I Left My Heart in Banyuwangi
Mungkin itu kalimat yang paling tepat menggambarkan kecintaanku yang tiba-tiba pada kota ini. Bagaimana tidak, sebelumnya hampir tidak pernah terpikir bahwa terdapat beribu pesona alam yang layak menjadikan Banyuwangi disebut-sebut sebagai SURGA JAWA TIMUR YANG TERSEMBUNYI. Dari mulai Taman Nasional, gunung hingga pantai yang nggak pernah aku bayangkan keindahannya sebelumnya.
Semua mungkin pernah mendengar Pantai Plengkung. Sebuah pantai berbentuk G, membuatnya disebut G-Land. Pantai ini tersembunyi di dalam hutan Alas Purwo. Tidak banyak yang pernah kesana, karena akses jalan yang masih terbatas mewajibkan semua pengunjung menggunakan kendaraan khusus, memang tidak selalu sesuai dengan isi kantong para backpacker. Tapi tahukah, bahwa ternyata ombak Pantai Plengkung yang sangat pas untuk para surfer ini hanya ada dua di dunia. Ombak sekeren itu hanya ada di Plengkung dan Hawaii. Keren bukan? Dan tahukah bahwa para penduduk pencari nafkah di Plengkung pun, sudah terbiasa dibayar dengan dollar karena saking banyaknya para turis yang datang kesana. Kebanyakan mereka memang tidak datang dari Banyuwangi, melainkan dari Bali menggunakan boat. Akses jalan menuju Plengkung yang dibiarkan apa adanya oleh pemerintah Banyuwangi bukan tanpa alasan. Semua itu dibuat untuk meminimalisir pencurian kayu dan menjaga ekosistem Alas Purwo.
Kali ini, aku sedang tidak akan menceritakan Plengkung karena aku sendiri belum pernah kesana. Hihihi *Jadi Intro Tadi itu Apaaaa???
Baiklah tidak perlu ada yang emosi. Itu sekedar gambaran betapa banyak orang yang belum sepenuhnya tahu, betapa sebuah kota kecil yang ada di ujung pulau Jawa itu memang layak disebut surga Jawa Timur
Menapaki kawah belerang, berburu blue fire
Sabtu itu tanggal 16 Agustus, pukul 09.00, kala Daihatsu Xenia Mas Edo memasuki halaman parkir rumah Dhanis. Agak telat sih dari waktu yang dijanjikan, maklum Mas Edo memang baru pulang shift malam dari RS Unisma. Melihat mobil mas Edo datang, seketika aku dan kelima temanku langsung memasukkan barang-barang yang akan kami bawa camping ke Ijen. Jujur kala itu kami semua nggak ada yang pernah kesana. Cuman berbekal handphone fully charge dan memastikan paket data kami cukup untuk GPS, jadilah kami berangkat meninggalkan Malang menuju Banyuwangi.
Setelah hampir satu jam bergelut dalam kemacetan kota Malang, lega juga akhirnya ketika mobil kami sudah ada di jalanan memasuki Kabupaten Pasuruan.
Rasanya seperti rekreasi keluarga, mobil penuh dengan bantal dan selimut layaknya berangkat piknik. Lapar mulai datang, maklum kami memang belum sarapan. Tapi kami sepakat akan makan rujak soto di Banyuwangi. Mungkin jam 2 an juga udah nyampe, kata temenku waktu itu
Baiklah, semua nggak sesuai rencana, karena sampai jam 3 sore pun ternyata kami masih ada di Situbondo. Anakonda dalam perut kami mulai mengamuk dan nggak bisa lagi di sumpal makanan basa basi seperti roti dan chiki. Kamipun berhenti di warung yang kebetulan dekat dengan masjid. Setelah makan *yang ternyata harganya murahhh banget* kami sekalian menjamak ta'khir sholat, lalu kami melanjutkan perjalanan.
Seharusnya koordinatnya bener. cuman kok lama banget ya. Kami memang sama-sama ngga mengira perjalanan bakal selama ini.
Tepat pukul 18.30 kami baru bertemu dengan palang bertuliskan "Selamat datang di wisata kawah Ijen"
Nging.. Malang-Ijen ternyata ngga deket saudara. Hampir 10 jam. Udah kayak Malang-Jogja kan.
Brr... Dingin bangeeeettt!!! Pakaian perang segera kami kenakan.
Aku cuman ngga pernah mengira disini akan sedingin ini. Cuaca bulan Agustus yang dingin-dingin sangat dingin ternyata juga berlaku disini. Doble jaket dan kaos kaki rasanya ngga cukup, membuat beberapa wisatawan mulai membuat api unggun.
Tapi bagi kami, yang penting saat itu adalah bikin mie instan untuk menghangatkan lambung. *baca:memangkelaperan
Setelah makan, kami langsung sholat dan sepakat untuk tidur di dalam mobil karena kami memang tidak bawa tenda. Kami hanya bawa matras dan sleeping bag. Rencana sih mau tidur di teras-teras situ, sambil liatin bintang. Bintang emang keliatan bagus banget disini, baguuuuss banget. Langit memang sedang cerah-cerahnya. Tapi sepertinya, Penguin pun bakal kedinginan kalo lama-lama di luar. Ditambah lagi angin berhembus kencang berkali-kali membuat kami ingin segera meringkuk berdesak-desakan di dalam mobil.
Masuk mobil, pakai selimut, tutup rapat pintu.
Set alarm. 03.00
Pukul 23.00. Beberapa kali kami harus mengelap kaca dalam mobil yang mulai basah seperti gelas berisi es, menandakan di luar, cuaca sedang sangat dingin-dinginnya.Seperti kalo dibiarkan, kita bisa kebanjiran embun. Kami mulai tidak bisa tidur, rasanya dingin luar biasa. Aku bener-bener ngerasa aku terjaga semaleman sambil menggigil dibalik sleeping bag di jok belakang. Beberapa kali aku melirik jam tanganku, berharap segera jam 03.00 dan dapat segera berjalan kaki untuk mengusir hawa dingin.
Dan betapa kami melonjak bahagia ketika akhirnya alarm di handphone ku itu berbunyi.
Kami segera bangun dan siap-siap. Pemanasan kecil dan mulai berjalan. Tak perlu ditanyakan sedingin apa, yang jelas kami sudah mulai enggan memikirkannya. Bisa dibilang kami memang kurang persiapan. Kami berpikir bahwa Ijen sama seperti Bromo.
Oh No, jangan sekali-kali bertaruh dengan alam. itulah key learningnya.
Setelah membayar retribusi sebesar Rp. 7.500 per orang, kami mulai menapaki dinginnya alam Gunung Ijen.
Perjalanan malam itu sungguh indah. Jangan coba-coba menengadahkan kepala ke langit, karena akan sangat sulit untuk kembali menunduk *halahLebay
Bulan memang sedang ngga purnama, tapi malam itu sungguh cerah. Bintang-bintang sangat jelas terlihat walaupun dibawah sana kami bisa melihat kelap kelip lampu kota. Langit hitam bersatu dengan gelapnya bumi, kelap kelip bintang bersatu dengan lampu kota. Bisa kau bayangkan bagaimana indahnya? *ahhmendadaklebaylagi
Satu jam berjalan, tiba-tiba kami mendengar beberapa wisatawan ramai diatas sana. Blue fire nya ngga ada, ngga muncul, ngga keliatan
Yahh.. beberapa mungkin kecewa.
Tapi tidak untukku. Aku kesini ngga melulu untuk lihat blue fire, mensyukuri ciptaan Tuhan? Pasti. Menikmati alam? Sudah tentu. Tapi yang lebih dari semua itu, aku bisa bersama-sama dengan sahabatku di sebuah tempat indah, itu yang tak terbayarkan dengan apapun.
Setengah lima pagi, kami sudah ada di puncak Gunung Ijen. 17 Agustus 2014, di ketinggian 2.443 mdpl. Sudah masuk waktu sholat Subuh tentunya. Bisa dibayangkan bagaimana nikmatnya sholat di puncak gunung? Sepertinya nggak perlu aku ceritakan. Silahkan merasakan, toh kenikmatan bisa berbeda untuk beberapa orang #ups
Kami tidak berhenti berdecak kagum dengan pemandangan ini. Ketika langit sudah mulai menyala merah pertanda matahari akan segera menggantikan tugas sang bulan untuk menemani kami di puncak Ijen. Kami memang nggak diatas awan, tapi kebahagiaan kami melebihi atmosfer terluar bumi *nahlebaylagi
Selain bahagia karena langit begitu magis menyihir kami, kami juga sangat bahagia karena kami dapat segera menjemur tangan-tangan kami yang sudah mulai mati rasa di dalam kantong masing-masing. Nah tetep kan, temanya adalah kedinginan.
Taraaa...
Say Hello to this crew!!
Setelah puas berfoto, kami segera turun. Selain karena kami akan melanjutkan ke destinasi selanjutnya, angin mulai berhembus kencang ke arah kami membawa serta asap belerang dan membuat mata kami perih. Just for reminder buatku sendiri kalau kesini lagi, kami ngga akan lupa bawa baju hangat banyak-banyak, sarung tangan tebal, masker tebal dan kacamata tentunya :)
Mau kesini lagi?
Pasti. Jawabku!
Kawah Ijen dengan asap belerangnya. Baunya memang menyengat. Tapi ngga menyurutkan niat para penambang belerang untuk turun, ambil belerang, bawa kembali ke pemukiman. Beratnya sekitar 80 kg sekali angkut, dan dibeli pengepul dengan harga... *ahh, kalian ngga akan pernah ingin tahu betapa murahnya
Pemandangan yang menemani kami ketika menuruni Gunung Ijen
Pukul 07.30. Kami sudah sampai di tempat parkir. Tanpa makan, kami langsung mengajak Mas Edo untuk cuz ke sebuah kecamatan bernama Pesanggaran untuk membuktikan keelokan sebuah pantai bernama Pulau Merah.
Mungkin itu kalimat yang paling tepat menggambarkan kecintaanku yang tiba-tiba pada kota ini. Bagaimana tidak, sebelumnya hampir tidak pernah terpikir bahwa terdapat beribu pesona alam yang layak menjadikan Banyuwangi disebut-sebut sebagai SURGA JAWA TIMUR YANG TERSEMBUNYI. Dari mulai Taman Nasional, gunung hingga pantai yang nggak pernah aku bayangkan keindahannya sebelumnya.
Semua mungkin pernah mendengar Pantai Plengkung. Sebuah pantai berbentuk G, membuatnya disebut G-Land. Pantai ini tersembunyi di dalam hutan Alas Purwo. Tidak banyak yang pernah kesana, karena akses jalan yang masih terbatas mewajibkan semua pengunjung menggunakan kendaraan khusus, memang tidak selalu sesuai dengan isi kantong para backpacker. Tapi tahukah, bahwa ternyata ombak Pantai Plengkung yang sangat pas untuk para surfer ini hanya ada dua di dunia. Ombak sekeren itu hanya ada di Plengkung dan Hawaii. Keren bukan? Dan tahukah bahwa para penduduk pencari nafkah di Plengkung pun, sudah terbiasa dibayar dengan dollar karena saking banyaknya para turis yang datang kesana. Kebanyakan mereka memang tidak datang dari Banyuwangi, melainkan dari Bali menggunakan boat. Akses jalan menuju Plengkung yang dibiarkan apa adanya oleh pemerintah Banyuwangi bukan tanpa alasan. Semua itu dibuat untuk meminimalisir pencurian kayu dan menjaga ekosistem Alas Purwo.
