Independence day trip
Unforgettable moment, unforgettable trip, unforgettable friends
none can be forgotten
Yep, sesuai judul tulisannya. Independence day trip. Maklumlah, orang-orang seperti kami, karyawan yang ngga bisa kapan aja ada waktu untuk mbolang. Mesti atur cuti secantik mungkin agar acara mbolang dapat berlangsung dengan penuh seksama dan tidak dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
14 Agustus 2015 - 18 Agustus2015
Aku sengaja ga ambil cuti lebaran demi untuk bisa ambil cuti di tanggal itu. Keren kan perjuanganku #halah
Lima hari. Yah, lumayanlah untuk mulai memikirkan, tempat-tempat apa yang pernah kepengen didatengin tapi ngga ada biaya karena dulu masih kuliah. Tempat-tempat yang mana yang dulu kepengen didatengin tapi nggak bisa karena kerjaan nggak semudah itu bisa ditinggal-tinggal.
Oke, pilihan kali ini, jatuh pada TNGR. Taman Nasional Gunung Rinjani, Lombok, NTB.
Aku mengamini acara bermain kali ini dengan ketiga temanku. Mbak Meli, Mbak Arfi dan Mas Lolok.
Pengen cari simple, liburan kali ini agak-agak eksklusif dari biasanya. Kami ikut Open Tripnya Dimas, seoarang mapala UNESA. Mahasiswa semester 8 jurusan manajemen yang telat lulus karena kebanyakan mbolang. Hihihi
Lagian, salah satu dari kita juga belum ada yang pernah ke Rinjani. Jarak bandara Lombok ke desa terakhir juga masih jauh, sekitar 4 jam dan kami nggak tahu apakah ada angkot untuk sampai disana. Jadilah kami berasa jadi anak manja yang ngikut Dimas untuk diajak main naik gunung ke Rinjani. Akakakak
Yang biasanya cuman naik motor keujanan kepanasan, atau setir mobil sendiri sampe tengkuk kaku, kali ini kami sengaja beli tiket singa untuk sejam aja menelan kami dalam perutnya dan menurunkan kami di Bandara Lombok Praya, Mataram. Selain pertimbangan panjangnya perjalanan darat sehingga memangkas banyak hari cuti, kami juga harus atur stamina untuk bekal pendakian ke gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia itu.
Pukul 09.00 berangkat dari Malang, kami sampai Juanda pukul 11.15. Kami bertemu dengan Dian, anggota trip yang kebetulan flight nya sama. Layaknya teman lama, kami sudah cekikan kanan kiri waktu ketemu Dian. Bahkan kami sudah bisa berbagi Roti O seiris bersama manusia asing yang baru kami kenal kurang dari sejam itu. Pernah denger pepatah? "Kalo dia bisa berbagi makanan denganmu, tandanya kalian akan berteman baik."
Dimas sudah meneleponku bahwa dia sudah menunggu di bandara Lombok bersama dua orang dari Solo yang datang pagi-pagi di terminal Mataram. Flight kami masih pukul 13.00. Dan delay pula 20 menit karena cuaca buruk di atas pulau Bali.
Pukul 16.00 WITA, kami sudah ketemu Dimas. Berjabat dan bertatap muka untuk pertama kalinya setelah selama ini hanya berhubungan via BBM di grup yang dia buat untuk mempertemukan kami bersembilan, kesembilan anggota trip yang akan jadi saudara selama lima hari empat malam ini. Sembilan orang berstatus 'dewasa' yang akan ada dalam pengawasan Dimas dan dua porternya.
Meskipun akan ada porter yang membawakan tenda dan makanan selama di gunung, kami tetep diharuskan membawa carrier dan barang-barang pribadi yang lainnya seperti sleeping bag, baju, cemilan, dan air untuk jalan. Akupun ngga percaya, ketika semua list wajib itu masuk carrier, dan aku timbang, beratnya udah 8 kilo aja. Sama dong sama kayak mau ke Semeru. Ahh...
"Nunggu 2 orang lagi ya. Mereka landing pukul 18.00." Kata Dimas waktu itu.
Kami pun mengangguk tanda setuju. Lagian mau ke kota juga jauh dari bandara. Nunggu 2 jam sambil tiduran dalam elf bersih dan nyaman yang udah di sewa Dimas, nggak masalah.
"Sambil nunggu, kenalan dulu yuk sama Mas Bajuri dan Mas Lilik. Biar nggak kaget, dua temen kita ini unik dan special." Ujar Dimas membuat kami berpandangan, bertanya-tanya apa maksudnya. "Dua temen kita ini tuna rungu dan tuna wicara."
Sempet terpikir dalam benakku, lalu bagaimana kita akan berkomunikasi? Gimana kalo mereka nggak ngerti kita ngomong apa? Gimana kalo nanti mereka jadi kayak nggak punya temen?
Sadar akan kebingungan kami, Dimas membagikan sticker tata cara berbicara pakai jari. Kami berlimapun antusias menyambut. Tepat ketika kami mulai mempaktekkannya, sang guru pun datang. Mas Bajuri dan Mas Lilik yang asli Solo memperkenalkan diri. Orangnya sungguh jauh dari perkiraanku. Orang yang kupikir pendiam, nggak begitu kenyataannya. Dengan gerak lincah tangannya, mereka mulai mengajari kami. Mengejakan nama kami. Membenarkan letak jari jemari kami. Seolah mereka tau kami bermaksud ngomong apa, walopun jari kami masih belepotan membentuk huruf-huruf isyarat.
Dengan asyiknya mereka bercerita pengalaman selama mendaki gunung-gunung di Jawa. Gunung-gunung di Jawa? Yes, mereka sudah menaklukkan hampir semua di Gunung di Jawa. Seketika aku merasa terkagum-kagum. Orang dengan keterbatasan komunikasi seperti mereka, bagaimana cara meyakinkan masyarakat untuk menunjukkan jalan? bagaimana cara mereka meminta bantuan jika membutuhkan?
Ahh.. Seleksi alam berlaku untuk orang-orang yang gigih dan bertekad kuat. Nggak peduli dengan atau tanpa keterbatasan.
Tepat pukul 18.30, kami sudah berkumpul dengan kesembilan rombongan. Mas Muchlis dan Reynold sudah mulai nimbrung bersama kami di dalam elf dan mulai bercerita kesana kemari. Membunuh waktu empat jam ke depan menuju desa Senaru, tempat kami melepas lelah malam ini. Mengumpulkan tenaga sebagai bekal pendakian esok hari, 15 Agustus 2015.
Mau lanjut baca ceritanya? Klik dong

Tidak ada komentar:
Posting Komentar