HIS Domestic Holiday - Blogger Competition

Senin, 28 Desember 2015

Hello Penanggungan, (Top Pawitra 1653 mdpl)

Gunung Penanggungan, Mojokerto



















Rasanya tidak perlu berpikir dua kali, saat sore itu Mas Lolok mengajakku, Lamidhin dan Mas Pete untuk mendaki Penanggungan. Bagaimana engga, udah lokasinya deket dari domisili, dan walaupun disebut-sebut punya bentuk dan rupa yang mirip dengan Gunung Semeru, Penanggungan bukan merupakan jajaran gunung-gunung tinggi yang untuk memanjatnya perlu waktu berhari-hari.

"Pemandangannya emang nggabisa dibandingin ama gunung api, tapi tracknya mantap buat latihan."

Waktu itu aku ngga begitu peduli. Yang penting bagiku adalah bisa bangun pagi dengan suguhan istimewa langit subuh, fajar shodiq, dan terpaan angin pagi yang tak pernah bisa aku lupakan. ahh, sesuatu yang selalu aku sebut-sebut sebagai, bangun pagi yang sangat berkualitas.

Jumat itu aku sengaja ambil cuti setengah hari siang. Memang direncanakan berangkat selepas dzuhur sih karena teman-temanku harus Sholat Jum'at dulu. Setelah menyiapkan perbekalan dan peralatan secukupnya, kami pun siap membelah kemacetan kota yang hampir selalu setia menemani weekend di jalur Malang - Surabaya.

Tak perlu waktu lama, tepat pukul 15.30 kami sudah sampai di pos perijinan Gunung Penanggungan di Desa Tamiajeng, Trawas, Mojokerto. Setelah mengurusi ijin dan membayar retribusi sekitar Rp. 7.000 per orang, kami mendapat satu buah plastik merah besar untuk menampung sampah dan membawanya turun kembali.

"Nanti sampahnya dikumpulin disitu ya, Mas." Kata mas-mas ramah penjaga pos perijinan ke Mas Lolok sambil menunjuk sebuah tempat sampah besar disamping pos. "Abis itu dapet sticker." Lanjutnya.

"Sticker apa, Mas?" Tanyaku penasaran.

"Bukti kalau udah bawa balik sampahnya lagi, Mbak. Kalo ngga dibawa balik nanti diikutin sama penunggu Penanggungan sampe rumah." Jawab mas-mas ramah sambil tersenyum.

Wah, usaha yang keren ya untuk mempertahankan 'kesucian' titipan anak cucu.

Setelah perijinan beres, kami sholat dan bersantai sebentar sambil memesan es nutrisari sebagai dalih persiapan kebutuhan cairan tubuh. Di Penanggungan emang ngga ada sumber air sama sekali. Ini emang gunung sih, tapi kenapa panas banget ya, bikin haus ngga nahan  #fiuh


Track berbatu, mengawali perjalanan

Tepat pukul 16.00, kami berdoa dan mulai melangkahkan kaki. Hari emang lumayan teduh, track awal adalah jalanan berbatu menurun yang sepertinya adalah jalan para penduduk mencari kayu bakar. Tidak begitu banyak pemandangan bagus, kanan kiri jalan adalah ladang warga. Aku mulai kepanasan karena berkeringat, oke aku mulai ingat. Penanggungan berketinggian 1653 mdpl, ketinggannya ngga lebih tinggi dari kota Batu. Kalo Batu dan Malang sekarang bisa mencapai suhu 31 derajat, begitupun tempat ini.



Ahh, malam akan sangat menyenangkan. Aku bisa sepuasnya liat bintang tanpa takut kedinginan. Semoga aja, ada. 

Pos 2 Gunung Penanggungan



Senyum-senyum sendiri membayangkan betapa akan indahnya malam ini, ngga kerasa kami sudah sampai di pos 2. Mana pos 1 nya? Oalah.. ya pos perijinan itulah pos 1 nya. Lucu juga sih, belom pegel, belom capek, udah nyampe pos 2 aja *mulaisombong *mulaisongong *mulaitakabur



Sombong, songong dan takabur itulah yang membuat kami berempat tidak berhenti di Pos 2. Hari sudah mulai gelap, maklum setelah Pos 2 ini, jalanan sudah mulai masuk hutan. Tracknya juga masih bersahabat dan minim tanjakan. Landai, teduh, ngga dingin, ahh betapa menyenangkannya camping kali ini.






Pos 3 Gunung Penanggungan

Sekitar 30 menit jalan santai, kami sudah bertemu dengan Pos 3. Wow, jarak antar tracknya emang ngga jauh. Prediksi Mas Lolok bahwa kita akan sampai puncak bayangan nggak lebih dari jam 19.00 sepertinya emang bener. Jujur awalnya sempet nggak percaya, masak iya secepet itu. Mega merah sudah terlihat di langit barat, kami memutuskan untuk berhenti sejenak, tayammum dan sholat Maghrib. 



Di depan kami jalanan menanjak mulai terlihat gelap. Langit tidak begitu cerah karena memang ini adalah awal musim hujan. Ditambah kami sedang ada di dalam hutan lebat yang membuatku ingin cepat-cepat mengakhiri perjalanan ini dan sampai di puncak bayangan. Berasa sesak napas kalo kelamaan liat yang gelap-gelap. Apalagi, debu jalanan tebal sudah mulai bikin batuk-batuk seiring pijakan kaki kami. Wow, makin kepengen cepet-cepet keluar hutan.
Tanjakan setelah Pos 3, dilihat dari atas


"Setelah Pos 4 nanti jalanan baru bener-bener nanjak dan berkerikil. Jadi agak licin." Kata Mas Pete waktu itu. Lamidhin yang sudah mulai ngos-ngosan sudah memandang jalan dengan sedikit putus asa. Dia bukannya nggak kuat. Tapi dia minim persiapan. Setelah Semeru akhir tahun lalu, dia sama sekali nggak pernah tracking lagi, dan juga nggak pernah olahraga. Aku sekarang sadar, olahraga fisik memang penting. Kalo nggak gitu, nafas pasti ngos-ngosan banget. Kalo nggak pinter atur nafas, supply oksigen ke otak akan berkurang dan mendadak pusing. Kalo udah gitu, biasanya jadi pengen muntah. 



"Sabar, bebeb. Bentar lagi nyampe." Aku memberi semangat temanku yang sudah mulai pusing dan mual-mual ini. Jalan kami mulai pelan, antara nunggu Lamidhin yang masih tertinggal di belakang, debu tebal dan jalanan menanjak sudah mulai bikin nafas kejar-kejaran.

Tak berapa lama setelah itu, Pos 4 sudah ada di depan mata.Ada banyak orang disitu dan kamipun memutuskan untuk beristirahat.

"Mau naik ya, Mas?" Tanya salah seorang pendaki yang memakai baju petugas. "Ati-ati, dalam beberapa hari ini kami sudah bolak-balik mengevakuasi pendaki yang jatuh."

"Hah? jatuh gimana Pak?" Tanyaku.

"Macem-macem. Ada yang kepeleset karena alas kakinya ngga sesuai medan. Ada yang turunnya sambil lari. Akhirnya kaki terkilir dan nggakbisa jalan." Terang petugas itu. "Makanya, nanti ati-ati ya. Ini bukan track pasir, tapi batu kerikil. Jadi kalau turun dari puncak jangan sampai lari. Alas kakinya juga yang khusus treking. Walaupun ketinggian nggak seberapa, tapi yang namanya gunung tetep punya tantangannya masing-masing."

