ada, contohnya aku, yang udah berpasangan lama ama Mas Rio Dewanto. Disatukan oleh perasaan senasib yang nggak punya rencana menyambut liburan Natal yang super panjang, kamipun menamakan diri sebagai Arjuno Ranger, mengejar panah Arjuna.



Pagi masih sangat pagi saat aku dan Mas Lolok menertawakan Mbak Arfi dan Om Har yang udah duduk deket-deketan di bawah Patung Singa St. Kota Baru Malang, sama-sama bawa keril supergede, tapi juga sama-sama nggak sapa-sapaan karena nggak pernah ketemu muka.


"Langsung kemana, nih?" Tanya Mbak Arfi yang udah langsung duduk di jok belakang Om Har.

"Ke Kebun Teh Lawang, jalan masuknya lewat situ." Jawab Mas Lolok. 


Sebenernya kami berencana naik Argopuro tahun ini. Mumpung liburannya super panjang dan sibos baek banget kasih tambahan cuti, menambah deretan panjang cuti tahun ini. Tapi karena masih ribet mengenai transportasi ke Bremi. Yaudalahh, cari hutan yang deket-deket aja. Dan formasi rombongan yang awalnya berlima, terus bertujuh, trus jadi bertiga dan berakhir dengan berempat, akhirnya kedua motor ini pun langsung tancap gas sebelum dihadang kemacetan yang selalu setia di perempatan Sabilillah.


Jalanan masih lengang, setengah jam kami sudah sampai di pintu masuk kebun teh Wonosari Lawang, dan langsung ditanyain petugas loket. Penampilan kami yang bawa-bawa kulkas di punggung itu seperti mengumumkan bahwa kami memang bukan sedang ingin piknik di kebun teh.


"Mau ke Puncak?" Tanya petugas berbadan gimbul kepada kami yang dengan pedenya udah mau nyelonong masuk.


"Iya, Pak." Jawabku sambil senyum imut.


"Wah, salah pintu. Pos perijinannya bukan disini." Jawab petugas yang lain. "Memang disini bisa, tapi bukan pos resmi, sudah nggak boleh sekarang."


Mas Lolok pun garuk-garuk kepala bingung, "Tapi masih belum ada sebulan yang lalu masih boleh, Pak. Jadi dimana pos perijinan resminya?"



"Keluar lagi ke jalan raya, ada jalan masuk ke kiri setelah hotel Niagara." Jawab petugas tambun tanpa perasaan bersalah.

Nging, udah pagi-pagi berangkat, salah alamat, itu rasanya kayak ada sebel-sebelnya gitu. Yasudahlah, nggak ada pilihan lain selain puter balik. Mendadak aku sentimentil.


Nggak sampe 15 menit kemudian kami sudah dapat melihat palang bertuliskan "Pos Pendaikan Gunung Arjuno via Lawang" di kiri jalan. Masih sepi, antara kepagian dateng, atau emang lagi nggak ada yang naik. 


Setelah mengurusi perijinan, bayar retribusi yang masih murah cuman 7.500 rupiah aja, kami pun berdoa dan memulai perjalanan.


Track pertama adalah... ASPAL. Gila ya, kenapa bikin pos perijinan di tengah-tengah jalan yang masih aspalan gini sih. Mana panas, nanjak buanget, kenapa nggak diatas aja pas udah deket sama kebun teh. Sumpah serapahpun mulai bermunculan pas ngeliat kalau jalanan aspal ini adalah aspal mulus semulus pipiku yang bisa banget dilewatin motor. Lagi-lagi keril yang ngga begitu berat ini pun jadi berasa ngeberat-beratin banget seiring dengan sumpah serapah yang masih terus ada karena banyak motor yang lewat-lewat manis seolah mengejek kita dengan knalpot brong-nya.



Jalan setapak di tengah perkebunan teh
Sekitar lima belas menit menapakkan kaki di aspal panas, kami pun mulai masuk ke jalan setapak di tengah kebun teh. Mata langsung seger ngeliat yang ijo-ijo. Tapi itu nggak lama karena kami langsung disambut jalanan landai makadam yang super makadam. Kenapa dibilang super makadam? Karena dari kanan ke kiri penuh batu semua. Ngga ada istilah trotoar-trotoaran yang dibiarin tanah. Cuaca mulai sejuk karena ada banyak pohon di kanan kiri jalan. Meski masih ada beberapa motor yang suka lewat-lewat, tapi kami masih bisa tahan karena lebih enak jalan kaki daripada naik motor ngelindes batu-batuan yang segede kepala bayi.