Kali ini, aku sedang tidak akan menceritakan Plengkung karena aku sendiri belum pernah kesana. Hihihi *Jadi Intro Tadi itu Apaaaa???
Baiklah tidak perlu ada yang emosi. Itu sekedar gambaran betapa banyak orang yang belum sepenuhnya tahu, betapa sebuah kota kecil yang ada di ujung pulau Jawa itu memang layak disebut surga Jawa Timur
Menapaki kawah belerang, berburu blue fire
Sabtu itu tanggal 16 Agustus, pukul 09.00, kala Daihatsu Xenia Mas Edo memasuki halaman parkir rumah Dhanis. Agak telat sih dari waktu yang dijanjikan, maklum Mas Edo memang baru pulang shift malam dari RS Unisma. Melihat mobil mas Edo datang, seketika aku dan kelima temanku langsung memasukkan barang-barang yang akan kami bawa camping ke Ijen. Jujur kala itu kami semua nggak ada yang pernah kesana. Cuman berbekal handphone fully charge dan memastikan paket data kami cukup untuk GPS, jadilah kami berangkat meninggalkan Malang menuju Banyuwangi.
Setelah hampir satu jam bergelut dalam kemacetan kota Malang, lega juga akhirnya ketika mobil kami sudah ada di jalanan memasuki Kabupaten Pasuruan.
Rasanya seperti rekreasi keluarga, mobil penuh dengan bantal dan selimut layaknya berangkat piknik. Lapar mulai datang, maklum kami memang belum sarapan. Tapi kami sepakat akan makan rujak soto di Banyuwangi. Mungkin jam 2 an juga udah nyampe, kata temenku waktu itu
Baiklah, semua nggak sesuai rencana, karena sampai jam 3 sore pun ternyata kami masih ada di Situbondo. Anakonda dalam perut kami mulai mengamuk dan nggak bisa lagi di sumpal makanan basa basi seperti roti dan chiki. Kamipun berhenti di warung yang kebetulan dekat dengan masjid. Setelah makan *yang ternyata harganya murahhh banget* kami sekalian menjamak ta'khir sholat, lalu kami melanjutkan perjalanan.
Seharusnya koordinatnya bener. cuman kok lama banget ya. Kami memang sama-sama ngga mengira perjalanan bakal selama ini.
Tepat pukul 18.30 kami baru bertemu dengan palang bertuliskan "Selamat datang di wisata kawah Ijen"
Nging.. Malang-Ijen ternyata ngga deket saudara. Hampir 10 jam. Udah kayak Malang-Jogja kan.
| Tempat parkir Ijen yang super luas, bersih |
Aku cuman ngga pernah mengira disini akan sedingin ini. Cuaca bulan Agustus yang dingin-dingin sangat dingin ternyata juga berlaku disini. Doble jaket dan kaos kaki rasanya ngga cukup, membuat beberapa wisatawan mulai membuat api unggun.
Tapi bagi kami, yang penting saat itu adalah bikin mie instan untuk menghangatkan lambung. *baca:memangkelaperan
Setelah makan, kami langsung sholat dan sepakat untuk tidur di dalam mobil karena kami memang tidak bawa tenda. Kami hanya bawa matras dan sleeping bag. Rencana sih mau tidur di teras-teras situ, sambil liatin bintang. Bintang emang keliatan bagus banget disini, baguuuuss banget. Langit memang sedang cerah-cerahnya. Tapi sepertinya, Penguin pun bakal kedinginan kalo lama-lama di luar. Ditambah lagi angin berhembus kencang berkali-kali membuat kami ingin segera meringkuk berdesak-desakan di dalam mobil.
Masuk mobil, pakai selimut, tutup rapat pintu.
