"Perjalanan Mahameru itu bukan sekedar perjalanan alam, namun perjalanan hati"
Setidaknya itulah salah satu kalimat Donny Dhirgantoro yang bisa aku ingat didalam novel 5cm nya. Walaupun aku nggak ngerti bener apa artinya, tapi aku bisa merasakan maksud dari kalimat itu pas aku ke Ranu Kumbolo Mei 2013 lalu. Emang aku nggak pernah sampe puncak Mahameru, Ranu Kumbolo udah cukup bikin merinding, apalagi puncaknya gitu. Nggak bisa dijelaskan lewat kata-kata, tapi dirasain kalo lagi disana. Dan perasaan yang tak dapat diceritakan itu jugalah yang membawa aku, Syahril dan Lolok ngebet banget ke Kumbolo lagi pada pertengahan September ini.
Persiapan kali ini benre-bener kerasa banget ribet dan riwehnya. Yang Mei lalu kita disiap-siapin sama Reyhan, kali ini Reyhannya nggak bisa ikut karena suatu hal penting. Udah gitu Didin sama Tika juga, ahhh sedih banget nggak lengkap kayak trip yang pertama. Tapi sebagai gantinya, ada Haris, Pinto dan Dhanis yang join. Jadi deh kita ganti tim buat Kumbolo trip kali ini.
Kita berenam nggak pada punya tenda dan nggak ada kenalan yang punya tenda. Searching-searching tempat persewaan alat hiking dan camping di Malang, muncullah nama Ciliwung Camp. Alamatnya pun sesuai nama, di Jl.Ciliwung.
Suatu sore yang cerah ceria dengan katana super kocak berwarna merah meriah milik Syahril, kita mendarat ke Ciliwung Camp buat sekedar bertanya-tanya dan booked barang buat acara kita tanggal 14-15 September. Kebetulan tanggal-tanggal seginian adalah high seasonnya pendaki gunung, jadi kalo nggak reservasi dulu takutnya nggak dapet. Mau beli? Aduh over budget cyiinn.
Ternyata harga yang ditawarin tergolong murah menurutku, beberapa item yang aku sewa waktu itu adalah:
1. Tenda 3-4 orang Rp. 30.000/24 jam
2. Carier Rp. 7.500/24 jam
3. Cover Bag Rp. 2.500/24 jam
4. Matras Rp. 2.500/24 jam
5. Sleeping Bag Rp. 7.500/24 jam
6. 1 set Kompor Rp. 40.000.24 jam (Fyi, kompornya yang khusus buat camping, berbahan bakar spirtus dan udah lengkap tertata sama pancinya itu, entah apa namanya)
Sempet kalut, cari-cari rute lain. Dan akhir kata, kita ada ide buat tanya sama mas-mas super ceria di Ciliwung Camp, kan pasti dia banyak customer yang abis dan akan ke Ranu Pane. Dia bilang jalanan emang dibenerin tapi masih bisa dilewatin sama motor.
Tidak ada yang berubah dari Ranu Pane. Makam penduduk yang bernisan warna-warni itu masih tetap jadi pusat perhatianku dan teman-temanku. Keramahan penduduknya juga masih sama dengan aku yang pertama kali kesini. Dari pos Ranu Pane ke gerbang masuk pendakian, kita akan melewati beberapa kebun penduduk. Dan salah satu yang unik dari sini, dua kali aku lewat dan dua kali itu juga selalu ada teriakan dari para penduduk yang sedang berkebun. Entah hanya berteriak "Semangat, Sam!" atau "Hati-hati." sambil melambaikan tangan. Keren nggak tuh penduduk sini? Keren banget kan :D
Ini nih foto kita didepan danau yang keliatan kayak lagi di kawah putih saking tebelnya si kabut.
Tips aja sih dari aku,
ketika kita turun dari pos 4, emang udah keliatan danau, udah dipinggirnya banget malah, udah bisa pegang airnya. dan udah banyak banget yang pilih ngecamp disini saking capeknya.tapi alangkah baiknya kalo tetep mau jalan sedikit lagi aja buat sampai di bagian danau yang dibawah tanjakan cinta. Ini bisa bikin halamn tenda punya pemandangan seindah ini:
Dan paginya, bisa dapet pemandangan tanjakan cinta yang seindah ini.
Di pendakian kedua ini aku sengaja nggak naik tanjakan cinta, karena berdasar info dari pendaki lain yang abis dari atas, savana lagi nggak berbunga. Jadi nggak ada semangat buat naik. Tapi silahkan saja kalo mau membuktikan mitos tanjakan cinta yang terkenal itu. Dan melihat langsung savana dari atas puncak tanjakan cinta.
Akhir kata,
pada jam 10.00 kita pun mulai membongkar tenda dan bersiap akan pulang. Jangan lupa, bawa turun sampahnya ya :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar