HIS Domestic Holiday - Blogger Competition

Senin, 28 Desember 2015

Hello Penanggungan, (Top Pawitra 1653 mdpl)

Gunung Penanggungan, Mojokerto



















Rasanya tidak perlu berpikir dua kali, saat sore itu Mas Lolok mengajakku, Lamidhin dan Mas Pete untuk mendaki Penanggungan. Bagaimana engga, udah lokasinya deket dari domisili, dan walaupun disebut-sebut punya bentuk dan rupa yang mirip dengan Gunung Semeru, Penanggungan bukan merupakan jajaran gunung-gunung tinggi yang untuk memanjatnya perlu waktu berhari-hari.

"Pemandangannya emang nggabisa dibandingin ama gunung api, tapi tracknya mantap buat latihan."

Waktu itu aku ngga begitu peduli. Yang penting bagiku adalah bisa bangun pagi dengan suguhan istimewa langit subuh, fajar shodiq, dan terpaan angin pagi yang tak pernah bisa aku lupakan. ahh, sesuatu yang selalu aku sebut-sebut sebagai, bangun pagi yang sangat berkualitas.

Jumat itu aku sengaja ambil cuti setengah hari siang. Memang direncanakan berangkat selepas dzuhur sih karena teman-temanku harus Sholat Jum'at dulu. Setelah menyiapkan perbekalan dan peralatan secukupnya, kami pun siap membelah kemacetan kota yang hampir selalu setia menemani weekend di jalur Malang - Surabaya.

Tak perlu waktu lama, tepat pukul 15.30 kami sudah sampai di pos perijinan Gunung Penanggungan di Desa Tamiajeng, Trawas, Mojokerto. Setelah mengurusi ijin dan membayar retribusi sekitar Rp. 7.000 per orang, kami mendapat satu buah plastik merah besar untuk menampung sampah dan membawanya turun kembali.

"Nanti sampahnya dikumpulin disitu ya, Mas." Kata mas-mas ramah penjaga pos perijinan ke Mas Lolok sambil menunjuk sebuah tempat sampah besar disamping pos. "Abis itu dapet sticker." Lanjutnya.

"Sticker apa, Mas?" Tanyaku penasaran.

"Bukti kalau udah bawa balik sampahnya lagi, Mbak. Kalo ngga dibawa balik nanti diikutin sama penunggu Penanggungan sampe rumah." Jawab mas-mas ramah sambil tersenyum.

Wah, usaha yang keren ya untuk mempertahankan 'kesucian' titipan anak cucu.

Setelah perijinan beres, kami sholat dan bersantai sebentar sambil memesan es nutrisari sebagai dalih persiapan kebutuhan cairan tubuh. Di Penanggungan emang ngga ada sumber air sama sekali. Ini emang gunung sih, tapi kenapa panas banget ya, bikin haus ngga nahan  #fiuh


Track berbatu, mengawali perjalanan

Tepat pukul 16.00, kami berdoa dan mulai melangkahkan kaki. Hari emang lumayan teduh, track awal adalah jalanan berbatu menurun yang sepertinya adalah jalan para penduduk mencari kayu bakar. Tidak begitu banyak pemandangan bagus, kanan kiri jalan adalah ladang warga. Aku mulai kepanasan karena berkeringat, oke aku mulai ingat. Penanggungan berketinggian 1653 mdpl, ketinggannya ngga lebih tinggi dari kota Batu. Kalo Batu dan Malang sekarang bisa mencapai suhu 31 derajat, begitupun tempat ini.



Ahh, malam akan sangat menyenangkan. Aku bisa sepuasnya liat bintang tanpa takut kedinginan. Semoga aja, ada. 

Pos 2 Gunung Penanggungan



Senyum-senyum sendiri membayangkan betapa akan indahnya malam ini, ngga kerasa kami sudah sampai di pos 2. Mana pos 1 nya? Oalah.. ya pos perijinan itulah pos 1 nya. Lucu juga sih, belom pegel, belom capek, udah nyampe pos 2 aja *mulaisombong *mulaisongong *mulaitakabur



Sombong, songong dan takabur itulah yang membuat kami berempat tidak berhenti di Pos 2. Hari sudah mulai gelap, maklum setelah Pos 2 ini, jalanan sudah mulai masuk hutan. Tracknya juga masih bersahabat dan minim tanjakan. Landai, teduh, ngga dingin, ahh betapa menyenangkannya camping kali ini.