Kami mengangguk tanda mengerti. Dan beberapa petugas sedang memanggul tandu pun lewat di depan kami. Seorang cewek ABG tertidur lemas di atasnya. Kakinya terkilir. 

Puas beristirahat, kami pun lanjut berjalan. Benar, setelah pos 4 ini, jalanan memang nanjak-nanjak asoy. Hampir 45 derajat dengan kondisi jalanan yang parah banget. Bukan cuma pasir dan batuan licin, tapi debu tebal juga masih setia menemani. Untung juga sih ambil perjalanan malam, kami nggak bisa lihat dengan jelas berapa meter kedalaman debu yang kami injak. Setidaknya, kami masih bisa menghibur diri kalau debunya nggak setebel Pelawangan Senaru #uhuk

Rasanya, memang nggak afdhol kalau jalan-jalan tanpa gedebukan. Setelah beberapa kali bergelindingan di track yang bikin pengen pulang seketika, kami pun sampai di sebuah tanah lapang nan luas nan indah nan lucu nan menyenangkan bernama Puncak Bayangan.


Puncak Penanggungan terlihat dari Puncak Bayangan
Tempatnya emang ngga segede lapangan sepak bola, tapi cukup untuk menampung lebih dari 10 tenda ukuran sedang. Walopun begitu, tempat ini emang ngga terlalu rame dibanding yang lain. Waktu itu sih.

Dan pemandangan yang kami dapat adalah... taraa... lampu kota. Sedih sih, cuman itu doang, langit gelap tapi tanpa bintang karena ketutup mendung. Padahal lampu kota dan bintang adalah pasangan serasi yang bikin hidup berasa lengkap seketika. Ahh sedihnya... Yaudahlah, harus banyak berdoa semoga nanti malem mendungnya pergi jauh-jauh.

Setelah tenda berdiri dengan apik, kami mulai memasak. Menu malam ini adalaaahh mie instan rasa ayam bawang. Baru besok pagi kita bakal makan mie instan rasa soto. Hahaha..  Lucu juga sih, setelah aku ingat-ingat selama ini kita emang selalu makan mie instan tiap camping. Bukan apa-apa, bukan karena males bawa beras atau gimana, tapi kita pada nggak bisa masak nasi pake nesting. Ya main aman aja sih, mending makan mie instan yang jelas-jelas jadinya bakal enak. Daripada kelaperan terus makan temen sendiri *imajinasiliar

Ahh, ternyata mendung belum bener-bener bisa ilang dari atas langit Penanggungan. Malam itu kami habiskan dengan ngobrol ngalor ngidul, maklum kami memang jarang ketemu sejak aku resign dari tempat kerjaku yang lama. Wah jadilah momen ini sebagai ajang dan sarana rasan-rasan tentang tokoh-tokoh terdahulu. Bahagianya… Kebahagiaan memang harus diciptakan sendiri ya, teman. Bintang memang indah, tapi bersama kalian seperti ini juga nggak kalah indahnya *gombal

Langit subuh di Puncak Bayangan
Dan pagi pun menyapa. Alarm membangunkanku lebih pagi dari biasanya. Ahh suasana di luar tenda syahdu banget. Langit cerah dengan hiasan sisa bulan semalam. Meski bukan purnama, tapi tetap terlihat indah. Angin bertiup kencang tapi nggak membuatku menggigil kedinginan. Fajar shodiq terlihat menawan di langit subuh. Aku segera tayammum dan memulai sholatku. Beberapa kali mukenaku tersibak angin, tapi nggak mengurangi asiknya sholat Shubuh pagi itu.

Setelah sarapan dan pemanasan kecil, kami mulai melangkah menapaki track summit gunung Penanggungan. Cuaca cerah, angin seger, dan tanpa sesak nafas membuatku semangat mengayunkan kakiku, mengatur langkah demi agar tidak menginjak batu-batu segede kepalan tanganku yang menghiasi jalur pendakian. Memang bukan pasir, tapi tanah berhiaskan batu besar kecil seperti ini juga rawan jatuh kalau kita nggak ati-ati.

“Udah, pelan-pelan aja. Summit nya ngga nyampe sejam kok.” Kata Mas Lolok
Track summit Penanggungan, dilihat dari atas

menyemangati.

Aku terheran-heran, “Jalan kayak gimana tuh setengah jam? Orang tracknya gila-gilaan gini. Nggak mungkin ah, ada kali 2 jam lagi baru nyampe puncak.” Kataku sambal ngos-ngosan dan selonjoran diatas batu.

Memang puncak keliatan dekat, tapi tracknya bener-bener bukan track biasa. Enggak karuan deh pokoknya. Udah nanjaknya 45 derajat gitu, tanah dan batunya rawan bikin kita dlosoran. Bohong banget kalau ada yang bilang track Penanggungan ini ecek-ecek. Kalopun ada, berarti emang itu manusia udah mati rasa, udah punya cadangan berpuluh-puluh liter oksigen di paru-parunya, punya jantung lebih dari satu, dan tubuhnya udah berhenti memproduksi asam laktat #lebay


Eh, ada goa.

Goa batu
Vandalisme yang memenuhi Goa
Sekitar satu jam perang dengan track ini, kami bertemu dengan sebuah goa kecil. Bukan goa juga sih namanya, hanya beberapa buah batu besar yang bertumpuk-tumbuk dan menjadikannya seperti sebuah goa. Engga terlalu besar, tapi muat untuk dua sampai tiga orang. Sayangnya, bau-batuan di dalam goa udah penuh dengan vandalism tangan-tangan usil yang sebegitu inginnya dikenal orang. Bagaimana engga? Emang ada yang peduli toh, siapa-siapa aja yang pernah masuk goa ini? Apa coba tujuannya nulis-nulis namanya sendiri di batu ini kalau bukan saking kepengennya namanya dibaca orang.

Merah Putih di Puncak Pawitra, terlihat dari
track pendakian
Yeay. Ada bendera merah putih diujung sana, menandakan puncak sudah semakin dekat. Angin bertiup makin kencang, membuat merah putih yang sudah mulai usang dimakan cuaca itu berkibar kesana kemari. Aku sedikit berlari menyusul teman-temanku yang sudah duluan sampai.












Yeap! Puncak Pawitra 1653 mdpl.

Pawitra yang selalu berkabut
Seperti namanya, Pawitra adalah Bahasa sanskerta yang berarti kabut. Tempat ini memang tinggi, tapi aku hampir nggak bisa melihat riuhnya kota dari sini karena ketutup kabut. Di sisi sana, seharusnya aku bisa melihat gunung Arjuno Welirang, tapi engga bisa juga karena ketutup kabut. Mungkin, ketinggiannya yang setengah-setengah bikin kita berada di tengah awan, dibawah awan engga, diatasnya juga belom. Puas ketawa-ketawa sendiri melihat puncak Pawitra yang cuman gitu-gitu doang, akhirnya kita leyehan diatas rumput dan terdiam memandang langit. Merasakan tiupan angin ribut yang terasa halus membelai wajah.

abaikan gambar ini
Sekitar setengah jam ada disini, berfoto sebentar untuk mengabadikan momen, kami pun berjalan hati-hati untuk turun. Mengingat pesan Bapak-bapak petugas di Pos 3 kalau kita dilarang lari. Ngerepotin mereka soalnya kalo sampe ada jatuh-jatuhnya :p

Penyiksaan pun dimulai.

Turunan yang harus dilalui ketika kembali
ke Puncak Bayangan
Gabungan antara, turunan tajam yang nggak bisa dipakai lari-larian, panas matahari pas diatas kepala, panasnya cuaca Mojokerto menjelang musim ujan, Tanah pun ikutan panas dan bikin badan berasa di oven, keril yang nggak begitu berat tapi jadi berasa berat-beratin banget dan haus bandel tapi nggak bisa banyak minum karena persediaan air nggak banyak itu PASANGAN KLOP yang bisa bikin gila!

