"Jadi nih nanti malem berangkat?" Tanyaku sore itu ke cc yang kayaknya masih adem ayem aja, belum packing, belum siapin mobil, belum ngapa-ngapain deh pokoknya.
"Lho, jadi dong." Jawabnya mantap.
Berawal dari cc yang kepingin banget tau gimana rasanya camping, kita jadi kepikiran untuk camping-camping chantique gitu di pantai. Pokoknya di tempat yang medannya supermild, nggak pake jalan kaki, nggak pake manjat tebing dan nggak pake pipis di semak-semak.
Oke, Pantai Papuma. Sesuai request ndoro ayu cc.
"Mana? packing aja belom. Aku males ah siapin tenda. Paling ujung-ujungnya camping di halaman rumah." aku emang semacam ragu ngeliat persiapan cc yang kayaknya nggak banget.
"Tenang aja. Aku masih mau meluncurkan sebuah rencana culas. Kamu terima beres." Jawabnya lagi.
Di injury time sepulang kerja, land trip yang semula akan menjadi kisah romantis dua cewek kesepian yang berencana menghabiskan malam berdua di pantai, tiba-tiba terusik dengan akan bertambahnya jumlah rombongan. Sepasang suami istri yang sepertinya dengan terpaksa ikut karena nggak tahan ama bujuk rayuan maut ala cc. Aha ternyata cc berhasil meluncurkan rencana culas untuk biar bisa dipinjemin mobil dan ada temen yang gantian nyupir #tawaiblis.
Bersama sebuah Ertiga bulu kera hasil malak itu, tepat pukul 21.00 kami berempat berangkat dari Malang dan akan numpang tidur di basecamp kantor yang terletak di Kecamatan Jombang, Jawa Timur.
Pilihan buat ke Jember lewat jalur selatan tiba-tiba jadi mimpi buruk pas kita tau ada pohon super gede yang tumbang ngalangin jalan. Udah tau musim ujan malah lewat daerah gunung-gunung gini. Salah peritungan itu bikin nyesek dan bikin pengen guling-guling gimana gitu. Macet total tengah malam ditambahin hujan rintik-rintik itu berasa jadi pengen makan temen sendiri *eh.
Perjalanan Malang - basecamp yang mestinya cuman 3 jam aja, jadi molor 4,5 jam. Jam 01.30 pagi kami baru bisa rebahan di kasur dan langsung bobo chantique sampe subuh, dan lanjut lagi sampe siang tentunya. Cerita untuk berangkat mantai pagi-pagi butapun lagi-lagi cuman tinggal jadi cita-cita.
***
"Ini bener jalannya nih?" Mas Impron udah mulai sentimen ngeliatin jalan kecil, beraspal rusak, berlubang gede-gede, dan cuman ada mobil kita doang yang lewat. Kanan kiri cuman hamparan sawah seluas-luasnya sawah deh. Ngga ada rumah, gubuk, warung, apalagi mall. Ke-sentimenan Mas Impron makin-makin parah karena tiap papasan ama motor, selalu mereka ngeliatin ke arah mobil kita sambil matanya menyiratkan sebuah pertanyaan besar "kok ono mobil lewat kene?"
Aku cek sekali lagi GPS di handphone cc, "Kalo menurut google yang ini jalannya, Mas."
"Aku pernah ke Papuma, jalannya itu bagus. Aspal mulus, lebar lagi jalannya. Ini kayak jalan mau ke sawah." Mas Impron keukeuh.
"Aku juga pernah ke Papuma sih, Mas. Bagus juga jalannya nggak kek gini." Aku jadi ikutan sentimentil. Ditambah orang-orang yang papasan ama kami, selalu bertema 'kostum sawah'. Memperkuat dugaan kalo ini emang jalanan orang mau ke sawah.
"Nah lo. Makadam." cc ketawa.
| Bukit kecil yang menemani perjalanan ke Papuma |
"Yaudalah Mas, lanjut aja. Tar juga ketemu jalan bagusan." Kataku sambil ikutan ketawa dan tidur-tiduran manja di jok belakang. Nggak peduli muka manyunnya Mas Impron.
Dan benar, sekitar setengah jam setelah ini, kami ketemu sama jalan aspal kecil. Udah mulai banyak kehidupan disini. Hamparan luas sawah masih ada di kanan kiri jalan. Ada beberapa bukit kecil yang disebut gumuk. Yap, Jember emang dikenal dengan kota seribu gumuk. Tapi, karena kebutuhan tanah yang semakin tinggi, beberapa gumuk sering dipangkas habis untuk dijadikan perumahan. Temenku pernah cerita kalau muda-mudi Jember yang masih peduli lingkungan pun akhirnya bikin gerakan SAVE GUMUK untuk menghentikan ambisi developer property menghangusratakan gumuk.