POS 1, 35 menit jalan kaki. Seharusnya sih ngga usah berenti karena badan masih seger-segernya. Tapi rasa-rasanya ngga afdhol kalo ada shelter tapi nggak dinikmati. Nggak lengkap kalo ada pos tapi nggak dipake leyehan bentar. Lima menit istirahat dengan judul ngicipin shelter, kami sudah memanggul keril gendut dan siap berjalan terseok-seok di atas bebatuan labil yang suka tiba-tiba lepas kalo nginjeknya sembarangan.

Aslinya ini jalur nggak vertikal-vertikal amat. Tapi cukup bikin nafas ngap-ngapan dan kaki udah pengen nendangin gelundungan batu-batu. Jalanannya emang ajib.



Jalur Makadam yang nggak keliatan dari ujung
ke ujung
"Kalo dari peta, POS 2 Lincing masih 2 jam lagi." Kata Mbak Arfi sambil ngeliatin peta yang kami dapat dari pos perijinan.

"Nggak usah percaya, itu pasti jalannya orang-orang SAR." Ucapku waktu itu waspada saking seringnya kena PHP in orang mengenai waktu tempuh perjalanan di gunung. 

Yang penting jalan aja. Cuma itu yang ada di pikiran kami berempat. Tak satupun di antara kami yang pernah ke Arjuno via Lawang, jadi perjalanan ini bener-bener blind. Untung semua track nya jelas, setiap persimpangan jalan pasti ada tanda ke arah puncak. Meski tandanya cuman dari plastik bekas yang diiket-iket di ranting pohon sih. Lumayan lah...

"Aih, tanjakannya cakep."

Sudah sekitar sejam berjalan, kami belum menemukan satupun rombongan pendaki. Jalanan bersih, nggak seperti yang disini nih. Antara kesadaran pengunjungnya yang masih bagus, atau karena sampahnya ikut kebakar sama Arjuno beberapa waktu yang lalu, hehehe.

Kamipun sampai di hutan Kaliandra. Pohon, dahan dan rantingnya masih menghitam akibat kebakaran. Gundul, bener-bener gundul. Tanahnya juga masih item. Beberapa kayu gede yang roboh menghalangi track pendakian yang berupa parit kecil. Membuat kami harus beberapa kali mencari jalur lain yang sedikit muter, tapi tetep memperhatikan track yang sesungguhnya.


Kondisi hutan Kaliandra setelah kebakaran Arjuno

Tapi percayalah, ngga ada satupun bonus disini. Tracknya nanjak hampir 30 derajat. Tanpa bonus. Jangankan turunan, landai pun nggak ketemu. 

"Lewat sini, Mas." Teriak seseorang memanggil rombongan kami yang celingukan mencari jalan karena lagi-lagi track pendakian ketutup sempurna sama pohon tumbang.

Wah ketemu manusia juga, hihihi.

Sekitar satu jam mengadu nafas, hutan Kaliandra lepas kami lewati. Bayanganku, kalo udah selesai nanjak-nanjak, pasti depannya turunan deh. At least dataran. Aku salah besar. Mem-PHP diri sendiri itu sakit. Kita emang keluar hutan, pemandangan selanjutnya emang lebih lapang. Semacam ladang gitu. Ya gitu-gitu aja sih, ladang. Ladang apa bagusnya sih? Untung hari sedang mendung, jadi cuaca ngga begitu panas menyengat.


Track setelah hutan Kaliandra, pemandangan kota sudah dapat
terlihat dari sini

Bentuk tracknya ya masih gitu-gitu aja. Nggak berubah sama sekali. Nanjak-nanjak manis, bikin males ngeliat ke depan dan nyari-nyari apa di ujung sana akan ada jalan datar. Sumpah, berasa bonus tahunan jadi kalah penting daripada bonus track di gunung ini.

"Ini udah dua jam, kok belum ada tanda-tanda pos 2 ya. coba cek petanya." Kata Om Har ditengah nafasnya yang tersengal-sengal. "Berenti dulu deh sambil cek peta."

"Kalo dari peta sih deket." Jawab Mbak Arfi sambil melototin kertas peta. "Bener, udah jangan percaya ama mulut manis penjaga pos perijinan."

Setelah nafas kembali normal, mau nggak mau akhirnya kami harus menyeret langkah. Laper. Meski bawa kulkas berisi penuh makanan, komitmen untuk baru buka bekal di Pos 2, haruslah tetap menjadi komitmen. Tapi cacing-cacing di perutku sudah nggak mempan disumpal karbohidrat boongan bernama coklat. Wes pokoknya mesti cepet-cepet sampe Pos 2 biar cepet makan karbohidrat betulan.

Pukul 12.45


Pos 2 Lincing
Subhanallah, betapa bahagianya ngeliat bangunan ini. Sebuah gubug bercat putih, terbuat dari bambu , bertuliskan POS II Arjuno dengan sangat jelasnya.

Brug!!!

Aku menjatuhkan kerilku dan langsung glibukan di rumput saat itu juga. Aku merasakan betapa otot dan tulang pundakku berteriak kegirangan dengan riang gembiranya saat si kulkas itu ku banting ke tanah. Ah, bahagia itu sederhana.

Setelah puas berguling-guling di rumput, kami pun segera membuka nasi bungkus yang sengaja disiapkan untuk menghemat waktu. Lanjut setelah sholat Dzuhur, pukul 13.15 kamipun bersiap-siap.


Ada dua jalur pendakian setelah ini. Lewat Sabana, dengan resiko sedikit memutar, atau lewat bukit Lincing dan potong kompas untuk sampai Pos 3.


"Haduh, liat bukitnya. Udah nggak usah lewat sana. Sabana aja." Aku membuat keputusan sendiri. Udah ngeri duluan ngeliat bukit Lincing dengan track zigzag yang keliatan nanjak pol-polan, "Itu mah, summit dini namanya."


Track melewati bukit Lincing harus
naik ke atas bukit itu


Semua seiya dan sekata. Kami pun mengambil jalur ke kiri dan memutuskan akan lewat Sabana walaupun sedikit berputar.

Yeay! Jalan datar!

Rasanya seperti terbang ke angkasa bersama angsa-angsa super cute. Udah jalannya datar, di kanan kiri pun pake pemandangan padang rumput ijo yang langsung bikin mata belo. Kalo udah begini ini, aku udah lupa gimana muka gantengnya Mas Rio Dewanto. Muka cutenya Herjunot Ali, dan muka coolnya Mas Nicholas Saputra. Hihihi.

Tapi tunggu.

Kebahagiaan ini hanya sementara. Cuman lima menit doaaaangg. Di depanku, aku sudah melihat tanjakan-tanjakan batu yang nggak keliatan ujungnya. Ditambah gerimis kecil-kecil mulai menyerbu. Kabut tebal bikin jarak pandang terbatas. Muka-muka sebel mulai muncul. Aku mulai sentimentil lagi ama ini gunung.


Tanjakan maut selepas Pos 2 Lincing
Tapi ternyata,

Keindahan rangking kedua setelah jalan datar pun muncul. Dari atas bukit ini kami dapat melihat Sabana di kanan kiri kami. Lengkap dengan langit mendung yang terlihat syahdu. Ternyata yang tadi itu bukan hujan. Kami hanya sedang disergap kabut. Keliatan jelas dari sini kabut-kabut itu berjalan pergi ditiup angin. Bukit-bukit ijo di sekeliling Sabana menambah lengkap pemandangan sore ini. Aih, alam selalu penuh kejutan.

"Ternyata ada yang begini juga ya. Mirip track awal Rinjani. Bedanya, di Rinjani padang Savana, ini udah ijo-ijo jadi Sabana." Kata Mas Lolok.

Aku ketawa, "Yang di Rinjani panasnya setengah mati, disini kita bingung pake jas ujan karena banyak kabut."
Pemandangan yang menemani, mendung
menambah syahdu suasana


Sudah pukul 14.30, tanda kami harus berhenti selfie dan wefie. Harus nyampe Pos 4 sebelum gelap. Cuaca lagi nggak tentu gini, bisa bikin depresi kalo jalan malem-malem ditengah ujan. Waktu tempuh versi peta dari Pos 2 ke Pos 3 adalah 4 jam meski jaraknya nggak terlalu jauh. Lha emang tracknya gini, wajar aja sih kalo 4 jam. Batu-batuan ini bukan cuman mesti diinjek, tapi kadang mesti dipanjat-panjat juga. Jadi tiba-tiba keinget perjalanan pulang dari Segara Anak ke Senaru. Udah kapok-kapok ketemu yang beginian, eh sore ini aku lagi sibuk meluk-melukin bebatuannya untuk sampai di puncak bukit.