“Udah nggak usah banyak istirahat, biar cepet nyampe Pos 2.” Kataku waktu itu sambil mengelap keringat yang mulai mengalir deras melewati sisi jilbabku dan bikin mata perih. Semua mengangguk setuju tanda ingin cepat-cepat mengakhiri penderitaan di tempat yang sepanas panggangan ayam ini.

Dan sekitar 1 km sebelum Pos 2, kami melihat ada seorang Bapak-bapak duduk diatas motor dan di jok belakangnya terparkir sebuah rombong dagangan yang entah apa isinya.

“Es tebunya, Mas, Mbak.” Kata Bapak itu. “Masih adem, asli.”

Duh Gusti, bak hujan salju di tengah gurun pasir. Sumpah, nggak pernah rasanya minum es tebu se-enak dan se-seger ini sebelumnya.

Sambil membayar es yang harganya cuman duarebu rupiah per bungkusnya itu, aku membisikkan sebuah kalimat kepada Bapak tukang es, “Pak, kau adalah malaikat penyelamatku.” Dan tiga keril teman-temanku pun mendarat pas di kepalaku.

*Note: Alinea terakhir adalah imajinasi saya

Hi, crew!





  

Jumat, 18 September 2015

Top of Rinjani, Taklukkan keegoisanmu disini

Independence day trip
Unforgettable moment, unforgettable trip, unforgettable friends
none can be forgotten

Savana Pos 2
Setelah cek sekali lagi barang-barang yang ada di dalam keril, kami bersantai di gazebo pinggir jalan sambil menunggu pick up yang akan membawa kami ke Sembalun. Pos perijinan pendakian Gunung Rinjani. Dari sini puncak Rinjani sudah terlihat sangat jelas. Sejelas awan pagi itu, sejelas birunya langit diatas Desa Senaru. Desa terakhir tempat Dimas menyewa rumah penduduk sebagai homestay untuk kami bersembilan.

Pos Perijinan Pintu Sembalun



Arlojiku menunjukkan pukul sembilan lebih sedikit saat kami sampai di Sembalun. Sambil menunggu Dimas yang mengurus administrasi pendakian, kami bisa membeli aneka minuman manis dan air mineral yang dijual murah di dekat pintu masuk TNGR. Lumayan rame, walaupun tidak seramai TNBTS. Turis asing banyak terlihat disini. Beberapa sudah berjalan masuk ke arah perkebunan penduduk yang merupakan jalan masuk TNGR, bersama dengan guide dan porternya.

Tepat pukul 09.30 Dimas mengajak kami semua berdoa. Semoga trip Rinjani 3 hari 2 malam ini diberi kelancaran. Semoga puncak Rinjani yang terlihat makin jelas dari tempat kami berdiri sekarang dapat segera kami ciumi. Amin



Pintu masuk, perkebunan penduduk

Setelah kira-kira lima belas menit berjalan menyusuri perkebunan penduduk, selamat datang di Savana super luas yang menyambut para pendaki gunung Rinjani. Kembali ke tempat seperti ini rasanya... seperti kembali ke rumah *Halah *lebay
Tapi bener, melihat semua hal yang ada di depan mataku saat ini. Savana, hutan hijau, langit biru, rumah-rumah penduduk yang samar terlihat dibawah sana, dan puncak Rinjani yang berdiri kokoh didepan mataku... Siapa yang tidak jatuh cinta? Ini benar-benar kombinasi yang khas. Lalu perasaan bahagia yang entah bagaimana aku melukiskannya. Kupandangi wajah temanku satu-satu.
Aku baru sadar, cinta itu sederhana. Jatuh cinta itu sangat sederhana




Padang Savana yang menyambut para pendaki
















Puncak Dewi Anjani terlihat jelas dari Savana
Tapi walaupun begitu. Setiap tempat punya sisi indah dan 'siksa' nya masing-masing. Rinjani sungguh berbeda dengan Semeru. Satu jam berjalan, kami sudah ngos-ngosan. Kami seperti dijemur ditengah Savana. Udara disini nggak dingin, angin di Savana ini nggak bertiup kencang seperti Oro-oro Ombo. Aku malah merasa badanku berkeringat, matahari dengan pongahnya seperti tertawa pada kami yang mulai sibuk mengatur nafas, mengelap keringat dan melihat ke belakang untuk sekedar memastikan seberapa jauh kami berjalan. Track Pos Perijinan ke Pos I memang minim tanjakan, tapi percayalah, jalanan landai di tengah panasnya Pulau Lombok juga cukup menyiksa. Apalagi kami harus berhemat air, karena disini sumber air nggak dilewatin seperti di Semeru *ah lagi-lagi ngebandinginnya ama Semeru :(
Sumber air disini harus didatengin, mungkin sekitar 30 menit - 1 jam dari track. Lumayan jauh.

"Dimas, kira-kira nyampe Pelawangan jam berapa ya?" Tanya Mbak Meli yang udah mulai menyeret langkah kaki ketika kami sampai di Pos I. 
"Kira-kira maghrib, Mbak."

Wow, jadi masih kira-kira 6 jam lagi. Batinku sambil melirik jam tangan. Tengah hari, pukul 12 siang.

"Tenang aja, nanti kita istirahat agak lama di Pos II. Setelah itu jalanannya ngga panas kok. Masuk hutan."

Denger kata "hutan" berasa denger kata "puncak". Setidaknya itu yang aku rasakan. Panasnya savana yang ngga berujung ini bikin kepala tiba-tiba pusing, khas orang kepanasan. Jujur aku mulai bosan dengan jalanan ini. Tapi seperti motto yang sukses membawaku ke Puncak Mahameru, setiap perjalanan akan indah jika kita menikmatinya.

Aku mulai mengedarkan pandangan ke sekeliling jalan. Aku sudah nggak peduli pantangan yang ku buat sendiri tentang "Kalau jalanan nanjak, jangan lihat keatas tanjakannya, makin capek, berasa kejar-kejaran dengan jalan". Akupun sadar, dibalik semua siksaan yang Rinjani buat untukku dan teman-temanku, view yang menemani perjalanan kami memang sungguh menakjubkan. Bukit-bukit hijau terbentang memanjang searah jalur pendakian. Awan putih seolah makin dekat walaupun seperti enggan memayungi perjalanan kami. Langit biru indah membuatku merasa bersalah sempat merindukan mendung di tengah cerah cerianya hari ini. Dan yang membuat perjalanan ini berbeda adalah, puncak Rinjani terlihat jelas. Seolah memanggil-manggil dan ikut menyemangati langkah kaki kami yang mulai berat. Ini bedanya. Mahameru tersembunyi dibalik pepohonan. Tapi Puncak Dewi Anjani terbentang megah seolah ada tulisan besar terbentang dipuncaknya "Ini tujuanmu."


Pemandangan di Pos 2, Puncak Dewi Anjani
Pukul dua siang lebih sedikit kami sampai di Pos II. Untuk mempersingkat waktu, kami hanya memasak energen untuk menambah tenaga. Perjalanan akan dilanjutkan pukul 3, jadi kami ada cukup waktu untuk sekedar menjamak ta'dhim sholat atau tidur sejenak. Savana luas, terbentang luas di hadapanku. Walaupun sungguh indah, tapi bukit-bukit gersang yang mengkilat diterpa sinar matahari membuatku tiba-tiba malas berjalan dan memanggang kepalaku sendiri ditengah terik. 

 
Tanjakan indah selepas Pos 2
Tapi pada akhirnya, komitmen haruslah tetap menjadi komitmen. Tepat ketika jarum arlojiku menunjukkan pukul 15.00, Dimas meminta kami segera prepare dan melanjutkan perjalanan. Dengan malas aku membenahi letak kerilku dan mulai menggendongnya. Mulai mencamkan baik-baik di kepalaku yang mulai panas, bahwa dalam tiga hari dalam hidupku ini akan lebih banyak kuhabiskan waktu untuk berjalan dan dipeluk keril berjam-jam. Tanjakan indah sudah menanti, tak ada pilihan lain, mari lewati.

Dimas benar, sekitar satu jam berjalan, jalanan mulai teduh. Kami memasuki hutan rimbun dan udara segar dapat kami hirup. Agak lega rasanya. Pelawangan sudah terlihat di depan sana. Jalanan makin nanjak dan berdebu tebal khas jalan tanah pada musim kemarau.Tanjakan ini benar-benar menyiksa fisik, kemiringannya hampir 45 derajat. Pelawangan memang sudah menanti diatas sana, dekat di mata tapi jauh di kaki.

"Ma, coba tengok belakang." Mbak Arfi yang berada kira-kira satu meter dibelakangku tiba-tiba memanggil.

Spontan aku, Mas Muchlis dan Dian berbalik badan. Keindahan sebuah senja di ketinggian serta merta menyihir kami berempat. Dari sini, kami dapat melihat langit mulai menyala jingga, lengkap dengan kapas putih terhampar luas.

"Kita udah diatas awan," Pekikku tertahan.

Hal itu juga yang membuat kami terdiam, dan tanpa sepatah kata kami sepakat untuk duduk, menikmati semilir angin senja dan view yang nggak tau kapan lagi dapat kami nikmati setelah ini. Tak ada percakapan apapun, hanya diam dan bermain dengan pikiran masing-masing. Tak ada komentar apapun, kami sama-sama tahu. Tak ada diskusi apapun, kami sama-sama sepakat. Hanya satu kata melukiskannya. Indah. 

Angin berarak membuat sekawanan awan itu bergeser sedikit. Bak kapas putih tersibak angin, ada sesuatu dibawah sana. Mata kami memicing. Memastikan apa yang kami lihat bukanlah negeri lain. Bukan negeri dongeng yang menjelma nyata karena imajinasi kami.

"Itu air laut bukan?" Tanyaku entah kepada siapa. Ketiga temanku mengangguk.

Dibawah kapas putih itu, terbentang sebuah pemandangan biru. Samar terlihat perumahan penduduk lengkap dengan bibir pantai Lombok yang terkenal elok. Pasir putih nya terhampar indah walaupun tak seputih awan. Savana penuh siksaan dan bukit-bukit gundul yang mengundang sumpah serapah tadi, terlihat innocent seperti tak pernah berbuat salah. Ini surga. Lagi-lagi, tak sanggup kudokumentasikan momen ini karena kamera buatan manusia nggak akan bisa mewakili lensa yang diciptakan Tuhan, dan di insert ke dalam mata kita.

Tak akan puas memandanginya. Tapi kami masih ada misi lain. Kamipun berdiri, dan dengan berat langkah berbalik dan melanjutkan perjalanan. Pelawangan Sembalun semakin terlihat jelas dari ketinggian ini.  


Tanjakan POS - Sembalun
Hari sudah mulai gelap saat aku bertemu dengan tanjakan terakhir. Pepohonan mulai banyak tumbuh, akar-akarnya cukup membantu pijakan kami yang sudah mulai sering terpelorot karena licinnya debu. Kemiringan seperti ini membuat kami agak susah menjaga keseimbangan. Suara angin di sela pepohonan sempat bikin merinding. Kami yang tadinya berkeringat kepanasan mendadak menggigil kedinginan. Kami baru sadar, angin sedang bertiup dengan sangat ributnya, terbukti dari suara-suara decitan pohon dan gemerisik gesekan daun yang begitu kerasnya. Segera kupakai jaket dan sarung tangan. Masing-masing dari kami sudah terpasang headlamp, hari sudah benar-benar gelap. Masalah lama kuhadapi kembali. Nafasku makin sesak, seperti benar-benar sedang berebut oksigen dengan teman-teman batang pohon di kanan kiriku.


Credit to : Trekkingrinjani.blogspot.com, Subuh di Pelawangan Sembalun
Tepat pada pukul delapan malam, ku jejakkan kakiku di tempat bernama Pelawangan Sembalun. Lampu-lampu tenda menyala warna warni mengikuti warna tendanya. Menciptakan kelap kelip tersendiri. Beberapa pendaki nampak berkeliling dan bergerombol mendekati api unggun besar yang nampak susah payah mempertahankan nyala apinya ditengah terpaan angin ribut yang seolah tanpa henti. Tempat ini gundul, tanpa pepohonan. Berbentuk seperti jalan setapak di puncak gunung yang hanya bisa ditempati satu tenda di tiap barisannya. Angin kencang segera menerpa tubuhku yang mulai kedinginan karena tanpa kaos kaki, tapi tak membuatku ingin cepat-cepat masuk tenda karena langit malam terlalu indah untuk segera ditinggalkan. Satu hal yang selalu membuatku galau di gunung. Langit malamnya bagus, bintangnya keren, semua kelihatan jelas dari yang paling kecil hingga yang paling besar. Tapi dinginnya udara mengharuskanku segera masuk tenda. Aku sepenuhnya sadar, Hipotermi itu sangat berbahaya. Seandainya bisa punya tenda transparan *berimajinasiitubolehkok

Satu jam kemudian, rombongan yang sempat terpisah sudah kembali berlumpul untuk menikmati makan malam di depan tenda. Karena teramat lelah, kami sepakat untuk memulai summit attack pada pukul 4 pagi, toh kami nggak dikejar waktu untuk sampai di puncak. Ngga ada gas beracun yang siap menerkam kami seperti Mahamaeru. Mungkin emang ngga bakal dapet sunrise di puncak, never mind. Kondisi tubuh juga perlu dijaga. Nggak ada klinik apalagi rumah sakit disini, kesehatanmu, harus kamu jaga sendiri. Lepas pukul sepuluh malam, kami sudah meringkuk dibalik sleepingbag. Tenda kami tak henti diterpa angin, desisnya pun belum bisa hilang dari pendengaranku. Angin benar-benar sangat ribut diluar sana.

Pukul 04.00 pagi tepat. Kami bersepuluh sudah berpakaian lengkap dengan sepatu. masker, dan tracking pole. Dimas memimpin berdoa sambil berpesan bahwa kami nggak boleh berpencar-pencar lagi seperti perjalanan ke Sembalun. Angin ribut seperti semalam masih kuat menerpa badan kami yang dibalut jaket tebal. Aku masih merasakan sesak itu, aku bernafas pendek-pendek dan sangat cepat walaupun jalanan pembuka summit attack itu berupa turunan. Hal sama persis yang aku rasakan di perjalanan Kalimati-Arcopodo. Kuatur nafasku dengan ritme pelan, dan tetap tenang. Jalanan mulai menanjak, tapi tak kurasakan lelah di kakiku. Hanya nafas yang terus memburu membuatku harus beberapa kali berhenti dan mengatur nafas sebentar sambil melihat ke atas langit untuk mencari semangat dari Venus yang terlihat menawan di kala fajar.

Jalanan menanjak kini sudah berubah menjadi jalanan pasir khas puncak gunung berapi. Tandus, pasir gembur dan membuat kaki melesak ke dalam tanah. Jalan ini sempit diantara tebing muat hanya dua sampai tiga orang saja sehingga kami harus bergantian melewatinya. Angin ribut tidak begitu kami rasakan disini karena kami berada ditengah tebing. Berjalan enam langkah, merosot dua langkah, nyungsep, merangkak, sudah menjadi style kami. Di depan sana, jalanan landai sudah terlihat. Tapi sama dengan sebelumnya, dekat di mata namun jauh di kaki. 


Awan dari track summit attack
Sudah fajar rupanya ketika kami sampai di jalan landai ini. Disini kami bisa merasakan angin ribut kembali menggoyang-goyangkan tubuh kami. Dari sini, kami sudah bisa melihat awan pagi. Langit timur menyala merah siap memunculkan sesuatu yang kami nanti-nantikan sebagai penghilang rasa dingin. Sebagai esensi penting tumbuhan untuk berfotosintesis sehingga aku tak perlu berebut oksigen dengan mereka yang sedang berfotorespirasi. Decak kagum tak hentinya terlontar dari mulut kami. Pukul 05.15 WITA. sudah masuk waktu Subuh.

Lagi-lagi, bisa dibayangkan indah dan syahdunya sholat di tempat seperti ini? Ketika kau bangun dari sujud, yang kau lihat adalah pasir berkilauan dan angin sejuk menerpa wajahmu. Ketika kau menolehkan salam ke kanan, kau lihat awan putih berarak seolah siap di peluk, dan ketika kau menoleh ke arah kiri, bayang-bayang gugusan Gunung Rombongan menghiasi langit utara yang masih gelap.


Ah, tempat seperti ini memang selalu penuh decak kagum.

Setengah jam kami beristirahat melepas lelah di tempat ini. Langit pagi ini memang terlalu sayang untuk dilewatkan. Sengaja kami menunggu sunrise disini karena toh kami tidak terburu waktu untuk sampai di puncak. Tak kami hiraukan angin dengan kecepatan tinggi yang membuat kami susah menjaga keseimbangan saat berdiri. Kami sama sekali tak ingin kehilangan moment ini.

Dan taraa... yang ditunggupun datang

Sunrise di Rinjani
Matahari menyembul dibalik kapas-kapas putih yang berarak teratur dipagi itu. Lagi-lagi, kami seperti dibius keindahan. 
Subhanallah... Maha Suci Allah yang menciptakan alam seisinya dengan segala keindahan. Matahari pagi itu, 16 Agustus 2015. Merah menyala tapi tak menyengat kulit sedikitpun. Cahayanya teduh seteduh hari itu #lebaaayy




Track landai summit attack
Kamipun melanjutkan langkah. Setengah jam berjalan, hari mulai terang dan kami dapat melihat sekeliling. Dan wow! tengok ke kanan, segara anak sudah membiru indah dibawah sana. Rinjani benar-benar penuh kejutan. Jalanan summit attack juga tidak separah Semeru. Puncak agung Dewi Anjani sudah terlihat jelas dari track ini.

"Aku tunggu disini ya." Ujar Dimas yang berjalan paling depan. "Track nya jelas. itu puncaknya juga sudah kelihatan. Silahkan langsung lanjut."
"Nyampe puncak jam berapa aja gapapa kan?!" Tanyaku waktu itu.
"Nggak ada batasan. Tapi angin ribut ini arahnya melawan jalur pendakian, berat kalau mau lanjut. Boleh aja dicoba, tapi kalau jam 8 kalian belum nyampe puncak, mending turun aja. Kita ada agenda lain ke Segara anak. Kalau dibawa terlalu nyantai, kita ngga bisa nyampe Segara anak sesuai rencana."
"Oke!" Jawabku mantap.

Puncak Dewi Anjani terlihat jelas dari track
Dari keenam orang, cuman aku dan satu orang lagi yang lanjut naik. Yang lain sepakat akan menunggu disini bersama Dimas. Track seperti ini bukan tanpa tantangan. Jalanan ini memang landai, tapi puncak keliatan masih jauh disana. Ditambah angin bertiup sangat kencang seolah membuatku berasa limbung. Arahnya memang berlawanan dengan track pendakian. Jadi bikin kita makin capek karena mesti ekstra tenaga untuk berjalan. Capeknya pun jadi ngga jauh beda dengan jalanan menanjak curam tapi jarak tak terlalu jauh. Aku melirik jam tanganku, sudah hampir jam 07.00 pagi. Artinya aku punya satu jam lagi untuk sampai di puncak.

Oke, semangat. Aku juga nggak ngerasa capek yang kayak gimana banget kok. Nafasku yang tadi memburu sekarang juga sudah mulai teratur. Aku memang merasa sedikit mengantuk, tapi sama sekali nggak menyurutkan niatku untuk lagi-lagi melesak-lesak ke dalam tanah, nyungsep dan jumpalitan di track ini. Kuayunkan tracking pole ku seirama dengan kaki-kakiku yang mulai bergerak naik. Sambil menimmati pemandangan Rinjani yang selalu mengundang decak kagum ini.

Huff, Aku sudah sampai di 'puncak kecil' Rinjani. Gunung Barujari yang berada dj tengan Segara Anak makin terlihat jauh. Angin bertiup makin kencang disini, menerbangkan debu yang dihasilkan dari langkah berlarian turun para pendaki. Disini aku mulai merasa pemikiranku salah. Jalanan setelah ini berupa turunan, lalu dilanjutkan dengan tanjakan curam. Berjalan dijalanan landai dengan kondisi angin seperti ini aja rasanya setengah mati, gimana kalo di tanjakan 45 derajat seperti itu. Dari sini terlihat para pendaki banyak yang mulai mendaki tanjakan terakhir. Aku melirik arlojiku, pukul setengah delapan pagi.

"Mau lanjut naik, Mas?" Tanyaku pada Mas Lolok.
"Terserah, tapi pasti nggak jam delapan, mungkin lebih. Kalau lihat medan dan cuacanya, mungkin dua jam lagi sampai puncak." Jawabnya setengaj tak yakin.


Pemandangan puncak kecil tempatku berdiri saat itu
Ingin rasanya menjawab, 'Yuk, lanjut jalan.' Semangatku sama sekali nggak berkurang.
Tapi seketika itu kuingat pesan Dimas, 'jam delapan belum sampai puncak, kalian turun ya.'

Kita berangkat bareng-bareng dengan tujuan sama. Memang, ketiga teman kami sudah duluan jalan. Kami terpisah sejak di tanjakan pertama di tengah tebing. Mereka hebat, mereka kuat, tapi entah kenapa, aku tidak ingin seperti mereka. Keputusan keempat temanku untuk tidak melanjutkan ke puncak bukanlah tanpa alasan. Angin memang bertiup dengan sangat kencangnya. Butuh tenaga ekstra dan semangat berlipat ganda untuk melanjutkan ke puncak dengan kondisi seperti ini. Beberapa porter yang kami temui mengatakan, ini bukan hanya sekedar angin ribut, tapi badai.

Gambling juga rasanya. Ngeliat tanjakan terakhir untuk sampai puncak emang keliatan berat, tapi aku yakin aku masih bisa. Apalagi ngga ada batas waktu untuk sampai disana. Tapi aku nggak mau mengecewakan Dimas kalau sampai aku masih memaksa naik, karena itu akan membuat semua agenda tripnya berantakan. Kami berangkat rame-rame, dengan tujuan puncak dan Segara Anak. Kalau puncak nggak bisa mereka dapet, mana bisa aku membiarkan mereka nggak dapet Segara Anak hanya karena keegoisanku menaklukkan puncak sendirian?

Kulihat beberapa pendaki yang mulai melangkah turun.

"Udah nyampe puncak, Mas?" Tanya Mas Lolok.
"Baru naik dikit, Mas. Anginnya makin banter yang disono. Kami cuman naik dikit, ah udah mau turun aja, mau lanjut ke Segara Anak." Jawabnya ramah khas penduduk gunung.

Hatiku seperti diketok palu. Aku menarik nafas panjang. "Yaudah, Mas. Kita turun aja. Cuaca sepertinya nggak memungkinkan kita bisa jalan cepet. Kasian yang lain nungguin kita. Nanti kapan-kapan, pasti bisa kesini lagi." Ucapku sok dewasa.

Mas Lolok mengiyakan. Ada raut muka kecewa di wajahnya yang kotor karena debu jalan. Kita berfoto sebentar ditempat ini untuk sekedar mengobati kecewa. Sambil menikmati view Segara Anak dari ketinggian. Ahh, dari sinipun, Segara Anak sudah terlihat sangat menawan. Dengan pemandangan Gunung Barujari yang begitu angkuh ditengah airnya yang terlihat berwarna tosca menyala dari sini.

Seketika aku tersenyum. "Yuk turun. Kita akan kesana setelah ini." 


Foto berlatar Segara Anak dan gunung Barujari







Tak sampai setengah jam, aku sudah bisa melihat Mbak Meli sedang sibuk berfoto selfie dengan barisan edelweis di sepanjang jalur pendakian. Walaupun masih terbersit perasaan kecewa di benakku, semuanya menghilang ketika akhirnya aku bertemu wajah teman-teman yang menunggu di tempat ini. Bagaimana jadinya kalau mereka kelamaan menunggu. 

Senyumku kembali mengembang. Aku mulai membatin, 'Aku membuat keputusan yang tepat. Kekecewaan, kita sendiri yang bisa manage. Puncak bukanlah satu-satunya tujuan. Apa jadinya merayakan kebahagiaan sendirian?'

See you Rinjani, kalau Allah masih memberi kesempatan, suatu saat akan kuciumi Puncak itu.












Sabtu, 12 September 2015

Rinjani, Sebuah Cerita Lain

Independence day trip
Unforgettable moment, unforgettable trip, unforgettable friends
none can be forgotten

Yep, sesuai judul tulisannya. Independence day trip. Maklumlah, orang-orang seperti kami, karyawan yang ngga bisa kapan aja ada waktu untuk mbolang. Mesti atur cuti secantik mungkin agar acara mbolang dapat berlangsung dengan penuh seksama dan tidak dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

14 Agustus 2015 - 18 Agustus2015
Aku sengaja ga ambil cuti lebaran demi untuk bisa ambil cuti di tanggal itu. Keren kan perjuanganku #halah

Lima hari. Yah, lumayanlah untuk mulai memikirkan, tempat-tempat apa yang pernah kepengen didatengin tapi ngga ada biaya karena dulu masih kuliah. Tempat-tempat yang mana yang dulu kepengen didatengin tapi nggak bisa karena kerjaan nggak semudah itu bisa ditinggal-tinggal.

Oke, pilihan kali ini, jatuh pada TNGR. Taman Nasional Gunung Rinjani, Lombok, NTB.

Aku mengamini acara bermain kali ini dengan ketiga temanku. Mbak Meli, Mbak Arfi dan Mas Lolok.

Pengen cari simple, liburan kali ini agak-agak eksklusif dari biasanya. Kami ikut Open Tripnya Dimas, seoarang mapala UNESA. Mahasiswa semester 8 jurusan manajemen yang telat lulus karena kebanyakan mbolang. Hihihi
Lagian, salah satu dari kita juga belum ada yang pernah ke Rinjani. Jarak bandara Lombok ke desa terakhir juga masih jauh, sekitar 4 jam dan kami nggak tahu apakah ada angkot untuk sampai disana. Jadilah kami berasa  jadi anak manja yang ngikut Dimas untuk diajak main naik gunung ke Rinjani. Akakakak

Yang biasanya cuman naik motor keujanan kepanasan, atau setir mobil sendiri sampe tengkuk kaku, kali ini kami sengaja beli tiket singa untuk sejam aja menelan kami dalam perutnya dan menurunkan kami di Bandara Lombok Praya, Mataram. Selain pertimbangan panjangnya perjalanan darat sehingga memangkas banyak hari cuti, kami juga harus atur stamina untuk bekal pendakian ke gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia itu.

Pukul 09.00 berangkat dari Malang, kami sampai Juanda pukul 11.15. Kami bertemu dengan Dian, anggota trip yang kebetulan flight nya sama. Layaknya teman lama, kami sudah cekikan kanan kiri waktu ketemu Dian. Bahkan kami sudah bisa berbagi Roti O seiris bersama manusia asing yang baru kami kenal kurang dari sejam itu. Pernah denger pepatah? "Kalo dia bisa berbagi makanan denganmu, tandanya kalian akan berteman baik."

Dimas sudah meneleponku bahwa dia sudah menunggu di bandara Lombok bersama dua orang dari Solo yang datang pagi-pagi di terminal Mataram. Flight kami masih pukul 13.00. Dan delay pula 20 menit karena cuaca buruk di atas pulau Bali. 

Pukul 16.00 WITA, kami sudah ketemu Dimas. Berjabat dan bertatap muka untuk pertama kalinya setelah selama ini hanya berhubungan via BBM di grup yang dia buat untuk mempertemukan kami bersembilan, kesembilan anggota trip yang akan jadi saudara selama lima hari empat malam ini. Sembilan orang berstatus 'dewasa' yang akan ada dalam pengawasan Dimas dan dua porternya.

Meskipun akan ada porter yang membawakan tenda dan makanan selama di gunung, kami tetep diharuskan membawa carrier dan barang-barang pribadi yang lainnya seperti sleeping bag, baju, cemilan, dan air untuk jalan. Akupun ngga percaya, ketika semua list wajib itu masuk carrier, dan aku timbang, beratnya udah 8 kilo aja. Sama dong sama kayak mau ke Semeru. Ahh...

"Nunggu 2 orang lagi ya. Mereka landing pukul 18.00." Kata Dimas waktu itu.

Kami pun mengangguk tanda setuju. Lagian mau ke kota juga jauh dari bandara. Nunggu 2 jam sambil tiduran dalam elf bersih dan nyaman yang udah di sewa Dimas, nggak masalah.

"Sambil nunggu, kenalan dulu yuk sama Mas Bajuri dan Mas Lilik. Biar nggak kaget, dua temen kita ini unik dan special." Ujar Dimas membuat kami berpandangan, bertanya-tanya apa maksudnya. "Dua temen kita ini tuna rungu dan tuna wicara."

Sempet terpikir dalam benakku, lalu bagaimana kita akan berkomunikasi? Gimana kalo mereka nggak ngerti kita ngomong apa? Gimana kalo nanti mereka jadi kayak nggak punya temen?

Sadar akan kebingungan kami, Dimas membagikan sticker tata cara berbicara pakai jari. Kami berlimapun antusias menyambut. Tepat ketika kami mulai mempaktekkannya, sang guru pun datang. Mas Bajuri dan Mas Lilik yang asli Solo memperkenalkan diri. Orangnya sungguh jauh dari perkiraanku. Orang yang kupikir pendiam, nggak begitu kenyataannya. Dengan gerak lincah tangannya, mereka mulai mengajari kami. Mengejakan nama kami. Membenarkan letak jari jemari kami. Seolah mereka tau kami bermaksud ngomong apa, walopun jari kami masih belepotan membentuk huruf-huruf isyarat. 