Pos 3 Gunung Penanggungan

Sekitar 30 menit jalan santai, kami sudah bertemu dengan Pos 3. Wow, jarak antar tracknya emang ngga jauh. Prediksi Mas Lolok bahwa kita akan sampai puncak bayangan nggak lebih dari jam 19.00 sepertinya emang bener. Jujur awalnya sempet nggak percaya, masak iya secepet itu. Mega merah sudah terlihat di langit barat, kami memutuskan untuk berhenti sejenak, tayammum dan sholat Maghrib. 



Di depan kami jalanan menanjak mulai terlihat gelap. Langit tidak begitu cerah karena memang ini adalah awal musim hujan. Ditambah kami sedang ada di dalam hutan lebat yang membuatku ingin cepat-cepat mengakhiri perjalanan ini dan sampai di puncak bayangan. Berasa sesak napas kalo kelamaan liat yang gelap-gelap. Apalagi, debu jalanan tebal sudah mulai bikin batuk-batuk seiring pijakan kaki kami. Wow, makin kepengen cepet-cepet keluar hutan.
Tanjakan setelah Pos 3, dilihat dari atas


"Setelah Pos 4 nanti jalanan baru bener-bener nanjak dan berkerikil. Jadi agak licin." Kata Mas Pete waktu itu. Lamidhin yang sudah mulai ngos-ngosan sudah memandang jalan dengan sedikit putus asa. Dia bukannya nggak kuat. Tapi dia minim persiapan. Setelah Semeru akhir tahun lalu, dia sama sekali nggak pernah tracking lagi, dan juga nggak pernah olahraga. Aku sekarang sadar, olahraga fisik memang penting. Kalo nggak gitu, nafas pasti ngos-ngosan banget. Kalo nggak pinter atur nafas, supply oksigen ke otak akan berkurang dan mendadak pusing. Kalo udah gitu, biasanya jadi pengen muntah. 



"Sabar, bebeb. Bentar lagi nyampe." Aku memberi semangat temanku yang sudah mulai pusing dan mual-mual ini. Jalan kami mulai pelan, antara nunggu Lamidhin yang masih tertinggal di belakang, debu tebal dan jalanan menanjak sudah mulai bikin nafas kejar-kejaran.

Tak berapa lama setelah itu, Pos 4 sudah ada di depan mata.Ada banyak orang disitu dan kamipun memutuskan untuk beristirahat.

"Mau naik ya, Mas?" Tanya salah seorang pendaki yang memakai baju petugas. "Ati-ati, dalam beberapa hari ini kami sudah bolak-balik mengevakuasi pendaki yang jatuh."

"Hah? jatuh gimana Pak?" Tanyaku.

"Macem-macem. Ada yang kepeleset karena alas kakinya ngga sesuai medan. Ada yang turunnya sambil lari. Akhirnya kaki terkilir dan nggakbisa jalan." Terang petugas itu. "Makanya, nanti ati-ati ya. Ini bukan track pasir, tapi batu kerikil. Jadi kalau turun dari puncak jangan sampai lari. Alas kakinya juga yang khusus treking. Walaupun ketinggian nggak seberapa, tapi yang namanya gunung tetep punya tantangannya masing-masing."

Kami mengangguk tanda mengerti. Dan beberapa petugas sedang memanggul tandu pun lewat di depan kami. Seorang cewek ABG tertidur lemas di atasnya. Kakinya terkilir. 

Puas beristirahat, kami pun lanjut berjalan. Benar, setelah pos 4 ini, jalanan memang nanjak-nanjak asoy. Hampir 45 derajat dengan kondisi jalanan yang parah banget. Bukan cuma pasir dan batuan licin, tapi debu tebal juga masih setia menemani. Untung juga sih ambil perjalanan malam, kami nggak bisa lihat dengan jelas berapa meter kedalaman debu yang kami injak. Setidaknya, kami masih bisa menghibur diri kalau debunya nggak setebel Pelawangan Senaru #uhuk

Rasanya, memang nggak afdhol kalau jalan-jalan tanpa gedebukan. Setelah beberapa kali bergelindingan di track yang bikin pengen pulang seketika, kami pun sampai di sebuah tanah lapang nan luas nan indah nan lucu nan menyenangkan bernama Puncak Bayangan.