Sabana cute. Bukan karena yang foto sengaja dimiringin.
Keadaan sebenernya yang memang miring begitu
saking nanjaknya
Lepas dari Sabana, kami masuk hutan kecil lagi. Kanan kiri jalan adalah rumput liar setinggi aku. Akarnya menancap kuat ke tanah seolah sebagai penolong untuk pegangan kalo manusia-manusia yang lewat jalan ini sudah nggak kuat bawa badan sendiri. Yes, masih setia dengan tanjakan yang nggak keliatan ujungnya. Belokan pertama, masih nanjak. Kedua, nanjak. Kesepuluh, nanjak. Sampek akhirnya berasa ngitung domba loncat kalo ngitung berapa kali belok dan tetep aja tracknya nanjak.

"Berenti disitu ya." Kata Mbak Arfi yang berada di barisan depan saat ngeliat ada sekumpulan pendaki yang beristirahat disebuah tanah lapang kecil dengan beberapa batu besar.

Pukul 16.45. Artinya sudah tiga setengah jam kami terseok-seok jalan. Positive thinking kalau Pos 3 sebentar lagi bisa kami temui. Sekalian sholat Ashar disana aja deh. Kami memang tidak menjamak sholat dengan pertimbangan masih di kota yang sama dan jarak tempat ini sama rumah kami nggak ada 80 KM. Cuma lima menit kami beristirahat karena bayangan Pos 3 sudah ada di depan mata. Mau istirahat agak lamaan di Pos 3 aja. Biar tenang.

Sepuluh menit berjalan, kami ketemu dengan rombongan pendaki yang sedang mendirikan tenda.

"Pos 3 masih jauh, Mas?" Tanya Mas Lolok.

Dan jawabannya sungguh mencengangkan, "Pos 3 kan udah dibawah sana, Mas. yang ada batu-batu gede, itu Pos 3."

"Surpriseee!!!" Teriakku dengan super senangnya. "Itu namanya Pos Surprise." Aku masih ketawa ketiwi membayangkan betapa senangnya karena sebentar lagi kami akan sampai di Pos 4 yang bernama Pos Gombes dan membanting kulkas yang menggelayut di punggung yang makin lama makin berat.

Karena target sudah lewat, akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat. Membongkar jas ujan yang memang selalu ada di posisi paling atas untuk dijadikan sajadah sholat. Kebahagiaan yang nggak disangka-sangka. Untung yang nggak dikira-kira. Hihihi...

Jadi inilah yang bernama Hutan Dalgombes. Hutan lebat sebelum kita sampai di Pos Gombes.

Suasana masih sama dengan sebelumnya. Jalanan setapak kecil berkelok-kelok. Kanan kiri ditumbuhi rumput liar yang seolah sengaja ada untuk dijadikan pegangan saat butuh tangan lain untuk menguatkan langkah *halah*. Tanjakan indah masih setia menemani. Hari semakin gelap dan dingin mulai menyergap. Mega merah sudah muncul di ufuk barat tanda waktu Maghrib sudah datang.


"Sholat dulu deh, sambil leyehan bentar." Kataku menunjuk sebuah dataran lumayan lapang yang pas untuk dijadikan tempat sholat. Entah karena jalanannya yang makin ajib, atau akunya yang udah kebelet leyeh-leyehan, rasanya kepengen banget glibukan bentar pas ngeliat ada tanah lapang dikit.


Percayalah, sangat susah menemukan tempat lapang yang bener-bener lapang disini. Tempat yang kami jadikan sholat juga bukan tanah lapang yang bener-bener nyaman. Agak miring, dan itupun kami harus bergantian satu-satu. Dan sampai detik ini pun, aku bener-bener masih bisa menghitung berapa banyak bonus yang kami jumpai sejak di pos pendakian.


Cuma satu. Ya. Satu. di Sabana selepas Pos 2, dan cuman 15 menit doang. Sisanya? delapan jam setengahnya apa? Tanjakaaaannn!!!


Aish, sudah sembilan jam kami berjalan. Sudah pantas rasanya kalo kami udah males angkat-angkat keril segede kulkas gini. Jalan aja udah setengah mati. Sudah mulai terpikir untuk segera cari tempat lapang dan bikin tenda. Milo panas sudah mulai manggil-manggil dari balik punggungku. Heran juga kalo diliatin. Masing-masing dari kita nggak ada yang bawaannya santai. Menggunung dua hari semalem aja bawaannya udah kayak mau bikin hajatan di gunung.


Aku melirik arlojiku, udah jam tujuh malem.


"Jangan-jangan kita udah ngelewatin Pos 4. Jangan-jangan kita udah mulai summit." Aku sudah mulai lapar dan berimajinasi liar. "Fiuh. Iya. Pasti ini kita udah summit. Ini track summit." Aku ngoceh-ngoceh nggak jelas seiring dengan pijakan kakiku yang makin malas. Jalanan masih nanjak dan gelap tanpa ujung. Mantera pengusir malas sudah kuterapkan sejak tadi. Aku harus bisa menyeret langkah 10 hitungan, dan berhenti selama 5 hitungan untuk mengatur nafas.


Tak satupun pendaki kami temui. Aku sudah mulai yakin kalo kita kebablasan dari Pos 4 dan udah mulai summit. Iya aku yakin!!!


Ditengah keyakinanku yang berdasar kuat pada elevasi track yang kami pijak ini, ada kilat-kilat cahaya tenda di depan sana.


"Itu pasti puncak!" Teriakku histeris.


"Ngawur!" Kata Mas Lolok menghentikan kegilaanku. "Permisi, Mas. Apa ini Pos 4?" Tanya Mas Lolok pada salah satu pendaki yang sedang membangun tenda.


"Bukan, Mas. Masih naik lagi kalau mau ke Pos 4." Jawabnya sambil tersenyum. Senyum yang membuatku langsung lemes dan kepengen ngikut rombongan Mas ini aja. By the way, ya iyalah masih naik lagi kalau mau ke Pos 4. Kalau mesti turun lagi, itu namanya balik ke Pos 3. Mendadak aku manyun.


Lagi-lagi, komitmen untuk bikin camp di Pos 4 tetaplah harus menjadi komitmen. Berasa ada suster ngesot yang bergelayutan indah di kakiku. Berasa ada tuyul unyu yang ikut nemplok di kerilku. Dan berasa langsung inget, ngapain aku nggak tidur-tiduran manjahh di kamarku sambil nonton film Ada Apa dengan Cinta dan ngeliatin mukanya Mas Rangga yang super caem.


Dan lagi, biasanya hutan-hutan lain itu meski di tengah hutan ada lah spot lapang dikit yang cukup untuk satu dua tenda. Nah ini? Bener-bener hutan sehutan-hutannya. Kanan kiri hutan, tengok bawah hutan, depan hutan. 


Semua ke-sentimentilan ini bikin aku tiba-tiba keinget cerita-cerita serem tentang Arjuno. Cerita serem yang sempet bikin aku selalu nggak mau kalo ada yang ngajakin main kesini. Kami cuman berempat, di tengah hutan lebat, suara angin berhembus kencang, cuman ditambahin satu kali auman serigala aja udah pasti mirip ama adegan film horror.


"Eh ada tenda." Teriak Mbak Arfi yang membuatku melonjak kaget karena ngelamunin auman serigala.


"Itu pasti puncak!" Aku gila lagi.


"Ngawur!"


Sebuah tempat lumayan luas dan datar. Cukup untuk kira-kira tiga tenda.


"Permisi, apa ini Pos 4?" Tanya kami pada satu-satunya tenda yang berdiri di tempat ini. Kenapa pada tendanya? karena nggak ada orang di sekitar tenda. Nah kan? Kami emang udah mulai kehilangan kesadaran. Masak iya tenda ditanyain.


Tidak ada jawaban. Yang ada hanyalah suara ngorok dari dalam tenda menandakan sang empunya sudah tertidur lelap dan tak mendengar kami. 


"Ini pasti Pos 4." Kataku optimis sambil ngeliat jam. "Tuh udah setengah delapan lebih. Udah pantes kalo kita nyampe Pos 4." 


Kamipun berputar-putar untuk mencari tulisan Pos 4. Memastikan apakah benar ini adalah tujuan kami.


"Disini nggak ada tanda apa-apa."


"Iya, disini juga nggak ada."


"Disini juga enggak."


"Tapi di langit ada jawabnya."


Kami mulai bertingkah aneh dan sang pemilik tenda pun terbangun. "Ini bukan Pos 4, Mas." Ujarnya dengan suara berat dan serak khas orang bangun tidur. 


Agak ngeri membayangkan suaranya mengingat kami ada di tengah hutan lebat yang memungkinkan kalau suara itu adalah suara Genderuwo yang menyamar menjadi pendaki. Semua hal bisa terjadi kan? Trus tiba-tiba lampu tenda mati, trus tendanya ilang. "Hih, serem."


"Trus kita gimana nih? Mau lanjut apa ngecamp sini aja?" Tanya Om Har yang langsung merespon jawaban singkat namun menyakitkan dari penunggu tenda.


Mas Lolok bikin jawaban. "Kalau sampai jam sembilan malam kita belum ketemu Pos 4, kita necamp di tempat yang sekiranya bisa untuk dibikin tenda."