Dengan asyiknya mereka bercerita pengalaman selama mendaki gunung-gunung di Jawa. Gunung-gunung di Jawa? Yes, mereka sudah menaklukkan hampir semua di Gunung di Jawa. Seketika aku merasa terkagum-kagum. Orang dengan keterbatasan komunikasi seperti mereka, bagaimana cara meyakinkan masyarakat untuk menunjukkan jalan? bagaimana cara mereka meminta bantuan jika membutuhkan?

Ahh.. Seleksi alam berlaku untuk orang-orang yang gigih dan bertekad kuat. Nggak peduli dengan atau tanpa keterbatasan.
 

Tepat pukul 18.30, kami sudah berkumpul dengan kesembilan rombongan. Mas Muchlis dan Reynold sudah mulai nimbrung bersama kami di dalam elf dan mulai bercerita kesana kemari. Membunuh waktu empat jam ke depan menuju desa Senaru, tempat kami melepas lelah malam ini. Mengumpulkan tenaga sebagai bekal pendakian esok hari, 15 Agustus 2015.

Mau lanjut baca ceritanya? Klik dong











Selasa, 07 Juli 2015

Tabuhan Island, Masih di Banyuwangi

Kata untuk melukiskannya, belum aku temukan

Malam itu pukul delapan malam ketika aku sudah mulai bersiap menyusup dibalik bed cover biru tebal milikku. Udara malam itu lumayan dingin kurasakan  di tubuhku yang memang agak meriang sejak tadi sore. Ditambah suara yang sudah setengah hilang dari pita suara, menambah kuat niat untuk segera tidur cepat malam ini. 
Sampai pada akhirnya, handphone ku berbunyi. Telepon dari CC.
Walaupun sebenernya aku agak susah buat ngomong dengan suaraku yang begitu serak, toh akhirnya aku tetep angkat telepon itu, entah kenapa.

Isma: "hai, ada apa?"
CC: "ke Banyuwangi yuk, Ma"
Isma: "kapan?"
CC: "malam ini."
Tanpa mikir panjang
Isma: "Yuk, aku packing sekarang."

Entah apa yang terpikir di benak kami waktu itu. Sedang kami juga ngga sedang jadi buronan kota hingga harus runaway sampe ke Banyuwangi. Apalagi jarak versi google maps Malang-Banyuwangi tak kurang dari 270 KM. Hal apa yang mendorong kami buat malam-malam mendadak berangkat ke Banyuwangi belum bisa kujelaskan dengan masuk akal. 

Setengah 10 malam, mobil CC sudah terparkir di halaman rumah bersama si Xenia merah maroonnya. Di dalamnya sudah menunggu Mbak Wiwil dan Mas Impron yang siap bergantian menyetir dalam land trip kali ini. 
Setelah berbelanja snack untuk persiapan melek sepagian, mobil kami mulai melaju di jalanan berkelok-kelok diujung timur kota Malang menuju Lumajang. Meninggalkan sejenak rutinitas kota yang menjemukan. Entah kenapa aku merasa badanku seketika sehat, mungkin aku memang sedang benar-benar butuh liburan.

Yang jelas, aku sudah ngga menghitung lagi berapa kali aku melek-bangun dalam perjalanan ini. Malam bergulir lambat, seolah menetes. Karena kondisiku yang memang ngga begitu fit, tim memperbolehkanku untuk tidak menyetir malam itu, malah dibolehin beberapa kali tidur. Walaupun begitu, rasanya aku sudah eneg, karena saat aku melek yang aku lihat hanya aspal hitam tanpa ujung. Beberapa kali melirik handphone CC yang difungsikan sebagai GPS, sekedar mencari tahu berapa KM Left mendekati tujuan kita.

Tujuan?
Memang kita mau kemana ya

Itu juga sebenernya kami belum bener-bener tahu. Berdasarkan rekomendasi dan stalking galeri foto facebook temen, goal land trip kali ini adalah Tabuhan Island. Sebuah pantai kecil tak berpenghuni di Selat Bali. Lalu darimana dan dengan apa kami menuju kesana? Kamipun nggak tahu. Yang penting nyampe dulu di tempat yang paling dekat dengan Selat Bali, selanjutnya mari bertanya pada local society.

Tepat pukul 04.30, hutan Pantura lepas kami lewati. Sadar akan waktu Subuh, maklum kami kan golongan anak sholeh, kami segera mencari masjid untuk sholat. Tapi celakanya, di jam itu aku sedang lelap-lelapnya tidur dan setan sudah bener-bener berhasil menggelayuti kelopak mataku dengan begitu kuatnya. Akupun absen sholat subuh di jam itu, toh biasanya aku sholat subuh setengah enam pagi, pikirku waktu itu. Nanti sajalah di masjid berikutnya.

Aku baru benar-benar bisa melek ketika tim mulai membuat kegaduhan bahwa mereka melihat air laut di kiri jalan. Lalu mulai bertanya-tanya bagaimana teknis untuk sampai ke Tabugan. Nggak tahu mesti mencari local society kemana, aku menelepon Shodiqin, temenku yang asli Banyuwangi dan sudah pernah mbolang ke Tabuhan.

Bisa dari Pantai Bangsring atau Watudodol, Ujarnya waktu itu.

Oke, Mas Impron langsung mengarahkan kemudi menuju pantai Watudodol. Menuju? Mungkin kata yang lebih pas adalah mencari pantai Watudodol.
Disini semua adalah pantai, karena ketika kami membuka jendela mobil dan menoleh ke arah kiri, kami sudah bisa merasakan bau khas air laut dibawa angin. Tapi untungnya, pantai Watudodol bukan tanpa tanda apa-apa, kami langsung bersorak ketika melihat patung ini

 Setelah memarkir kendaraan, kami segera masuk ke deretan warung-warung pinggir jalan yang sekaligus menghiasi bibir patai Watudodol. CC, Mbak Wiwil dan Mas Impron langsung memesan soto ayam, sedang aku? Masih celingukan mencari musholla. Saat itu pukul 05.05 pagi, tapi langit sudah menyala teang pertanda sang surya sudah akan mengintip sedikit demi sedikit dari dalam horison bumi. Tak menunggu lama, aku sambar kunci mobil itu dan aku pergi mencari masjid terdekat.

Sekedar cerita dibuang sayang. Aku ketemu masjid satu kilo meter melewati Pantai Watudodol. Masjid ini berada tepat diseberang Selat Bali. Masih pukul 05.15, tapi langit makin cerah layaknya tertawa padaku yang berlarian mengambil wudlu dengan cepat, memakai mukena dengan cepat, dan aku memulai sholatku. Samar kudengar seseorang sedang menyapu, menandakan saat itu hari sudah pantas disebut 'siang'. 

Beberapa menit berada di toilet, aku hendak kembali ke Watudodol. Dan ketika aku akan membuka pintu mobil, mataku menangkap sesuatu yang mistis di seberang sana. Air laut dihadapanku menyala merah, matahari seolah muncul sangat perlahan dari kedalaman laut. Sungguh indah. Tak ku dokumentasikan momen itu karena percuma, secanggihnya kamera ngga akan bisa menjelaskan keindahan sebenarnya yang tertangkap mata saat itu. Seketika aku merasa sangat iri dengan penduduk sekitar Pantai Watudodol, 'Jadi tiap hari mereka bisa melihat sunrise seperti ini hanya dengan membukan pintu rumah?"
Oh!
Tapi dibalik itu semua, alam menyadarkanku satu hal. Sholat subuhku selama ini hampir bebarengan dengan matahari terbit. Allah, maaf, aku nggak akan pernah sholat Subuh jam setengah enem lagi! Nggak akan!

