Cerita bermain kali ini aku pengen berbagi pengalaman ketika aku dan kelima temenku, Syahril, Reyhan, Lolok, Didin, dan Tika camping di Ranu Kumbolo.
Sebelum aku ceritain panjang tentang suka-duka kita berenam mendaki Kumbolo, pastinya kalian pada kepengen tahu kan apa itu Ranu Kumbolo.
Baiklah, akan aku jelaskan. Ranu Kumbolo adalah sebuah danau yang terletak di kaki gunung Semeru. Lebih tepatnya ada di jalur pendakian ke Mahameru. Berjarak kira-kira 10km dari Ranu Pane, desa terakhir. Ranu sendiri artinya adalah Danau. Lebih lengkap tentang Ranu Kumbolo, silahkan diintip
disini deh (bloggernya bukannya males nulis panjang, cuma kan memanfaatkan yang sudah ada aja, udah pake foto juga lho itu *halah alesan* :D)
Ngomong-ngomongin tentang camping di gunung. Namanya juga di ketinggian, pasti dingin
toh. dan karena judulnya juga lagi camping, pasti butuh makan. Ranu Kumbolo memang sering dikunjungi, tapi jangan berpikir disana ada
foodcourt yang bisa memenuhi urusan perut. Nah, untuk itu aku
share juga nih barang-barang yang waktu itu kita bawa camping ke Ranu Kumbolo:
1. Tenda yang memenuhi jumlah rombongan
2. Sleeping bag
3. Matras
4. Rain coat
5. Jaket tebel (Perlengkapan untuk menahan dingin kayak syal, topi dan sebagainya bisa dipertimbangin, disesuaikan dengan kondisi masing-masing personal)
6. Celana pendek/panjang
7. Kaos/T-shirt pendek atau panjang
8. Sepatu/sandal tracking (Nggak recommended banget kalo pake kets, apalagi kalo musim hujan)
9. Air minum 2L
10. Headlamp/senter
11. Makanan ringan (Usahakan yang manis-manis)
12. Bahan makanan untuk dimasak disana (beras dan lauk pauknya atau bisa mie instan kalo dirasa sudah cukup mengenyangkan)
13. Kompor paraffin/spiritus (Jangan mengandalkan kayu bakar, bisa jadi mereka berembun dan nggak bisa dibakar)
13. Obat-obatan pribadi (Disesuaikan biasanya sakit apa. Waktu itu yang kita bawa obat-obatan pereda nyeri dan obat alergi)
14. Lain-lain (Kamera, powerbank, handphone)
15. Administrasi untuk pendakian (Materai 6000, fotokopi KTP, surat keterangan sehat dari dokter)
Penampakan ransel dan carier kita saat selesai packing di rumah Reyhan. diantara kita berenam, 2 orang yang bawa carier, yang lain bawa ransel biasa.
.JPG)
Perjalanan dimulai pada hari Sabtu pukul 07.00 pagi. Sehabis sarapan, kita start dari kota Malang menuju Ranu Pane di kabupaten Lumajang. Untuk kesana tentunya kita ngandelin si roda dua bermesin, sebut saja namanya Motor. Rute yang kita pakai adalah lewat Wajak terus ke Poncokusumo, dengan pertimbangan emang lebih deket daripada kita mesti muter ke Pasuruan dan lewat Nongkojajar.
Perjalanan ke Ranu Pane cukup melelahkan menurutku. Bukan karena naik motornya, atau kita mesti ngedorong-dorong motor, bukan. Tapi jalanan yang rusak lumayan dan berlubang dimana-mana bikin kita mesti ekstra hati-hati. Naik motor kayak gitu kan bikin pegel, menurutku. Apalagi kalau sampai turun hujan, nggak ngebayangin deh gimana licin dan beceknya. Untungnya pagi itu cuaca cukup cerah, secerah hatiku #eaa.
Mungkin banyak yang akan bertanya, Gimana kalo pake motor matic? Apa bisa? Jawabannya adalah BISA. Asal ada bensinnya.. karena pasti bakal susah cari bensin eceran di tengah hutan, apalagi pom bensin. Pom bensin terakhir yang kita temui ada di kecamatan Poncokusumo, sekitar 30 km sebelum Ranu Pane.
Bisa aja sebenernya kalo kepengen naik mobil untuk ke Ranu Pane, tetapi pihak TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru) emang ngelarang penggunaan mobil yang tidak 4WD (four wheel drive), ya jalanan nanjak dengan hiasan batu kerikil dan lubang dimana-mana jelas bahaya kalo ditempuh pake mobil biasa.
Ada banyak pertimbangan tentang penggunaan pilihan transportasi sih sebenernya. Ada pilihan untuk kita berhenti di terminal Tumpang (Akses menuju Tumpang cukup mudah kok. Dari stasiun kota Malang atau terminal bus Arjosari ada angkot yang langsung ke terminal Tumpang), terus perjalanan dilanjutin dengan menyewa jeep atau bersama-sama pendaki lain ikut truck. Menyewa jeep memang pilihan paling elit. betapa tidak? Selain kita nggak capek, nggak ikutan nyetir, tinggal duduk ngelamun dan sampe, tentunya menyewaa jeep membutuhkan biaya yang nggak murah dong, sekitar Rp. 400.000,- per jeep sekali jalannya. Mahal nggak? Tergantung kantong masing-masing sih :D
Gimana kalo naik truck? Jelas lebih murah. Harga yang dipatok mungkin memang mahal, Tapi kan bisa dibagi-bagi sama semua personil. 1 truck itu bisa muat sampai 30 orang. Nah, gimana kita bisa dapet 30 orang kalo rombongan kita cuma berlima misalnya, ya bersama-sama pendaki lain itu jawabannya. Kerugiannya, kalo kita ngga datang bareng-bareng pendaki lain jadinya saling tunggu menunggu untuk berangkatnya, bisa terlalu siang sampai Ranu pane. Belum mengurusi administrasi, pendaftaran dan lapor logistic kita. Jadinya, start pendakian malah akan terlalu sore. Selain jadi nggak bisa menikmati pemandangan selama perjalanan ke Ranu Kumbolo, bisa jadi akan kemalaman di jalan dan menurutku agak berbahaya kalau penerangan kita nggak maksimal.
Ada pilihan ketiga, jeep bak terbuka. Biaya sewanya mungkin akan lebih mahal dari truck dan lebih murah dari jeep biasa, tapi mereka biasanya juga baru mau jalan kalau isinya 15 orang. Kalau rombongan ada 15 orang sih, oke. Kalo nunggunya nggak lama-lama juga masih oke. Tapi kalo nunggunya kelamaan, berangkatnya kesiangan dan nyampe RanuPane kesorean. Dengan alasan yang sama, sepertinya mending nggak usah.
Final decision, kita berenam pun jadinya pake jasa si roda dua untuk membawa kita kepada tujuan mulia ini. Murah meriah, ati bungah. Itu kata orang Jawa. Yang berarti, dengan harga murah kita masih bisa bahagia. Gimana nggak bungah? wong sekalian menikmati pemandangan yang disajikan alam pegunungan kok, karena dalam perjalanan ke Ranu Pane ini kita akan melewati pinggiran gunung Bromo dan mendapatkan pemandangan gratis dari taman teletubbies. Dijamin, nggak akan kerasa pegel.
Berangkat pukul 07.00 pagi, kami sampai di Ranu Pane pukul 09.00, mari diabadikan.
Perjalanan kalau cepet seharusnya nggak sampe 2 jam, tapi emang niat kita bawa santai sambil menikmati perjalanan. Sesampainya di Ranu Pane dan memarkir motor kita dengan aman, kita pun mendaftar dan menyerahkan berkas keperluan administrasi (Fotokopi KTP, materai 6000 dan surat keterangan sehat dari dokter). Waktu itu emang ada sedikit kejadian memalukan. Karena disaat Reyhan ngedaftarin administrasi kita, kita berlima bukannya pemanasan layaknya orang yang mau mendaki gunung, tapi malah repot makein sunblock dimana-mana. Bodohnya kita, bisa gitu ya nggak nyadar diperhatiin orang se-pos Ranu Pane. Masak mau mendaki gunung masih sempet-sempetnya takut item, gitu kali ya yang ada di otak mereka.
Sudahlah kita lupakan kejadian memalukan itu.
Setelah beristirahat, meregangkan badan sejenak dan melakukan pemanasan ringan... Berdoa, dimulai!
kita pun mulai melangkah tepat pada pukul 10.30.
Jalur pertama pendakian, jalanan memang menanjak curam. Tapi abisnya itu, datar lagi kok. Jalanan curam itu nggak jarang bikin mental pendaki amatir down, seperti rombongan kita waktu itu. Dari kita berenam, cuma Reyhan aja yang pernah muncak, yang lainnya masih the first. Tika bahkan udah nggak mau lagi ngelanjutin jalan, padahal baru ada di tanjakan pertama. Tapi berkat dorongan moral material dan finansial yang oke dari kita berlima, akhirnya Tika pun bangkit dengan semangat 45 dan 98 untuk melanjutkan perjalanan. MERDEKA!
