Yap! Tujuannya adalah mencari penyeimbang. Setelah kedinginan setengah mati di Ijen, kami harus berpanas-panasan menciumi pasir pantai Pulau Merah ditengah teriknya mentari.
Memang begitulah seharusnya, berdingindingin di gunung, lalu berjemur ria di pantai. Itulah target kita sejak berangkat dari Malang.
Dengan perut yang masih kosong, kami berniat mencari warung rujak soto sebagai menu pembuka di tanggal 17 Agustus itu. Walupun agak aneh membayangkan rasa rujak yang disiram kuah soto, toh makanan ini begitu mendunia. Bahkan setiap tahunnya Banyuwangi mengadakan festival rujak soto untuk lebih mengenalkan makanan ini kepada khalayak. Dan kami sebagai anak bangsa, se-jawa dan se-Jawa Timur haruslah pernah mencicipinya. Tapi herannya, sepanjang perjalanan berpuluh-puluh kilo dari Ijen ke Pulau Merah, tak satupun warung rujak soto yang kami singgahi.
Berangkat dari kaki Ijen pukul 07.30, kami sampai di Pulau Merah pada pukul satu siang. Bukan jalanan macet yang membuat perjalanan menjadi selama itu, tapi memang lokasi keduanya sangat berjauhan. Jalanan ke pantai ini tidak seperti jalanan ke pantai-pantai selatan Malang. Jalanan mulus dan dekat sekali dengan pemukiman penduduk. Rasanya kami sedang bertamasya ke tengah kampung.
Red Island
Begitu orang menyebutnya. Pun ketika aku disana, pantai atau lautnya tak berwarna merah. Ada yang bilang, pasirnya akan kemerahan ketika diterpa sinar matahari menjelang tenggelam, mungkin saja. Sayangnya aku tidak begitu punya banyak cuti untuk menunggui sunset di tempat indah itu.
Hmm.. sesungguhnya, ini semua diluar bayanganku. Entah aku yang salah hari, atau memang aku yang salah baca blog traveler. Pantai yang kubayangkan damai dan romantis, ternyata ngga begitu kenyataannya. Pasir yang kubayangkan bersih, ternyata berserakan sampah plastik disana sini. Air laut yang kubayangkan jernih sejernih kaca, ternyata berwarna cokelat karena banyaknya manusia yang berenang-renang dipinggir pantainya. Pemandangan yang aku pikir akan syahdu, malah terhalang beberapa sun deck lengkap dengan payungnya yang menyala-nyala merah.
| Over exposure *lol* |
Hal pertama yang kami lakukan adalah mencari pohon rindang dan mulai memikirkan, makan apa kita siang itu. Sebenernya kami membawa seperangkat alat masak beserta bahan masakannya. Daripada sayang ngga dimakan, dan lagi kita memang ngga ngerti mesti ngapain di tempat itu saking ramainya, jadilah kita memasak di sebuah pantai yang di kanan kirinya sudah bejibun warung-warung makan.
Setelah kenyang makan, kita bingung mau ngapain lagi. melihat pantai serame itu, maklum libur nasional juga, kami enggan berbasah-basah di laut karena nanti pasti bakal antri juga bilasannya, hehe. Akhirnya dengan perut kekenyangan kita pun tiduran dibawah pohon rindang, memandangi langit biru, bertemankan suara deburan ombak bercampur teriakan-teriakan manusia di air sana. Setidaknya kami masih bisa menemukan keindahan birunya langit yang bertemu dengan birunya air laut di titik horison bumi.
Kami memang tidak lama berada di tempat itu, keadaan yang ricuh membuat kurang nyaman. Kami salah hari. Kalau saja kami datang disaat weekday, pasti pantai ini lebih terlihat syahdu.
Sebenarnya pantai ini sungguh indah, pasirnya halus. langitnya cantik, setidaknya saat itu cuaca memang sedang mendukung untuk bermain di pantai. Apalagi pebukitan hijau yang mengelilingi pantai ini. Entahlah, aku memang selalu suka dengan kombinasi warna birunya air laut dan hijaunya perbukitan, yang seolah berdiri berjajar bak prajurit yang siaga menjaga agar pantai ini selalu terlihat menawan. Ditambah lagi rumor yang beredar di kalangan traveler bahwa sunset di pantai ini cantik banget. Hmm..
Setelah puas beristirahat, kami pun mengemasi barang-barang dan beranjak meninggalkan Pulau Merah. Bersiap living on the car sampai kira-kira tengah malam nanti.
Dalam hati, aku bertekad suatu saat aku bakal balik kesini lagi. Walaupun temen-temenku pada udah bilang ngga tertarik kesini lagi, aku masih kepengen banget balik kesini dan menikmati sunrisenya hingga benar-benar habis dan menunggu saat bintang-bintang menyembul keluar dari balik langit malam.
Ahh.. Pulau Merah. semoga pas aku kesana, kita sedang berjodoh ya, sayang :*


Tidak ada komentar:
Posting Komentar