Puncak Penanggungan terlihat dari Puncak Bayangan
Tempatnya emang ngga segede lapangan sepak bola, tapi cukup untuk menampung lebih dari 10 tenda ukuran sedang. Walopun begitu, tempat ini emang ngga terlalu rame dibanding yang lain. Waktu itu sih.

Dan pemandangan yang kami dapat adalah... taraa... lampu kota. Sedih sih, cuman itu doang, langit gelap tapi tanpa bintang karena ketutup mendung. Padahal lampu kota dan bintang adalah pasangan serasi yang bikin hidup berasa lengkap seketika. Ahh sedihnya... Yaudahlah, harus banyak berdoa semoga nanti malem mendungnya pergi jauh-jauh.

Setelah tenda berdiri dengan apik, kami mulai memasak. Menu malam ini adalaaahh mie instan rasa ayam bawang. Baru besok pagi kita bakal makan mie instan rasa soto. Hahaha..  Lucu juga sih, setelah aku ingat-ingat selama ini kita emang selalu makan mie instan tiap camping. Bukan apa-apa, bukan karena males bawa beras atau gimana, tapi kita pada nggak bisa masak nasi pake nesting. Ya main aman aja sih, mending makan mie instan yang jelas-jelas jadinya bakal enak. Daripada kelaperan terus makan temen sendiri *imajinasiliar

Ahh, ternyata mendung belum bener-bener bisa ilang dari atas langit Penanggungan. Malam itu kami habiskan dengan ngobrol ngalor ngidul, maklum kami memang jarang ketemu sejak aku resign dari tempat kerjaku yang lama. Wah jadilah momen ini sebagai ajang dan sarana rasan-rasan tentang tokoh-tokoh terdahulu. Bahagianya… Kebahagiaan memang harus diciptakan sendiri ya, teman. Bintang memang indah, tapi bersama kalian seperti ini juga nggak kalah indahnya *gombal

Langit subuh di Puncak Bayangan
Dan pagi pun menyapa. Alarm membangunkanku lebih pagi dari biasanya. Ahh suasana di luar tenda syahdu banget. Langit cerah dengan hiasan sisa bulan semalam. Meski bukan purnama, tapi tetap terlihat indah. Angin bertiup kencang tapi nggak membuatku menggigil kedinginan. Fajar shodiq terlihat menawan di langit subuh. Aku segera tayammum dan memulai sholatku. Beberapa kali mukenaku tersibak angin, tapi nggak mengurangi asiknya sholat Shubuh pagi itu.

Setelah sarapan dan pemanasan kecil, kami mulai melangkah menapaki track summit gunung Penanggungan. Cuaca cerah, angin seger, dan tanpa sesak nafas membuatku semangat mengayunkan kakiku, mengatur langkah demi agar tidak menginjak batu-batu segede kepalan tanganku yang menghiasi jalur pendakian. Memang bukan pasir, tapi tanah berhiaskan batu besar kecil seperti ini juga rawan jatuh kalau kita nggak ati-ati.

“Udah, pelan-pelan aja. Summit nya ngga nyampe sejam kok.” Kata Mas Lolok
Track summit Penanggungan, dilihat dari atas

menyemangati.

Aku terheran-heran, “Jalan kayak gimana tuh setengah jam? Orang tracknya gila-gilaan gini. Nggak mungkin ah, ada kali 2 jam lagi baru nyampe puncak.” Kataku sambal ngos-ngosan dan selonjoran diatas batu.

Memang puncak keliatan dekat, tapi tracknya bener-bener bukan track biasa. Enggak karuan deh pokoknya. Udah nanjaknya 45 derajat gitu, tanah dan batunya rawan bikin kita dlosoran. Bohong banget kalau ada yang bilang track Penanggungan ini ecek-ecek. Kalopun ada, berarti emang itu manusia udah mati rasa, udah punya cadangan berpuluh-puluh liter oksigen di paru-parunya, punya jantung lebih dari satu, dan tubuhnya udah berhenti memproduksi asam laktat #lebay


Eh, ada goa.

Goa batu
Vandalisme yang memenuhi Goa
Sekitar satu jam perang dengan track ini, kami bertemu dengan sebuah goa kecil. Bukan goa juga sih namanya, hanya beberapa buah batu besar yang bertumpuk-tumbuk dan menjadikannya seperti sebuah goa. Engga terlalu besar, tapi muat untuk dua sampai tiga orang. Sayangnya, bau-batuan di dalam goa udah penuh dengan vandalism tangan-tangan usil yang sebegitu inginnya dikenal orang. Bagaimana engga? Emang ada yang peduli toh, siapa-siapa aja yang pernah masuk goa ini? Apa coba tujuannya nulis-nulis namanya sendiri di batu ini kalau bukan saking kepengennya namanya dibaca orang.

Merah Putih di Puncak Pawitra, terlihat dari
track pendakian
Yeay. Ada bendera merah putih diujung sana, menandakan puncak sudah semakin dekat. Angin bertiup makin kencang, membuat merah putih yang sudah mulai usang dimakan cuaca itu berkibar kesana kemari. Aku sedikit berlari menyusul teman-temanku yang sudah duluan sampai.












Yeap! Puncak Pawitra 1653 mdpl.

Pawitra yang selalu berkabut
Seperti namanya, Pawitra adalah Bahasa sanskerta yang berarti kabut. Tempat ini memang tinggi, tapi aku hampir nggak bisa melihat riuhnya kota dari sini karena ketutup kabut. Di sisi sana, seharusnya aku bisa melihat gunung Arjuno Welirang, tapi engga bisa juga karena ketutup kabut. Mungkin, ketinggiannya yang setengah-setengah bikin kita berada di tengah awan, dibawah awan engga, diatasnya juga belom. Puas ketawa-ketawa sendiri melihat puncak Pawitra yang cuman gitu-gitu doang, akhirnya kita leyehan diatas rumput dan terdiam memandang langit. Merasakan tiupan angin ribut yang terasa halus membelai wajah.

abaikan gambar ini
Sekitar setengah jam ada disini, berfoto sebentar untuk mengabadikan momen, kami pun berjalan hati-hati untuk turun. Mengingat pesan Bapak-bapak petugas di Pos 3 kalau kita dilarang lari. Ngerepotin mereka soalnya kalo sampe ada jatuh-jatuhnya :p

Penyiksaan pun dimulai.

Turunan yang harus dilalui ketika kembali
ke Puncak Bayangan
Gabungan antara, turunan tajam yang nggak bisa dipakai lari-larian, panas matahari pas diatas kepala, panasnya cuaca Mojokerto menjelang musim ujan, Tanah pun ikutan panas dan bikin badan berasa di oven, keril yang nggak begitu berat tapi jadi berasa berat-beratin banget dan haus bandel tapi nggak bisa banyak minum karena persediaan air nggak banyak itu PASANGAN KLOP yang bisa bikin gila!

“Udah nggak usah banyak istirahat, biar cepet nyampe Pos 2.” Kataku waktu itu sambil mengelap keringat yang mulai mengalir deras melewati sisi jilbabku dan bikin mata perih. Semua mengangguk setuju tanda ingin cepat-cepat mengakhiri penderitaan di tempat yang sepanas panggangan ayam ini.

Dan sekitar 1 km sebelum Pos 2, kami melihat ada seorang Bapak-bapak duduk diatas motor dan di jok belakangnya terparkir sebuah rombong dagangan yang entah apa isinya.

“Es tebunya, Mas, Mbak.” Kata Bapak itu. “Masih adem, asli.”

Duh Gusti, bak hujan salju di tengah gurun pasir. Sumpah, nggak pernah rasanya minum es tebu se-enak dan se-seger ini sebelumnya.

Sambil membayar es yang harganya cuman duarebu rupiah per bungkusnya itu, aku membisikkan sebuah kalimat kepada Bapak tukang es, “Pak, kau adalah malaikat penyelamatku.” Dan tiga keril teman-temanku pun mendarat pas di kepalaku.

*Note: Alinea terakhir adalah imajinasi saya

Hi, crew!