Perjalanan emang sengaja kita bawa nyantai, Reyhan nge-Lead kita jalan dengan ritme paling pelan. Dia selalu pesen, kalo ada yang capek ya bilang aja, nggak usah maksa. Terserah orang mau berapa jam nempuh perjalanan Ranu Pane-Ranu Kumbolo, berapa jam pun nggak jadi masalah yang penting nyampe. Jangan terlalu banyak minum, minum saja seperlunya. Ngemil boleh asal jangan makanan yang banyak karbohidrat, lebih baik yang banyak glukosa untuk menambah stamina, kira-kira begitu pesannya. Temenku yang sehari-harinya berprofesi dokter dan biasanya keliatan nggak jelas itu, tiba-tiba bisa jadi dewasa juga. wkwkwk, Han han.. lek iling dirimu
1.5 Jam perjalanan pertama emang kita rasain berat banget, ya mungkin karena emang kita belum terbiasa jalan aja kali ya. Pukul 12.00 kita sampai di pos 1. Ini dia penampakan wajah lelah kita.
15 Menit beristirahat, kita lanjutin jalan lagi. Hari mulai mendung, kayaknya emang mau ujan. Kabut tebal membuat udara makin terasa lembab. Walopun begitu, tetep nggak mengurangi keindahan setiap jalur track semeru kok. Dan pada pukul 1
siang hujan deras mulai turun, tepat ketika kita sampai di pos 2.
.JPG)
Aku nggak ngerti ya apa yang bikin beda, hujan seperti turun deres banget, kilat dan petir sayup-sayup kedengeran tapi kita ngerasa disitu gerimis aja. Mungkin karena banyaknya pohon dan tanaman yang ada diatas kepala kita. Yah, bener-bener menguntungkan, karenanya kita jadi nggak basah kuyup. Karena hujan itu, Jalanan mulai becek dan cukup menyiksa. Aku, Syahril dan Lolok sudah diingatkan Reyhan untuk memakai sepatu tracking, tapi karena nggak punya dan nggak kepengen beli, kita tetep keukeuh pake sepatu kets. Ternyata beberapa jalanan licin bener-bener nggak aman buat sepatu kets. Beberapa kali kita terpeleset dan mesti pegangan pada akar pohon disamping kiri kanan biar nggak jatuh. Perjalanan itu benar-benar menyiksa. Iri rasanya ngeliatin ketiga temanku yang lain dengan santainya jalan tanpa takut kepeleset.
Ini lho penampakan salah satu jalan yang licin dan menurun curam. Hujan deres makin memperparah beceknya jalan, bikin kita mati-matian menyeimbangkan tubuh.
.JPG)
.JPG)
Sekitar 1 jam perjalanan, kita sampai di pos 3. Maaf nggak kefoto, saking udah capek dan cuaca hujan. Tapi ini ada foto perjalanan pulang kita di pos 3. Emang lagi ambruk, makanya cuma keliatan atapnya doang.
.JPG)
30 menit beristirahat, lanjut jalan lagi. Rasanya masih males bangun dari duduk, tapi kata Reyhan bisa kemaleman di jalan kalo kelamaan instirahatnya. Tanjakan pertama setelah pos 3 bener-bener curam dan
becek. Hampir aku nggak bisa naik karena sampai tengah jalan, kakiku nggak bisa dipake buat nahan berat tubuh, saking licinnya tanah. walopun aku udah coba merangkak, tetep ketika aku berusaha melepaskan kaki kananku untuk melangkah naik, kaki kiriku merosot turun, begitu seterusnya. Akhirnya, Reyhan yang bersepatu track menarik tubuhku dari atas dan Lolok mendorong tubuhku dari bawah. Aku bener-bener kayak kodok, kaku nggak bisa gerakin apa-apa. Satu kejadian lucu, menggemaskan, dan memalukan yang pernah kualami. Sudahlah, tidak usah diingat lagi masa kelam itu :'(
Dan setelah 1 Jam berjalan, dengdengdeng… Whauuuww! It’s the lake!
Penampakan pertama air danau Ranu Kumbolo.
Rasanya capek-capek langsung ilang begitu lihat air. Kita pun bernyanyi, menari dan berjumpalitan bersama.
Setelah puas melihat kita ber-euforia Tiba-tiba Reyhan nyeletuk “Nggak usah keburu seneng dulu, masih jauh”. wew, ternyata bener. Yang kita liat itu adalah ujung danau Kumbolo, sedangkan untuk kia sampai ke tempat camp, kita mesti muterin pinggiran danau super lebar itu. Dari situ sampai ditempat nge-camp emang masih 1 jam-an jalan, begitu kata Reyhan. Jaranya mungkin masih sekitar 2-3 km.