"Wew, jangan Mas. Kita aja start jalan dari jam sembilan pagi. Jangan 12 jam ah. Jam delapan aja. Kalo belum ketemu pos 4, kita ngecamp." Kataku.


Semua setuju.


Jadi masih ada waktu setengah jam lagi jalan dan mencari keberadaan Pos 4. Kita udah males ngobrol dan memilih untuk diam. Berjalan selangkah dua langkah menapaki jalan super nanjak di gelapnya hutan yang belum keliatan ujungnya. Nafas udah mulai sesak karena berebut oksigen dengan makhuk-makhluk yang berfotorespirasi di malam hari. 


Dan Taraaa..


Nggak lebih dari limabelas menit. Kami melihat api unggun dan mendengar riuh rendah suara manusia di atas sana.


"Itu pasti puncak." Aku gila lagi.


"Selamat datang di Pos 4." Kata seorang pendaki dengan ramahnya menyambut. Seolah tahu sumpah serapah yang kami lontarkan demi mencapai tulisan yang nempel di salah satu pohon di tempat ini. "Pos Gombes"


"Berasa ketemu puncak ya." Kami semua ketawa. Tawa lega selega-leganya tentunya.


Pos Gombes bukan seperti camp area Kumbolo atau Kalimati yang superluas untuk puluhan tenda. Sama dengan sebelumnya, Gombes hanya bisa ditinggali 3-4 tenda saja. Saat itu cuman ada satu tenda yang akan ke puncak, satunya adalah tenda orang yang akan turun besok paginya. Tempat ini memang ideal untuk dijadikan camp area karena letaknya yang dilindungi pepohonan tinggi menjadikan kami terlindung dari angin yang bertiup sangat kencangnya.



Ah, udah males tengok kanan kiri. Pokoknya mau bobo.


Pemandangan subuh dari Pos Gombes






















"Pagi, Dunia." Ucapku lebay di pagi-pagi buta seiring tarikan nafas pertamaku keluar tenda. Tiga orang temanku yang sepertinya uenak banget bobo semalem masih belum membuka mata sedikitpun. Aku, yang udah bercita-cita dan bertekad kuat untuk bobo nyenyak malah usrek sendiri kebangun-bangun karena tenda ketiup angin kenceeengg. Sempet kepikiran kalo tiba-tiba tenda ini kebawa angin dan begitu kami terbangun, kami udah nyampe puncak Ogal-agil.

Setelah tayamum dan sholat Subuh, aku meregangkan badan untuk mengkompensasi suhu dingin. Hal yang paling bikin kangen dalam setiap sesi mbolang yang beginiannya ini. Bangun pagi, udah disambut sama yang namanya- "Wow, apaan nih?" Teriakku histeris saat menoleh ke arah timur.

Langit mulai menyala terang karena matahari akan sebentar lagi muncul. Awan-awan putih seputih kapas lengkap dengan gunung Semeru menyembul gagah diantaranya. Lalu di sebelah kanan Semeru, Gunung Bromo yang keliatan jelas kalo sedang terbatuk-batuk. Ketiga temanku langsung meloncat keluar.

Bukan untuk buru-buru pengen tau ada apa. Mereka kesiangan sholat Subuh. Sukurin!


Puncak Ogal-agil terlihat dari Pos Gombes
"Setelah ini, kita masuk hutan Lali Jiwo, Terus Hutan Cemoro Sewu, udah puncak." kata Mbak Arfi sambil melihat peta yang udah bak kitab suci dalam pendakian kali ini.

"Lali Jiwo itu yang serem itu ya?" Tanyaku polos.

Mas Lolok memotong, "Udah jangan diomongin seremnya. Kata siapa serem. Jalan aja terus."

Baiklah, dia sukses jadi motivator.

Ngomong-ngomong soal puncak, dari sini puncak keliatan deket banget. Waktu tempuh versi peta sih cuman dua jam. Tapi sungguh aku tidak akan gampang percaya sama para manusia bermulut madu pembuat peta ini. Di PHP in peta di gunung itu sama nyeseknya ama di PHP in gebetan lho.

Selesai sarapan karbohidrat boongan lagi bernama susu dan roti, kami sudah siap rapi dan wangi untuk mulai menyiksa dua kaki. Tenda udah dikunci aman, pukul 05.30 dan Bismillah... Tanjakan pertama yang cukup bersahabat.

Klasik! kenapa tiap ada di ketinggian gini, selalu rasanya sesak napas. Jadi jalan berapa langkah aja aku udah ngap-ngapan maksimal. Aku bukannya asma, udah aku periksain dan sistem pernafasanku normal, sama ama manusia lain. Aku yakin, ini pasti karena hidungku yang mancung, jadi bikin lubang idungnya kecil dan aku nggak bisa dapet oksigen banyak-banyak di tempat yang memang minim oksigen begini. Sumpah iya, sebabnya karena idungku mancung. Tapi tiap aku kemukakan alasan itu sama temen-temenku, kenapa aku selalu ditimpukin batu ya... *eyesrolling. Skip.

Nggak sampe sepuluh menit dari Gombes, kami sudah masuk hutan Lali Jiwo yang terkenal ada begitu-begitunya. Memang ini hutan kesannya kayak lembab. Teduh banget sampe berasa ada di hutan sore-sore mau maghrib gitu. Tracknya landai-landai dangdut, nyenengin sih sebenernya. Kalau nggak inget cerita serem kalo disini banyak makhluk bukan pemakan umbi-umbian, rasanya aku pengen lama-lamaan disini. Aku udah berdoa banyak-banyak muga-muga selamet dunia akhirat. Semoga kejadian lupa jalan, lupa diri, lupa temen, lupa utang, lupa waktu dan lupa-lupa yang lain nggak kejadian, eh.. udah terang lagi. Ternyata hanya butuh waktu nggak sampe setengah jam untuk melewati hutan ini.


Track Cemoro Sewu
Jadi, inilah yang bernama Cemoro Sewu. Memang tumbuhan yang ada disini semuanya cemara. Nggak ada pohon kelapa, mangga apalagi semangka. Semuanya cemara. Dari sini jalanan mulai agak blind. Jalurnya nggak jelas. Jadi mesti jeli memperhatikan tanda panah yang mulai usang di beberapa pohon. Sebenernya tujuannya keliatan kok, puncaknya keliatan. Jadi yang penting tetap perhatikan mata angin, InsyaAllah selamet dunia akhirat.

"Sudah ada kali ya sejam kita di hutan ini." Aku sudah mulai ngap-ngapan parah. Semakin kesini, kayaknya paru-paruku makin ngambek sama si idung yang nggak pinter cari Oksigen banyak-banyak. "Fiuh, belum keliatan track batu-batuannya."



Menurut sumber terpercaya, setelah hutan ini kami akan ketemu sama track batu-batuan. Disinilah Edelweis tumbuh. Dan itu tanda kalau Puncak Ogal-agil udah tinggal kedip aja. 

"Ini udah hampir dua jam sejak berangkat, kita malah belum ketemu Edelweis." Mbak Arfi yang ikut selonjoran di sampingku langsung ikutan nyaut. "Padahal di peta katanya cuman dua jam udah nyampe puncak."

"Udah terbukti kan kalo peta ini adalah tukang PHP profesional?" Kataku udah mulai sentimentil lagi ama hutan ini.

"Whoi, mulai lapang nih!! Track batu-batuannya disini!!!" Teriak Om Har dari atas sana. "Edelweiiiiissss!!!" teriaknya lagi.

Aku dan Mbak Arfi langsung meloncat naik demi mendengar kata batu dan Edelweis. Langkah seribu menapakai tanjakan 45 derajat pun kami ambil, lalu melemah menjadi limaratus, seratus dan sepuluh langkah. "Om!!! Mana sih batu-batuannya? Boongan ya?" Kataku sambil manyun.

"Ada ini lho." Kata Mas Lolok nyaut. Suaranya emang kedengaran jauh banget. Rasanya mesti teriak ngabisin separuh cadangan suara dulu baru bisa kedengeran. Emang ini hutan juga sehutan-hutannya banget. Ngomong sebelahan aja mesti teriak-teriak.

Limabelas menit setelah kami mendengar suara Om Har itulah ternyaata kami baru bisa bener-bener ketemu ama jalanan landai batu-batuan dan Edelweis yang keliatan putih-putih di atas sana. 

Disini, aku papasan sama dua pendaki yang bawa-bawa dua ikat Edelweis di tangannya. Nggak tau juga sih dia dapet dari ngambilin yang udah jatuh, apa metikin dari pohonnya. Tapi sumpah, Edelweis yang dibawa turun itu nggak ada cakep-cakepnya. Apaan sih cakepnya Edelweis kalo udah ditaro vas di meja? Bunganya aja ngebosenin diliat kan?

Edelweis akan tetap menawan kalau dibiarkan di pohonnya. Take nothing but picture, teman.

"Liat timur." Kata Mbak Arfi yang ada beberapa langkah di depanku.