Sesampainya di Watudodol, nelayan setempat menawari kapal untuk menyeberang ke Tabuhan dengan harga Rp. 650.000 per kapal. Hmm.. kata si Shodiqin sih seharusnya bisa lebih murah dari itu, apalagi kalau kita nawar pake bahasa madura atau osing. Tapi sayangnya, keempat dari kami semua jawa tulen.
Malas menawar, akhirnya kami putar haluan untuk mencari pantai Bangsring, pilihan kedua setelah Watudodol. Singkat cerita, karena kesalahan lokasi dari GPS ujungnya kita terdampar di sebuah pantai di tengah pemukiman warga. Bukan pantai Bangsring, tapi pantai Bengkak #LOL
Pantai ini benar-benar ada di tengah pemukiman warga. Karena ketika warga Bengkak membuka pintu belakang rumahnya, mereka bisa melihat Selat Bali dan beberapa kapal yang beraktifitas di atas air lautnya. Seperti punya pekarangan yang luas lengkap dengan kolam air yang super besar.

Pemandangan di halaman belakang penduduk Bengkak
Ngga nyangka, ternyata kapal disini murahhh. Bahkan saking murahnya kita jadi bingung mau nawar berapa. Akhirnya, setelah semua perlengkapan sudah kami kantongi, kami siap membunuh rasa penasaran kami, rasa haus kami akan bau pasir pantai, kami berangkat menuju sebuah pulau kecil bernama Tabuhan.

Dan tahukah? Pemandangan seperti apa yang menemani di perjalanan?

Foto dari Panoramio.com
Aku nggak pernah menyangka, di sebuah pagi, aku bisa sarapan air laut, ombak, angin semilir khas pantai, langit membiru lebay dan pemandangan seindah ini. Siapa yang tidak jatuh cinta? Pagi yang begitu menyenangkan. Aku nggak bosan memandang ke belakang kapal untuk menikmati perpaduan warna air laut dan hijaunya Merapi Banyuwangi. Dan berapa kalipun aku menoleh, sepertinya aku memang nggak akan bosan. Kami belum sampai di pantainya, kami masih di jalan, tapi rasanya... aku sudah terpuaskan. Capek dan lelah akibat perjalanan semalam sudah terlempar jauh dari atas kapal, dan karam di dasar lautan.

*Aku sempet motret sendiri, cuman karena goyang-goyang dan kebetulan fitur kamera ku memang pas-pas an, jadinya nggak bisa benar-benar mewakili lensa mataku saat itu. Foto dari Panoramio itu yang paling bisa mewakili.*

Tiga puluh menit berada diatas kapal nelayan diterpa ombak kanan kiri, pemandangan menakjubkan kini hadir di depan mata kami. Tempatnya memang tidak terlihat besar, tapi gradasi warnanya sungguh menakjubkan. Pasir putihnya mengapung indah ditengah laut biru, sebuah mercusuar di tengah pepohonan seolah mengucapkan selamat datang pada kapal kami yang semakin mendekat. Ahh, Banyuwangi. Lagi-lagi, aku dikejutkan oleh sebuah surga kecil di ujung Jawa itu.

Akhirnya, kaki kami menapaki pasir putih nan lembut itu. Tidak ada satupun manusia kecuali kami berempat, dan dua awak kapal. Tak cukup banyak kata yang dapat mewakili perasaanku waktu itu. Mungkin perlu mencari kosa kata baru untuk mengungkapkannya, perlu mencari bahasa baru untuk melukiskan keindahannya. Perlu mencari cara yang tidak biasa untuk mensyukurin nikmat alam yang udah Allah ciptakan.



Setelah sedikit pemanasan, kami mulai memasang rompi dan perlengkapan snorkeling yang kami sewa dari Pantai Bengkak.Memang haru sedikit ke tengah untuk mendapat point view yang benar-benar 'nendang'. Tak peduli berapa kali kebawa ombak, kami terus mencoba. Tak peduli berapa kali disengat ubur-ubur, toh kami tetap suka berenang diantaranya. Dan tak peduli berapa kali kacamata kami bocor dan mata perih kena air laut, toh kami tetap terus menyelam untuk memuaskan rasa haus kami akan kehidupan bawah laut.

Aku nggak menghitung berapa jam sudah kami bermain air, rasanya wajah sudah mulai panas. Kaki mulai agak-agak kaku kram. Kuambil jam tangan yang sengaja aku tinggal di tas dibawah sebuah pohon. Pukul 11 siang. Lalu kami beristirahat sejenak sebelum memulai tracking mengelilingi pulau. 
Sepuluh duapuluh langkah, kami akhirnya bertemu dengan sisi laut yang menghadap ke pulau Menjangan dan pulau Bali, berdiri dengan kokoh layaknya benteng perang. Sepuluh dua puluh langkah lagi ke arah timut pantai, masalah klasik di alam Indonesia mulai kami temui. Bukan satu, bukan dua, tapi ratusan bahkan ribuan sampah berserakan sepanjang garis pantai. Ahh, kenapa di Pulau seindah ini masih ada kata sampah? Siapa yang tega?

Ah, kita.

Sekembalinya di pantai tempat kapal kami merapat, beberapa kapal mulai terlihat berdatangan. Sekitar 4 kapal waktu itu. Sudah lumayan puas, dan sudah mulai males karena mereka yang berdatangan, berteriak-beramai ramai dan berlarian di pantai itu. Positifku waktu itu mungkin mereka saking senangnya melihat pantai seindah ini, tapi kalo berteriak, rasanya... that's not cool man.

"Saya bawa ke tengah ya, di tengah karangnya lebih bagus"

Bapak-bapak navigator kapal berkata demikian pada kami menuruti permintaan cc yang ingin snorkeling agak ke tengah laut.
Karena air di tengah laut cukup deras, kami harus selalu berpegangan pada tali yang terlilit di badan kapal. Tenggelam sih engga, tapi kebawa sampe ke Pulau Bali, mungkin aja. Hehe

Satu satu dari kami, kecuali Mbak Wiwil yang mabuk laut, segera keluar dari kapal dan mulai masuk ke air. Setelah kulilitkan tali di kaki, kupasang kacamataku yang tanpa snorkel karena memang dari awal aku nggak begitu suka pakai snorkel sewaan. Segera ku tenggelamkan separo wajahku ke balik permukaan laut. Dan WOW!!!

Warna warni karang di tempat ini sangat menakjubkan. Aku seperti sedang berada di dunia lain. Bukan di bumi. Bisa kulihat beberapa ikan berenang teratur melewati sebagian kakiku. Rumput laut bergoyang-goyang karena beberapa ikan kecil berkejaran didalam rimbunannya. Dan banyak bulu babi dari ukuran kecil sampai besar terlihat sedang bersembunyi dibawah karang

Kalau nggak akhirnya berasa sesak napas karena kehabisan oksigen, aku belum mau menyembulkan kepalaku keluar air. Walupun begitu, aku langsung menangkap sesuatu yang luar biasa indahnya dari tengah laut ini. Tabuhan terlihat seperti kapas mengapung disana.


Apa yang membuatku bisa melupakan tempat ini? Bermain di jernihnya air laut, terumbu karang yang berwarna-warni, langit membiru indah diatas sana, Merapi Banyuwangi yang berdiri dengan angkuhnya, dan pantai yang mengapung indah dibelakangku.
Dan yang lebih seru, di lepas pantai itu, tidak ada manusia lain selain kita. Dan setiap jengkal keindahan yang tertangkap mata saat itu, rasanya hanya jadi milik kita.

Tabuhan Island
kata untuk melukiskan keindahannya, belum aku temukan