Tetapi pemandangan yang indah itu nggak bikin kita capek dan nelangsa karena ternyata masih jauh, justru malah bikin kita makin semangat buat pengen cepet nyampe. Pos 4 udah kita lalui tapi kita emang sengaja nggak berhenti karena pengen cepet sampe. Turunan curam juga ada di pas setelah pos 4. Ini dia fotonya.
Ini view waktu perjalanan pulang dari Ranu Kumbolo. kalo perjalanan ke Ranu Kumbolo-nya, tanjakan ini jadinya adalah sebuah turunan curam, licin dan agak berbahaya.
.JPG)
.JPG)
Dan tepat pukul 16.30, setelah melewati perjalanan panjang yang menyenangkan, menggemaskan, lucu dan agak mengesalkan karena licin itu, tepat dalam hitungan 6 jam perjalanan, sampailah kita di Ranu Kumbolo!!!
Kalo ini, Ranu Kumbolo diwaktu pagi, terlihat sunrise perlahan muncul dari balik bukit Kumbolo. Itu keliatannya burem sih emang. Tapi kesalahan ada pada kamera pocketnya, bukan Kumbolo nya. Maklum, nggak ada yang ber-DSLR.
Ada satu tempat yang cukup fenomenal di Ranu Kumbolo, yaitu tanjakan cinta. Katanya sih karena bentuknya yang menyerupai bentuk hati *love* jadi dinamakan begitu, walaupun sebenernya aku juga belum ngerti dimana letak bentuk hatinya. Konon katanya, kalo kita mendaki ke atas puncak tanjakan cinta, dengan terus memikirkan orang yang kita cintai dan tanpa melihat ke bawah, kita akan bisa hidup selamanya dengan orang itu. Entah benar entah tidak, namanya juga mitos. Kalo mau dicoba ya monggo. Walaupun begitu, aku juga ngelakuin ritual ini kok, siapa tau bisa jadi beneran sama mas Rio Dewanto #ups. Namanya juga usaha, min.
berikut penampakan tanjakan cinta.
Tempat nge-camp kita emang dibawah Tanjakan Cinta pas. Orang-orang yang mau ke Mahameru juga harus naik ke puncak Tanjakan Cinta, kemudian turun ke savanna. Mana foto Savanna-nya? Maap sodara, saya nggak sanggup lagi. Nyampe atas Tanjakan cinta *yang lumayan curam ini* nafas udah Senin Kamis.
Dan gambar selanjutnya adalah Ranu Kumbolo dari atas Tanjakan Cinta,
Oh ya, buat kalian yang ingin ke Ranu Kumbolo, jangan lupa bawa kantong plasik untuk bawa balik sampah-sampah kalian turun. Nggak ada ruginya kok ikut ngejaga kebersihan gunung. Kata Reyhan yang emang udah sering ke Ranu Kumbolo, tempat ini makin laama memang makin kotor. Emang sih, sepanjang perjalanan kita sering banget nemu botol-botol minuman atau plastik sampah berserakan mengotori jalan. Jelas mengganggu pemandangan kan?!
Last picture,
Kita berdoa sesaat sebelum perjalanan pulang, Minggu 19 Maret 2013 pukul 10.30 WIB.
dan Sampah yang akan dibawa Reyhan turun. Fyi, itu bukan sampah kita aja. Reyhan sengaja mulung sampah-sampah yang ada disitu dan nggak dibawa turun sama pelakunya. Satu hal kecil dan sepele yang menurut dia sangat penting untuk kelangsungan kebersihan gunung. Salut kita berlima buatmu, Han,
Perjalanan balik emang nggak selelah dan sesusah waktu berangatnya. Jalanan banyak yang menurun, dab kami cuma beristirahat 10 menit an aja di tiap pos. Kami sampai di Ranu Pane pukul 15.30. Perjalanan lebih cepat satu jam.
We are the champion!!
Sore itu kita berasa jadi orang hebat, walopun bisanya masih ke Ranu Kumbolo doang. Agak berlebihan memang, bahkan berlebihan sekali. Dan sore itu pun kita jadi bener-bener kagum Indonesia punya tempat seindah ini. Kepleset dan gedebukan ria di track semeru ngga lantas bikin kita kapok buat kesini lagi. Hal itu juga yang membuat Syahril lantas hormat kepada sang Saka merah putih yang bertengger di tiang bendera pos Ranu Pane. We Love Indonesia.
Sampai berjumpa di acara bermainku selanjutnya :)