Pemandangan dari track batu. Bromo (dengan asap hitam) dan Semeru


Widiihh.. Pemandangan yang nggak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Pemandangan dari Gombes versi dari tempat lebih tinggi dan tanpa terhalang pepohonan. Awannya super cakep udah persis sama kasur kapuk, putih. Langitnya keren. Kami cuma duduk diem dan nggak ngomong apa-apa sampai-

"Hei, puncaknya udah keliatan!"

Apa?

"Puncak?" Aku dan Mbak Arfi langsung pasang kuda-kuda untuk lari lagi. 

Bisa aku simpulkan kalau track ini nggak seberat track Pos 3 ke Pos 4. Rasa-rasanya summit sebenernya justru ada di kemarin malam. Tracknya cukup oke untuk ukuran gunung yang masuk jajaran seven summit. Elaaa kayak udah pernah kemana aja. Tapi kata Mas Lolok, summit di Arjuno emang nyenengin. Elevasinya nggak separah gunung-gunung lain seperti Buthak, Lawu, Sumbing, Semeru apalagi Rinjani.

Cuma perlu manjat batu super gede ini dan Bendera Merah Putih di ujung sana udah bisa kita cium-cium.

Dan tepat di saat aku udah mulai merangkak naik, ada sebuah teriakan-

"DEK! JANGAN LEWAT SITU BAHAYA! LICIN! INI JALANNYA!"

Hvft! Udah sok keren, eh jalannya salah.
Dasar dua lelaki di depan itu aja yang salah milih jalur. Mendadak aku manyun lagi. Untung mereka udah jauh, kalo enggak aku pasti lebih milih marah-marah dulu ke mereka baru mau jalan lagi.

Dan ternyata jalan sesungguhnya itu sungguh manis. Landai, dan dapet bonus Gunung Welirang di utara sana. Yang paling penting nggak perlu sampek manjat batu-batuan gede. Meski sedikit memutar, jalannya lebih safe dan -

Yippy!

PUNCAK OGAL-AGIL 3339 mdpl.


Puncak Ogal Agil 3339 mdpl

Pukul sembilan lebih satu menit. 3,5 jam perjalanan santai dari Pos Gombes.

Aku sampai di puncak berdua ama Mbak Arfi. Dan dua lelaki yang  mengaku superhero dan penunjuk jalan malah udah asik cekikikan berdua di puncak sebelah sana. Sebuah puncak berlatar gunung Welirang.

Aku dan Mbak Arfi lebih memilih puncak disebelah sini dengan pemandangan yang sama dari track batu-batu. Semeru, Bromo, awan super tebel yang bikin aku pengen glibukan di atasnya.

Ah, Arjuno ternyata semegah ini. Bener-bener fotogenic buat di foto. Pake kriteria apapun, pemandangan dari atas sini emang bener-bener te o pe. Mau pake SLR, camera pocket ataupun hape, hasilnya pasti masih bikin pengen pingsan kalo diliat. Asli sumpahmati deh.

Puas membuat kegaduhan di alam semesta. Kami berempatpun segera turun karena angin ribut khas di puncak gunung mulai bikin ujung-ujung jari kami mati rasa.

***

Cemoro Sewu lagi. Hutan ini makin kece abz kalo nggak pake nanjak-nanjak dan adu-adu nafas. Bikin kita berempat sepakat untuk bobo-bobo lucu sebentar di tempat ini. Dalih untuk istirahat dan menikmati hutan pun seolah hanya menjadi isapan jempol saat suara ngorok mulai bermunculan. yaela.. ini namanya bobo beneran.

Sampai di Gombes pukul 11 siang, kami memasak karbohidrat betulan dan makan dengan lahapnya. Kami sadar waktu makan selanjutnya adalah di peradaban. Dan masih butuh berkilo-kilo kalori untuk menuruni tanjakan super duper manis di depan sana.

Kalau dari Kebun Teh kesini butuh waktu 11 jam, maka dikurangi 30%, hasilnya adalah 7 jam. Kami meramalkan akan bertemu dengan kamar mandi, lampu listrik, penduduk, makanan khas peradaban dan hal lain-lain di luar kehidupan hutan sehutan-hutannya ini dalam 7 jam ke depan. Pukul 15.00 WIB, "Oke, kita cari warung sate ayam di jam 22.00 WIB."

Sudah nggak keitung lagi berapa kali kami jalan cepet-cepet, lari-larian imut, gelundungan manjah, jalan pelan-pelan, ngesot dikit-dikit, duduk manyun, ketawa ngakak, manyun lagi, udah gitu terus sampe kiamat.

"Kebun Teh, Gaes!"

-End-