Dan, ini. Apa ini adalah salah satu bagiannya?
| Gumuk yang entah diapain aja sama orang-orang dibawahnya |
Perjalanan ke Papuma ini bikin aku menarik kesimpulan bahwa saat kita menggunakan jasa google maps untuk direction ke suatu tempat, maka google maps dengan sangat baiknya akan mencarikan jalan tercepat, jalur terpendek untuk sampai di tujuan kita. Nggak peduli jalannya kayak apa, gimana modelnya, aspal atau makadam, naik bukit atau lewat dalem goa, pokoknya yang tercepat deh.
Terbukti dengan perjalanan kami saat ini yang akhirnya ketemu juga ama jalan sebenernya buat sampe di Papuma. Emang sih jalan tadi itu potong kompas, cuman jalannya aduhai amazing banget. Kalo nggak saking dapet bonus pemandangan bukit-bukitan, kayaknya aku berenti aja jadi pelanggan google maps dan memilih untuk nanya sama local society.
"Kita ke Payangan dulu. Sore-sorean aja ke Papuma." Aku berlagak bikin itinerary. Padahal masih males aja siang-siang panas bikin tenda dan masak-masakan di pinggir Papuma. Kayak berasa lost in the middle of nowhere. Warung makan masih bejibun banyaknya.
"Asal bagus aja pantainya, kita manut." Kata cc yang udah bawa-bawa kamera dan mau motret sunrise di Papuma besok pagi.
Nggak lengkap kalau ke Papuma nggak pake ke Payangan. Lokasi keduanya deketan banget. Cuman tinggal lurus dikit sebelum belokan ke tugu "Selamat Datang di Pantai Tanjung Papuma". Cuman sekitar lima menit dari situ udah sampe di parkiran Pantai Payangan.
Tiket masuknya?
Gratis.
Yes, This is Payangan Beach
Ada sebuah bukit kecil di Payangan yang bisa dipanjat sampe puncak. Di puncaknya, kita bisa melihat hamparan luas laut dari ketinggian. Tempat ini cocok untuk menikmati senja, cocok banget. Tahun 2009 waktu main kesini, bukitnya masih bersih. Sepi. Jadi momen untuk menikmati senja pun bisa kena banget.
Sayangnya, bukit ini udah penuh vandalisme. Batu-batu bersih yang dulunya dipake pijakan, rasanya ngga seperti sekarang. Udah penuh sama tulisan-tulisan yang seharusnya bisa ditulis pake cara lain. Keindahan alam Payangan pun sekarang sudah dinikmati banyak orang, Alhamdulillah, setidaknya itu menjadi mata pencaharian juga untuk penduduk sekitar. Hanya saja, semoga Payangan nggak akan pernah berubah wajah. Pantai cantik dan bersih itu, semoga masih tetep terjaga.
Ah, sudahlah.
| Ombak Payangan, captured by @chrisarwork |
"Aku dapet foto-foto yang sip banget." Katanya sambil mamerin foto-foto hasil jepretannya. "Coba bawa tripod, aku bisa bikin slowshutter disini."
Puas main ombak, main karang, main poto-potoan, main ati, mainan anak orang #eh, kami pun putar setir dan lanjut ke Papuma.
"Kok bayarnya murah. Eh, tadi lupa bilang ya kalo kita mau ngecamp?" Tanyaku ama Mas Impron yang bagian bayar-bayar tiket masuk.
"Lho, emangnya mesti bilang? Orangnya juga ngga nanya." Jawabnya polos.
"Harusnya bilang, bayar 75 rebu. Etapi disini ada ATM kan?!" Kami mulai sadar kalau belom ambil duit. Cek kantong dan dompet masing-masing, jumlahnya cuman cukup buat beli ikan bakar buat makan siang. "Prasaan kita bukan mahasiswa lagi, kok irit amat yak dompetnya."
Hingga pada akhirnya, keculasan kami berlanjut di tanah Papuma ini. Dari kami yang lupa nggak bilang kalo mau ngecamp, petugas yang nggak nanya, ngga ada yang keliling dari tenda ke tenda untuk meriksa, kamipun akhirnya juga nggak berbesar ati untuk balik ke loket dan bilang kalo mau ngecamp. Ujung-ujungnya pasti mesti keluar lagi ke peradaban untuk cari ATM yang ngga ngerti seberapa jauhnya dari sini.