Set alarm. 03.00
Pukul 23.00. Beberapa kali kami harus mengelap kaca dalam mobil yang mulai basah seperti gelas berisi es, menandakan di luar, cuaca sedang sangat dingin-dinginnya.Seperti kalo dibiarkan, kita bisa kebanjiran embun. Kami mulai tidak bisa tidur, rasanya dingin luar biasa. Aku bener-bener ngerasa aku terjaga semaleman sambil menggigil dibalik sleeping bag di jok belakang. Beberapa kali aku melirik jam tanganku, berharap segera jam 03.00 dan dapat segera berjalan kaki untuk mengusir hawa dingin.
Dan betapa kami melonjak bahagia ketika akhirnya alarm di handphone ku itu berbunyi.
Kami segera bangun dan siap-siap. Pemanasan kecil dan mulai berjalan. Tak perlu ditanyakan sedingin apa, yang jelas kami sudah mulai enggan memikirkannya. Bisa dibilang kami memang kurang persiapan. Kami berpikir bahwa Ijen sama seperti Bromo.
Oh No, jangan sekali-kali bertaruh dengan alam. itulah key learningnya.
Setelah membayar retribusi sebesar Rp. 7.500 per orang, kami mulai menapaki dinginnya alam Gunung Ijen.
Perjalanan malam itu sungguh indah. Jangan coba-coba menengadahkan kepala ke langit, karena akan sangat sulit untuk kembali menunduk *halahLebay
Bulan memang sedang ngga purnama, tapi malam itu sungguh cerah. Bintang-bintang sangat jelas terlihat walaupun dibawah sana kami bisa melihat kelap kelip lampu kota. Langit hitam bersatu dengan gelapnya bumi, kelap kelip bintang bersatu dengan lampu kota. Bisa kau bayangkan bagaimana indahnya? *ahhmendadaklebaylagi
Satu jam berjalan, tiba-tiba kami mendengar beberapa wisatawan ramai diatas sana. Blue fire nya ngga ada, ngga muncul, ngga keliatan
Yahh.. beberapa mungkin kecewa.
Tapi tidak untukku. Aku kesini ngga melulu untuk lihat blue fire, mensyukuri ciptaan Tuhan? Pasti. Menikmati alam? Sudah tentu. Tapi yang lebih dari semua itu, aku bisa bersama-sama dengan sahabatku di sebuah tempat indah, itu yang tak terbayarkan dengan apapun.
Setengah lima pagi, kami sudah ada di puncak Gunung Ijen. 17 Agustus 2014, di ketinggian 2.443 mdpl. Sudah masuk waktu sholat Subuh tentunya. Bisa dibayangkan bagaimana nikmatnya sholat di puncak gunung? Sepertinya nggak perlu aku ceritakan. Silahkan merasakan, toh kenikmatan bisa berbeda untuk beberapa orang #ups
| Puncak Ijen menjelang sunrise |
Selain bahagia karena langit begitu magis menyihir kami, kami juga sangat bahagia karena kami dapat segera menjemur tangan-tangan kami yang sudah mulai mati rasa di dalam kantong masing-masing. Nah tetep kan, temanya adalah kedinginan.
Taraaa...
Say Hello to this crew!!
| The Ladies |
Setelah puas berfoto, kami segera turun. Selain karena kami akan melanjutkan ke destinasi selanjutnya, angin mulai berhembus kencang ke arah kami membawa serta asap belerang dan membuat mata kami perih. Just for reminder buatku sendiri kalau kesini lagi, kami ngga akan lupa bawa baju hangat banyak-banyak, sarung tangan tebal, masker tebal dan kacamata tentunya :)
Mau kesini lagi?
Pasti. Jawabku!
| Kawah Ijen, asap belerang |
| Gunung Raung, terlihat dari track Ijen |
Pemandangan yang menemani kami ketika menuruni Gunung Ijen
| Pos Pondok Bunder |
Pukul 07.30. Kami sudah sampai di tempat parkir. Tanpa makan, kami langsung mengajak Mas Edo untuk cuz ke sebuah kecamatan bernama Pesanggaran untuk membuktikan keelokan sebuah pantai bernama Pulau Merah.