Hingga pada akhirnya, dengan murahannya kami membongkar tenda dan mendirikannya megah tanpa ijin. #uh.
"Yang penting siapin mental buat di deportasi. Aku udah siapin muka super culun buat pura-pura nggak tau mesti pake ijin dulu kalo mau ngecamp." Kataku sambil mulai mengeluarkan perbekalan masak memasak. Dan sadar bahwa ini adalah sebuah pertaruhan harga diri yang ngga mudah, masak iya aku nggak tau kalo mau nginep di tanah orang mesti permisi dulu, mesti assalamualaikum dulu.
Sumpah, jangan sampe ada yang niru.
| Senja di Pantai Papuma (no filter, no edit) |
Senja!!!
Menikmati senja di tempat seperti ini.
Bertemankan segelas kopi susu panas dan kicauan temen-temen yang ngga kalah serunya dari suara ombak. Meski cuman beralas matras tipis, dan gelas kopi panas yang dibuat dari botol bekas air mineral, akan ada beribu macam perasaan bahagia yang entah darimana datangnya.
"Icik-icik chantique di air yuk."
"Yuk."
Lalu dengan telenovela-nya kami main-main air, ciprat-cipratan, lari-larian, ketawa ketiwi, maju mundur chantique dan terus tenggelem kebawa ombak.
skip.
Semangkok mie instan pun mengawali malam.
Aku dan cc udah nggak sadar bawa-bawa matras menjauhi tenda yang sengaja dibangun di bawah pohon, demi melihat ribuan bintang bak kunang-kunang di atas sana. Hari makin malam, polusi cahaya dari lampu-lampu bumi sudah berkurang jauh. Bintang-bintang dari yang superbesar sampe superkecil terlihat jelas sejelas-jelasnya dari sini. Bikin aku dan cc ngga tahan untuk ngerem di tenda, dan memutuskan untuk tidur di pinggir pantai. Ditemani lagu alam paling merdu bernama ombak, dan beratapkan plafon paling keren seluruh dunia akhirat bernama langit malam.
"Coba lensa tele ku nggak aku jual." cc merutuki keputusannya untuk menjual lensa yang katanya bisa buat motret bintang dan bikin star trail.
Namun pada akhirnya, nggak dibutuhkan kamera, lensa tele ataupun star trail untuk bisa mengabadikan momen ini. Nikmati dengan hati, niscaya semua akan terekam di memori kita sampi mati.
"Ini namanya hotel bintang sejuta."
Kami sepakat menamai tempat ini.
***
Pagi ini kami bangun lebih pagi dari biasanya. Setelah sholat Subuh dengan syahdunya karena masih ditemani lagu alam paling merdu, kami sudah siap-siap di pinggir pantai untuk apa?
Sunrise!
| Captured by @chrisartwork - Pagi di Papuma |
| Captured by @chrisartwork - Sunrise |
Subhanallah, Maha Suci Allah yang menciptakan alam dan seisinya dengan penuh keindahan.
Mau diliat pake mata kanan, mata kiri, sebelah matapun, langit pagi ini begitu magis menyihir setiap mata yang melihat. Lagi-lagi ngga dibutuhkan kamera model ABC, lensa type XYZ dan angle sini sana untuk mengabadikan momen ini. Cukup dengan hati, maka semua akan terekam sampai mati.
Kalau ada yang bilang foto sunrise itu keren, maka yang tertangkap mata pastilah jauh lebih keren dari itu semua. Yang bilang sunrise Papuma adalah sunrise kelas dunia, sumpah dia ngga lebay!
Setelah matahari meninggi, kamipun sepakat untuk mencoba naik bukit Tanjung Papuma. Katanya, dari atas sana kami bisa melihat icon Pantai Papuma yang mirip sama Pulau Merah, Banyuwangi. Cuman bedanya, yang di Pulau Merah adalah bukit, yang disini karang.
Dari puncak bukit ini, kami bisa melihat sebuah karang menjulang tinggi, bersama dengan karang kecil-kecil di bawahnya, lengkap juga dengan ombak super gede-gede yang menghantam-hantam bukit karang dan menghasilkan suatu pemandangan yang bisa bikin orang pingsan saking terpukaunya, dan -
WOW.
| Pemandangan dari puncak bukit Papuma |
| Sisi laut sebelah sono nya bukit Papuma |
| Pantai Papuma, lengkap dengan kapal-kapal nelayannya |
Sudah. Aku nggak bisa nggombal lebih banyak lagi tentang tempat ini.
End.
















